http://www.equator-news.com/index.php?mib=berita.detail&id=8140
Kamis, 29 Januari 2009 , 10:50:00 Kita dan Sejarah Revolusi Lahir Batin Oleh: Isnawita Din, SH dan Syafaruddin Usman, MHD Sejarah lebih dari sekadar orientasi ke masa silam. Ia sebenarnya adalah pelita bagi masa depan. Karena itu, melupakan sejarah berarti hidup menggagap-gagap dalam gelap. Dan melupakan pergulatan pemikiran para pendiri negeri ini berarti bersikap masa bodoh terhadap dasar-dasar eksistensi kita sebagai bangsa. Kemerdekaan Indonesia tidak begitu saja turun dari langit. Kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan seluruh bangsa Indonesia, khususnya para pendekar kemerdekaan dan para pahlawan kusuma bangsa yang telah rela mengorbankan jiwa raganya untuk kemerdekaan. Itulah sebabnya sejarah Indonesia dilukiskan sebagai sejarah berpuluh-puluh pemberontakan terhadap imperialisme dan kolonialisme. Klimaks dari perjuangan tersebut adalah Proklamasi 17 Agustus 1945. Para pendekar kemerdekaan tidak hanya memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia, tetapi juga meletakkan dasar-dasar Indonesia merdeka, yakni Pancasila dan UUD (1945). Mungkin menarik untuk kita renungkan. Bahwa walaupun dalam Penjelasan UUD 45 terdapat istilah revolusi lahir batin dan selama hampir satu dasawarsa -1956-1965-istilah revolusi merupakan konsep sentral dalam wawasan kenegaraan kita, belakangan ini rasanya ingat sajapun kita tidak. Konsep sentral kita dewasa ini bukan lagi revolusi, pasca pembangunan nasional, tetapi reformasi. Dengan demikian, rasanya memang telah terjadi pergeseran besar dalam paradigma yang kita jadikan rujukan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Seluruhnya itu terjadi setelah kita sebagai bangsa mengalami trauma hebat akibat suasana revolusioner yang dipacu sampai titik klimaks yang tertinggi. Dan hampir melumpuhkan seluruh aspek kehidupan nasional. Dapat dikatakan bahwa pembangunan nasional yang dilancarkan sejak tahun 1969 sesungguhnya, diklaim, telah merupakan suatu antitesa dan paradigma revolusioner tersebut. Namun sudah barang tentu adalah mustahil untuk mengabaikan pengaruh revolusi dalam proses pembentukan Negara Nasional kita. Sebagai proses perubahan cepat yang mencakup bidang yang luas dan dalam waktu pendek, revolusi telah melepaskan demikian banyak energi rakyat Indonesia yang terpendam demikian lama akibat represi kolonial. Indonesia pasca revolusi tidak pernah lagi akan serupa Indonesia prarevolusi tentunya. Oleh karena itu adalah wajar sekarang ini kita meluangkan waktu untuk merenungkan kurun paling bergairah dalam kehidupan kebangsaan kita itu. Dalam zaman revolusi lahir batin 1945-1949 seluruh varian wawasan dan ideologi kenegaraan yang tumbuh dan berkembang selama setengah abad sebelumnya itu berinteraksi secara dinamis satu sama lain. Baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah, serta antara tingkat nasional dengan tingkat daerah. Dan tanpa pengecualiannya bagi Kalimantan Barat. Seluruhnya itu berlangsung dalam suasana tidak pasti di mana struktur serta kewibawaan pemerintah masih harus dibangun dan ditegakkan. Selain dari bertarungnya kekuatan-kekuatan di dalam negeri sendiri, bangsa kita harus menghadapi agresi dari luar. Kelihatannya, ada suatu ironi sejarah dalam proses interaksi tersebut. Dalam zaman penjajahan Belanda sebelum Perang Duna II terlihat kenyataan demikian sulitnya kita menyatukan kekuatan untuk menentang kolonialisme dan imperialisma. Walaupun setelah Proklamasi Kemerdekaan juga tidaklah mudah untuk mempersatukan bangsa Indonesia. Namun, justru adanya kekuatan-kekuatan aggressor dari luar ini yang ikut membentuk serta memperkuat solidaritas bangsa Indonesia. Demikianlah pada waktu Belanda melancarkan agresi ke dua bulan Desember 1948, dua orang perdana menteri dari negara bentukan Belanda, yaitu Negara Indonesia Timur dan Negara Pasundan, secara serta merta meletakkan jabatan mereka sebagai protes. Hal itu tidak hanya terlihat pada lapisan kaum terpelajar, tetapi juga di kalangan rakyat biasa. Rakyat di daerah-daerah pendudukan Belanda sendiri, dalam hal ini juga Kalimantan Barat, secara serentak menunjukkan solidaritasnya dengan Republik Indonesia yang diserang. Padahal, Kalimantan Barat pada ketika itu adalah sebuah Daerah Istimewa bentukan Belanda yang tak ubahnya dengan Negara-Negara Boneka lainnya di luar Republik Indonesia yang pada kala ketika itu beribukota di Yogyakarta. Sudah barang tentu protes tersebut amat mengagetkan pihak Belanda. Hal itu mungkin berakar pada latar belakang kultural dan keagamaan kita, yang secara instinktif dan spontan akan berpihak kepada mereka yang dizalimi dan secara serta merta pula menolak mereka yang menzalimi. Peristiwa proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1945, sesungguhnya itu hanya berlangsung satu-dua jam saja. Setelah proklamasi dibacakan, lagu kebangsaan dinyanyikan dan bendera merah putih pun dikibarkan. Sebuah acara sederhana, yang diadakan pada hari ke delapan bulan Ramadhan (1364 Hijriyah), selesai sudah. Tetapi dalam kesederhanaannya, sebuah Negara dari Bangsa, yang telah dibentuk dan ditempa oleh sejarah, telah menyatakan kehadirannya. Meski di belahan Kalimantan Barat, sedikit terlambat diketahui mengenai berita tersebut. Dalam waktu sehari Presiden dan Wakil Presiden dipilih dan UUD (1945) pun ditetapkan. Kemudian, kabinet presidensial dan Komite Nasional Indonesia (Pusat) pun dibentuk. Dan, selanjutnya, inisiatif rakyat dan pemuda berbicara lantang. Dalam dua-tiga minggu revolusi kemerdekaan yang sesungguhnya pun telah bermula. Mula-mula hanya di Jakarta, kemudian menjalar ke kota-kota lain di Jawa. Dan selanjutnya, ke pulau-pulau lain di seluruh persada tanah air. Tak ada pengecualiannya bagi Kalimantan Barat. Maka, sebuah gambaran sejarah yang hampir seragam terhampar di hadapan mata. Segera setelah berita proklamasi diterima, para pemuda mulai bergerak, secara simbolik, mereka mengibarkan bendera merah putih. Dan secara ril, mereka mendirikan barisan perjuangan, menduduki gedung pemerintahan, merampas senjata dan akhirnya menyerahkan roda pemerintahan kepada para pemimpin lokal. Revolusi nasional yang berakar pada kerakyatan telah bermula. Berbagai peristiwa harus dilalui oleh Negara dan Bangsa baru ini sebelum kemerdekaan mendapat pengakuan. Muda dan tanpa pengalaman serta tak terlatih dan tanpa senjata yang memadai, para pencinta dan pejuang kemerdekaan harus menghadapi berbagai tantangan yang datang bertubi-tubi. Dalam masa hampir empat setengah tahun negara baru ini harus menghadapi kenyataan yang getir, kemerdekaan harus dibayar dengan darah dan air mata. Dalam masa ini pula perbedaan pendapat tentang strategi perjuangan bangsa semakin menajam. Tetapi betapapun kelaparan, kegetiran dan penderitaan harus dilalui, namun sebuah harapan tak pernah padam. Nanti, pada suatu saat merah putih akan berkibar di sebuah negara kebangsaan yang berdaulat. Rasanya hanya sekejap dalam sejarah kemanusiaan. Tetapi sebuah periode yang penuh pergolakan dari sebuah bangsa yang harus membela dan mengisi sebuah cita-cita. Demikianlah, pada saat kita mensyukuri rahmat Allah Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah membimbing kita untuk akhirnya memasuki gerbang kemerdekaan, semestinya pulalah kita mengkaji lebih mendalam dinamika perjuangan bangsa pada saat-saat harapan kemerdekaan mengahadapi tantangannya yang sangat hebat. Dan mengenang kembali pengorbanan anak bangsa dalam membela kemerdekaan, serta merenungkan makna dari semua pengorbanan itu. Tentang sejarah revolusi nasional di Kalimantan Barat, baik dari sudut tema maupun daerah, mengingatkan kembali kita akan unsur kerakyatan serta tradisi demokrasi yang telah tumbuh pada saat perjuangan kemerdekaan sedang berada pada puncaknya yang kritis. Karena perjuangan kemerdekaan adalah situasi krisis yang memungkinkan timbulnya berbagai salah pengertian dan perselisihan, maka dasar pilihan yang bisa memupuk semangat perdamaian dengan sejarah (Bewaltigung der Vergangenheit, kata para sejarawan modern Jerman). Penulis: Peminat kajian kontemporer sejarah dan budaya Kalimantan Barat. Sebuah sumbangan pemikiran kepada penyelenggara tatanan bangsa Indonesia di Kalimantan Barat
