http://www.ambonekspres.com/index.php?act=news&newsid=25375
Kamis, 22 Jan 2009, | 2
Baswedan: Dia itu Pro Zionis
Pidato Obama Mengecewakan
Jakarta, AE.- Kalangan Islam tampaknya kecewa dengan pidato pertama
Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama usai diambil sumpahnya.
Pengganti George W. Bush itu sama sekali tidak menyinggung konflik antara
Palestina dan Israel yang menjadi isu utama dunia saat ini.
Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan mengatakan, masyarakat
terutama kalangan muslim terkejut Obama mengakiri pidatonya tanpa menyinggung
krisis Gaza sedikitpun. Bisa dipastikan, dalam beberapa pekan ke depan, tidak
ada perubahan kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat terkait perang di
Timur Tengah tersebut. ''Jangan berharap banyak pada Obama. Dari dulu, saya
melihat sikap dia itu pro-zionis,'' kata Anies Baswedan kemarin (21/1).
Anies melihat Obama ingin menunjukkan pada domestic public di Amerika
Serikat bahwa dia tidak kalah tegas dengan pendahulunya, George W. Bush.
''Nampaknya dia ingin menunjukkan hal tersebut di hari pertama menjabat,'' kata
doktor ilmu politik lulusan Northern Illinois University Amerika Serikat itu.
Dampak dari sikap Obama tersebut, masyarakat dunia terutama kalangan
muslim kecewa. ''Jadi change (perubahan) yang dimaksud Obama berbeda dengan
change yang dimaksud dunia. Dunia membayangkan AS berubah total dan itu tidak
akan terjadi,'' kata Anies.
Obama, kata Anies, lebih mendahulukan isu domestic. Ini karena Amerika
Serikat sedang menghadapi krisis finansial. Sehingga, isu-isu politik luar
negeri dalam pidato Obama kurang mendapat porsi. ''Masyarakat perlu mengoreksi
harapan-harapannya pada sosok Obama,'' kata mantan ketua umum senat mahasiswa
UGM itu.
Secara terpisah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) juga tampak tak
memberikan respek berlebihan terhadap pelantikan Obama. LDII bahkan meminta
agar seluruh ormas Islam di Indonesia mendesak Obama merealisasikan janji-janji
kampanyenya. Salah Satunya adalah agar segera membubarkan penjara Guantanamo.
''Ini kesempatan agar presiden Obama mewujudkan janjinya membubarkan
penjara Guantanamo," kata Ketua DPD LDII Teddy Suratmadji.
Menurut Teddy, pemerintahan Obama harus mewujudkan perdamian di Timur
Tengah utamanya di Jalur Gaza. Walaupun dia juga mengaku sangsi dengan
keseriusan Obama untuk menyelesaikan persoalan di Palestina.
Menurutnya, seluruh ormas Islam seharusnya bersatu untuk membela umat
Islam di negara lain seperti Palestina tidak hanya dengan melakukan aksi
demontrasi tetapi juga memberikan dukungan dana yang dapat disalurkan melalui
lembaga kemanusiaan. ''Aksi demontrasi juga tidak salah tetapi alangkah baiknya
juga mengumpulkan dana dukungan kepada warga Palestina," kata teddy.
Meski demikian,Teddy juga mengingatkan agar pemerintah dan pemimpin
Indonesia untuk tidak berharap terlalu besar terhadap kepemimpinan Obama.
''Tapi apapun alasannya kami harus menagih janji dan tidak terlalu berlebihan
menyambut pelantikannya,''.
BATAL MASUK GAZA
Sementara itu upaya KBRI Mesir untuk mengevakuasi Umi Saudah, PRT 33
tahun yang masih "tertinggal" di Jalur Gaza terhambat. Ini setelah tim kecil
yang dipimpin oleh Muhamad Abdullah, pelaksana protokoler dan konselor KBRI
Mesir, gagal mendapatkan kontak dengan Ramesh, petugas pendamping Umi dari
Suraya Rehabilitation Center.
''Kami tak mau menempuh resiko. Apalagi, kami tiba di sini baru malam
hari,'' kata Abdullah ketika ditemui di Rafah, Selasa (20/1) malam waktu
setempat (atau sekitar Rabu dini hari WIB, Red). Kalau memaksakan masuk, imbuh
Abdullah, maka justru akan menimbulkan resiko yang tak perlu.
Selain faktor malam hari, Abdullah mengatakan pihaknya belum bisa
memastikan di mana lokasi Umi Saudah sendiri. ''Sangat riskan bila malam-malam
masuk dan kemudian harus berkeliling mencari orang yang tak kami ketahui
lokasinya,'' urainya.
Abdullah mengatakan pihaknya akan mencoba keesokan paginya. ''Kalaupun
Ramesh tak bisa dikontak, maka lebih mudah bila mencarinya di siang hari,''
tandas pria yang pernah menjadi diplomat di Ukraina tersebut.
Selanjutnya, Abdullah menjelaskan kronologi kasus Umi tersebut.
Menurutnya, Umi Saudah sendiri awalnya bekerja sebagai PRT di Amman,
Jordania. ''Masuknya resmi, melalui PJTKI. Dari catatan kami, dia masuk pada
tahun 2000,'' ucapnya. Namun, entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja Umi
"menghilang", dan belakangan diketahui bekerja di Jalur Gaza.
Belakangan pada November 2008 lalu, ICRC di Yerusalem mendengar bahwa Umi
Saudah dilaporkan ke polisi karena tuduhan pencurian perhiasan oleh majikannya.
''Kami pun sempat terkejut. Apalagi, rupanya Umi sudah ditahan sejak Agustus
2008 lalu,'' urainya. Dalam pemberitahuannya ICRC berjanji untuk memberikan
contact person yang bisa dihubungi KBRI -contact person itu diberikan pada awal
Desember 2008 lalu.
Sejak itu Abdullah mengatakan pihaknya langsung melakukan kontak-kontak
dengan Umi. Rupanya, Umi menyangkal tuduhan tersebut. Kepada Abdullah, Umi
mengatakan dirinya tak pernah mencuri. Majikannya rupanya jengkel karena Umi
mulai membina hubungan dengan seorang pemuda Arab. ''Kepada kami, Umi
mengatakan kira-kira hal itulah yang menyebabkan majikannya membuat laporan
palsu,'' tandasnya.
Pihak KBRI pun melakukan kontak-kontak dan akhirnya Umi dibebaskan dari
segala tuduhan pada 25 Desember lalu. Petugas KBRI pun segera menyiapkan
dokumen dan evakuasi Umi untuk segera dipulangkan. Namun, pada 27 Desember
lalu, Israel keburu menggempur Jalur Gaza.
Keberadaan Umi terakhir sendiri diketahui masih baik-baik saja sekitar
seminggu lalu. ''Ketika itu, Ramesh mengatakan dirinya melihat Umi di Gaza City
dalam kondisi baik-baik,'' urainya. Kesulitannya, Ramesh tak bisa lagi
memonitor Umi selama 24 jam. Karena status Umi sendiri sudah orang bebas dan
bukan tahanan. ''Semoga saja Umi dalam kondisi baik-baik saja sekarang,''
harapnya.
Pihak KBRI pun berlomba dengan waktu. Karena dalam waktu dekat, Amerika
Serikat juga akan mengevakuasi 800 warga asing di Jalur Gaza dan membawanya ke
Yerusalem. Ini akan menimbulkan masalah tersendiri, mengingat Indonesia dan
Israel tak mempunyai hubungan diplomatik. (ano)