Harian Duta Masyarakat (http://dutamasyarakat.com)
Rabu, 21 Januari 2009



Lagi, Ka-Ji Didzolimi




BANGKALAN�Coblosan ulang Pemilihan Gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim) di Kab. 
Bangkalan dan Sampang, Madura, yang digelar Rabu (21/1) pagi ini, diwarnai aksi 
pendzoliman terhadap calon gubernur (cagub) Khofifah Indar Parawansa. Sehari 
menjelang coblosan, beredar selebaran menjelek-jelekkan pasangan cagub Khofifah 
Indar Parawansa- Mudjiono (Ka-Ji). Bahkan polisi berhasil menangkap salah satu 
pelaku penyebaran pamflet bergambar Ka-ji dengan latar belakang gambar salib 
itu. Selebaran sejenis juga pernah beredar saat pilgub putaran kedua di Madura.

Pelaku penyebaran pamflet yang diringkus polisi adalah Saiful Anwar (48). Dari 
tangan warga Jalan Cokro Aminoto Bangkalan itu polisi berhasil menyita barang 
bukti sebanyak 16 pamflet Ka-Ji bergambar salib dan lem.

Saat diperiksa polisi, Saiful mengaku disuruh oleh seseorang menyebarkan 
pamflet black campaign itu dengan imbalan Rp 20 ribu. �Dia dibayar Rp 20 ribu 
untuk menempelkan pamflet-pamflet tersebut,� kata Kasatreskrim Polres 
Bangkalan, Iptu Sulaiman, Selasa (20/1) kemarin.

Dijelaskan Sulaiman, pelaku ditangkap saat menempelkan poster Ka-Ji di depan 
Ponpes Syaichona Cholil, Bangkalan, pukul 02.00 dini hari. �TKP-nya di Ponpes 
KH Abdullah,� katanya.

Dalam kasus ini, lanjut Sulaiman, polisi menjerat pelaku dengan pasal 310 ayat 
2 tentang menista dengan surat. �Ancamannya 1,4 tahun penjara,� ujar Sulaiman.

Selain itu, ada pula selebaran yang seolah-olah berisi pengakuan Khofifah 
tentang kondisi rumah tangganya. Dalam selebaran kampanye hitam itu ditulis 
pernyataan palsu Khofifah yang isinya, �Demi Allah saya tidak pernah merebut 
suami orang...!! karena saya sebagai istri kedua, demi Allah sampai sekarang 
saya tidak pernah menyuruh mas Indar Parawansa menceraikan mbak zul, istri 
pertamanya�.

�Saya berani bersumpah di hadapan kyai-kyai ....!! Demi Allah Cawagub Saya Pak 
Mudjiono bukan orang Kristen. Memang benar bahwa Pak Mudjiono bukan orang 
Islam. Beliau pemeluk agama kejawen/aliran kepercayaan. Pilih Kami! pasangan 
pemimpin yang paling sempurna.....perpaduan Islam dan non-Islam menuju Jatim 
Bangkit�.

Menanggapi hal itu, Khofifah mengatakan, apa yang ada dalam selebaran itu semua 
tidak ada yang benar. Selebaran itu jelas motifnya ingin memojokkan Ka-Ji.

�Untuk sebuah proses demokrasi seperti ini, black campaign seperti itu sangat 
murahan sekali,� ungkapnya.

Sedang soal poster Ka-Ji yang ada gambar salibnya, kata dia, hal itu sudah 
beredar sejak putaran pertama dan kedua lalu. �Poster itu sekarang beredar 
lagi,� ungkapnya.

Karena itu Ketua Umum Muslimat NU ini mengajak semua pihak untuk berpolitik 
secara santun. �Marilah kita bangun demokrasi di Indonesia dengan santun. Mari 
kita tinggalkan cara-cara kotor yang tak mencerdaskan masyarakat,� katanya

Dihubungi terpisah Ketua KPU Bangkalan, Jazuli Nur Lc, mengaku sangat 
menyesalkan adanya black campaign yang mendzolimi Ka-Ji tersebut. �Secara resmi 
Paswas Kabupaten belum memberikan laporan kepada KPU. Tetapi memang ada 
selentingan yang mengatakan kalau ada black campaign saat masa tenang, dan kita 
sangat menyesalkan hal itu, karena bagaimana pun pelanggaran tidak akan lolos 
dari jerat hukum dalam penyelengaraan Pilkada ini, baik oleh penyelenggara 
maupun oleh masing-masing tim sukses pasangan calon,� kata Jazuli.

Untuk itu KPU mengimbau kepada semua pihak agar mematuhi aturan main Pilgub.. 
�Saya mengimbau marilah kita hormati aturan main itu supaya mendapat simpati 
dari masyarakat pemilih,� kata Jazuli. 

Saksi Ditolak

Bukan hanya itu Ka-Ji didzolimi di Bangkalan. Saksi pasangan Khofifah-Mudjiono 
di Baipajung, Tanah Merah, Bangkalan, tanpa alasan jelas tiba-tiba ditolak PPS 
setempat.

�Berdasarkan laporan yang masuk, saksi kami, Ka-Ji di Baipajung Tanah Merah, 
ditolak oleh PPS. Ini aneh, kok ada demokrasi macamnya seperti ini. 

Katanya, karena saksi Ka-Ji gak ada rekomendasi dari kepala desa,� kata 
Khofifah di posko Ka-Ji Bangkalan, Selasa (20/1).

Khofifah menyesalkan praktik-praktik kecurangan seperti itu. Sebab, katanya, 
kasus seperti itu sudah sempat terjadi di Baipajung. �Putaran kedua lalu, ada 
TPS yang suara Ka-Ji kosong dan golput juga kosong di Baipajung,� katanya.

Jika masalah tersebut dibiarkan, katannya, suara Ka-Ji bisa dicuri dengan 
mudah. �Marilah kita bangun demokrasi ini dengan santun. Demokrasi kok begitu. 
Kalau begitu caranya, pasti menimbulkan masalah baru,� ungkapnya.

Money Politics

Ka-Ji juga dikepung money politics di berbagai tempat. Selasa kemarin pukul 
17.00 di Dusun Brembeng Desa Taman Sareh ditemukan Buchori telah membagikan 
uang Rp 10.000 kepada masyarakat untuk nyoblos KarSa. Pukul 16.00, anggota PPS 
atas nama Nahrowi membagikan undangan di Dusun Leknende Desa Banjar Tambulu 
Camplong Sampang disertai foto KarSa. Selasa pukul 20.00, diketahui Subaidi 
dari Diknas Sampang membagikan uang Rp 10.000 di Jl. Suhada Gg 2 Kelurahan 
Dalpenang. 

PPP Laporkan Fuad 

Sementara itu, Partai� Persatuan Pembangunan (PPP) tidak akan tinggal diam atas 
pelanggaran �yang dilakukan Bupati� Bangkalan, Fuad Amin Imron, yang secara 
terang-terangan kampanye untuk KarSa. Bila Pengawas Pemilu Kabupaten Bangkalan 
masih diam, PPP akan melaporkan ke tingkatan yang lebih tinggi, yakni tingkat 
propinsi atau pusat.

�Bupati itu kan aparat pemerintahan. Tentu kita akan melaporkan� ulah pejabat 
negara yang melanggar aturan,� tegas Wakil Sekjen DPP PPP Romy Romahurmuzi saat 
dihubungi Duta, Selasa (20/1) kemarin. 

Romi, yang juga koordinator wilayah Jatim, mengatakan, pada prinsipnya setiap 
pelanggaran terhadap undang-undang tidak boleh dibiarkan. Aparat pemerintah 
harus patuh terhadap kode etik. Setiap kode etik yang dilanggar harus diproses 
sesuai hukum. �Proses hukum harus ditindaklanjuti. Kita akan serius menangani 
pelanggaran ini. Secara persis tim advokasi akan mempelajari kasus tersebut 
secara matang,� imbuhnya.

Dalam kesempatan itu Romy membagi cerita tentang peluang Ka-Ji pada coblosan 
ulang hari ini. Romy menjanjikan akan ada kejutan terhadap hasil pilgub di 2 
kabupaten tersebut. Dia menyebutkan, dari safari yang dilakukannya, Ka-Ji dapat 
membalikkan posisi hingga memenangkan Pilgub Jatim. �Kemungkinan di Bangkalan 
masih kalah. Sementara di Sampang, Ka-Ji peluang menang sangat besar,� paparnya.

Pengamanan Ekstra 

Sementara itu seluruh kelengkapan logistik telah berada di PPS di Bangkalan dan 
Sampang. Termasuk ribuan pasukan pengamanan telah berada di lokasi. Sebanyak 
5.540 personel pasukan gabungan dari Polda bersama Polwil di jajarannya telah 
diturunkan di lokasi-lokasi pemungutan suara. 

Di sampang, sebanyak 3.209 pasukan dikerahkan oleh Polres Sampang, ditambah 
pesonel dari Polda Jatim, dalam rangka mengamankan pelaksanaan Pilgub ulang. 
Ribuan pasukan itu secara bertahap akan melakukan penggeseran pasukan (Serpas), 
untuk menjaga keamanan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang tersebar di 
seluruh wilayah di Kab. Sampang. 

Kapolres Sampang, AKBP Drs H Yudi Sumartono, mengingatkan kepada segenap 
pasukan agar melaksanakan tugas pengamanan dengan baik. Dia menegaskan, bagi 
pasukan yang telah menempati poskonya masing-masing, dilarang meninggalkan 
lokasi TPS dan mangkir dalam tugas. �Jika terbukti melakukan pelanggaran, maka 
akan saya proses dan dikenakan sanksi berat bagi anggota pasukan tersebut,� 
tegas Yudi, ditemui usai memberikan arahan kepada para pasukan. 

�Jadi pasukan harus mengenali anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) dan KPPS 
sesuai tugas pengamanan masing-masing. Karena dalam mengamankan pelaksanaan 
Pilgub ulang tersebut, pasukan harus bisa beradaptasi dengan wilayah tugasnya, 
sehingga akan memberikan contoh dan tauladan yang baik kepada masyarakat 
setempat, � imbaunya. 

Kabag Ops Polres Sampang, Kompol H Danuri SH, menambahkan, kekuatan pasukan 
yang akan di BKO kan mencapai 2.689 personel. Sedangkan kekuatan personel yang 
dimiliki Polres Sampang sebanyak 522 pasukan. �Jadi kalau ditambah dengan BKO, 
maka total pasukan yang diterjunkan dalam pengamanan Pilgub nanti, mencapai 
3.209 personel, � ungkapnya.(in/nor/ful)

 
Harian Duta Masyarakat (http://dutamasyarakat.com)




Rabu, 21 Januari 2009



TPS Pendukung Ka-Ji Sengaja Diacak?




Setelah terungkap banyak pendukung Ka-Ji yang tidak mendapat undangan 
mencoblos, kini giliran modus mengacak Tempat Pemungutan Suara (TPS) terungkap 
ke permukaan.

TPS-tps di basis pendukung Ka-Ji seolah sengaja diacak berjauhan dari tempat 
tinggalnya agar para pendukung Ka-Ji enggan mencoblos.
Pola ini merupakan modus lama yang digunakan pada putaran dua lalu, dimana 
pengacakan ini terindikasi kuat dilakukan secara sistematis. Tujuannya tentu 
agar suara Ka-Ji gembos.

�Kami melihat masih belum ada itikad baik untuk menggelar coblosan ini dengan 
cara jujur. Pengacakan ini jelas terpola dengan rapi agar pendukung Ka-Ji malas 
ke TPS,� kata Sekretaris Tim Pemenangan Ka-Ji, Muhammad Mirdasy.

Dia mencontohkan, di banyak tempat yang menjadi kantong Ka-Ji ada satu keluarga 
berlainan TPS- nya. Selain itu, TPS-nya juga jauh dari tempat tinggal para 
pendukung Ka-Ji.

�Ka-Ji memang benar-benar menghadapi cobaan berat. Ditawur semua pihak yang 
menginginkan kemenangan dengan cara-cara yang tidak benar. Tetapi, atas izin 
Allah, insyaallah Ka-Ji tetap menang,� katanya.

Soal sabotase pengacakan TPs ini juga diungkap tokoh PPP Kecamatan Omben, Bapak 
Usman. Dikatakannya, ada tiga desa di Kecamatan Omben, yakni Desa Temoran, Desa 
Kamondung, dan Desa Gersempal, yang merupakan basis pasangan Ka-Ji yang TPS-nya 
diacak berjauhan.

�Yang paling mencolok ketidakberesan ada di Desa Gersempal. Selain banyak 
masyarakat belum menerima undangan pemilih, juga ada perubahan TPS,� 
katanya.(aya)
 
 
Harian Duta Masyarakat (http://dutamasyarakat.com)




Rabu, 21 Januari 2009



Money Politics Bukan Isapan Jempol




BANGKALAN � Dugaan adanya praktik politik uang (money politics) bukan isapan 
jempol. Menjelang hari H pelaksanaan coblosan ulang, praktik kotor tersebut 
sudah mulai menyebar rata hingga ke tingkat desa.

Lebih tragis lagi, dalam praktik money politics kali ini tidak hanya melibatkan 
kalangan masyarakat biasa, melainkan dilakukan kalangan pejabat dari tingkat RT 
hingga kecamatan.

Dari temuan di lapangan, diperoleh bukti adanya praktik money politics yakni 
dengan cara bagi-bagi uang yang dibungkus dengan amplop warna putih. Di bagian 
muka amplop tersebut, tepatnya sisi pojok kiri tertera secara jelas salah satu 
tokoh berpengaruh pendukung KarSa di kabupaten Bangkalan. Lengkap dengan gambar 
burung garuda.

Adapun isi amplop tersebut bervariatif, sama seperti yang diberitakan Duta 
sebelumnya yakni berkisar Rp 20 ribu-Rp 50 ribu. Itupun masih belum termasuk 
kalangan tokoh berpengaruh, isi amplopnya berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 200 
ribu.

Adanya praktik tersebut dibenarkan Koordinator Relawan Ka-Ji Manteb Jawa Timur, 
Drs H. Choirul Anam. Dia mengatakan, praktik tersebut sudah tidak hanya 
bagi-bagi uang semata, melainkan disertai ajakan untuk mencoblos pasangan KarSa.

�Itu hampir terjadi di seluruh kecamatan yang ada di Bangkalan, bahkan di salah 
satu kecamatan ada yang menyertakan gambar orang nomor satu di Bangkalan,� 
ujarnya.

Soal dimana saja temuan praktik money politic tersebut, pria yang akrab disapa 
Cak Anam ini mengatakan antara lain di Kecamatan Tanjung Bumi, Socah, dan 
Arosbaya. Dia juga menjelaskan, besar kemungkinan di kecamatan lain juga 
terjadi praktek yang sama, termasuk di Kabupaten Sampang.

Ditanya modus yang dipakai dalam praktik money politic? Mantan Ketua PW Ansor 
Jatim itu mengatakan variatif, tergantung dari situasi dan kondisi di lapangan. 
Cuma, menurutnya, biasanya dilakukan tokoh lokal desa dengan dikemas dalam 
acara tertentu seperti silaturrahmi dan pengajian.

Guna menindaklanjuti temuan tersebut, Cak Anam mengatakan akan meminta tim 
pemenangan yang ada di lapangan, untuk segera mengumpulkan barang bukti yang 
kemudian akan ditindaklanjuti dengan melapor ke Panwas, baik itu di tingkat 
kabupaten maupun propinsi.

�Berhubung tindakan seperti ini juga masuk dalam kategori pidana, kami juga 
akan melapor ke pihak kepolisian,� tambahnya.

Namun praktik money politics tersebut dibantah tim pemenangan KarSa, Chusnun 
Hadi. Dia menyatakan secara tegas dan singkat, bahwa pihaknya tidak pernah 
mempunyai kebijakan seperti itu karena hal tersebut jelas melanggar aturan. 

Bila memang praktik seperti itu terjadi di kabupaten Bangkalan, Chusnun 
mensinyalir dilakukan pihak ketiga yang tidak bertanggung jawab. �Yang pasti, 
kami dari tim KarSa tidak mempunyai kebijakan untuk melakukan money politic. 
Itu kan melanggar aturan,� tegasnya.

Terpisah, ketua Panwas Bangkalan, Matur Husyairi mengatakan masih belum 
mengetahui secara pasti temuan tersebut. Dia hanya mengaku dapat informasi dari 
salah satu warga yang ada di Kecamatan Tanjung Bumi, yang menyatakan telah 
terjadi praktek money politic.

Sementara itu, di Desa Baipajung, Kecamatan Tanah Merah, bangkalan, ketua KPPS 
setempat menolak surat mandat dari saksi pasangan Ka-Ji dengan alasan belum ada 
izin dari kepala desa (Kades).

�Ini tidak benar, karena ada upaya menghambat Pemilukada dan jelas-jelas 
bertentangan dengan undang-undang,� ujar Ketua Tim Pemenangan Ka-Ji Bangkalan, 
KH Imam Bukhori Cholil atau yang akrab disapa Ra Imam.(in)
 
 
 
Hujan Duit Rp 50.000-Rp 200.000 dalam Amplop Bergambar Bupati Bangkalan
Harian Surya, Selasa, 20 Januari 2009 | 19:10 WIB | Kategori: HotNews, Madura | 
ShareThis

BANGKALAN | SURYA Online - Pesta demokrasi berkali-kali hanya untuk pilih 
gubernur dan wakilnya, bikin makmur sebagian kecil orang Bangkalan, Madura. 
Menjelang coblosan ulang Pilgub Jatim, beredar amplop bergambar Bupati 
Bangkalan, Fuad Amin, berisi uang pecahan Rp 50.000. Jumlahnya bervariasi, 
antara Rp 50.000 sampai Rp 200.000.
Amplop yang dibagi-bagikan kepada sejumlah tokoh masyarakat oleh aparat 
kecamatan tersebut, disinyalir disertai ajakan untuk mencoblos dan memenangkan 
pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa), jagoan Partai Demokrat dan Partai 
Amanat Nasional.
Pembagian amplop diduga terjadi di sebagian besar wilayah kecamatan di 
Bangkalan. Namun berdasar catatan tim pemenangan Khofifah-Mudjiono, politik 
uang ini terjadi di 10 dari 18 kecamatan se-Bangkalan.
“Amplop yang dibagikan aparat kecamatan itu berisi uang Rp 100.000. Mereka 
berpesan agar memenangkan pasangan KarSa,” ujar penerima uang ketika melapor di 
Posko Pemenangan Ka-Ji Bangkalan, Selasa (20/1/2009).
Atas temuan tersebut, tim KaJi terus mendata laporan dari masyarakat penerima 
uang yang diduga sebagai bentuk politik uang. Hasil pendataan ini akan 
dilaporkan pada Panitia Pengawas (Panwas) Kabupaten Bangkalan.
“Praktek (bagi-bagi uang) ini harus dihentikan karena meracuni dan tidak 
mendidik masyarakat untuk berdemokrasi,” kata Ketua Umum DPP PKNU, Choirul 
Anam, kepada wartawan, di Bangkalan. Menurutnya, tindakan aparat pemerintahan 
yang terlibat dalam proses pilgub ini jelas menyalahi aturan perundangan. Hal 
ini semakin menguatkan indikasi struktur pemerintahan di Bangkalan yang 
berpihak pada salah satu pasangan cagub.
Fuad Amin yang dihubungi SURYA beberapa kali melalui telepon selulernya, belum 
berhasil dikonfirmasi. Meski terdengar nada sambung, namun ia tidak bersedia 
mengangkatnya. Ketua Panwas Bangkalan, Mathur Husairi, kepada SURYA, mengaku 
belum mengetahui soal temuan dugaan politik uang tersebut. Namun jika tim KaJi 
melaporkan temuan tersebut, pihaknya akan menindaklanjuti. “Kami akan memanggil 
para saksi dan pelapor untuk kemudian membawanya dalam rapat pleno. Rapat pleno 
ini yang akan menentukan jenis pelanggaran tersebut,” kata Mathur Husairi.
Sementara itu, juru bicara tim pemenangan KarSa, Khusnun, menyatakan, pihaknya 
tidak pernah menginstruksikan tim sukses untuk bertindak di luar prosedur. 
Namun jika ada pihak-pihak lain yang memanfaatkan situasi ini, itu di luar 
tanggung jawab tim KarSa. “Kami tahu aturan dan prosedur. Tidak mungkin kami 
menginstruksikan tim sukses untuk berbuat tindakan terlarang,” tandas Khusnun. 
arie yoenianto
 
 
 






      

Kirim email ke