Celoteh Wilson Lalengke - Kekuatan Media Massa = Kekuatan Tuhan? 
Oleh : Wilson Lalengke
Kamis, 29 Januari 2009 04:19 
 
Sumber: 
http://www.pewarta-indonesia.com/index.php?option=com_content&view=article&id=42:celoteh-wilson-lalengke-kekuatan-media-massa-kekuatan-tuhan&catid=10:opini&Itemid=34
 
Pewarta-Indonesia, “Siapa menguasai informasi dia menguasai dunia”. Hampir 
semua orang yang mendengar ungkapan tersebut percaya akan kebenarannya. Dan ini 
memang bukan omong kosong, realitas telah memberikan bukti di sepanjang sejarah 
manusia. Seseorang yang memiliki informasi selalu memenangkan (baca: menguasai) 
setiap kesempatan yang ada. Tidak sulit untuk dipahami mengapa pelajar-pelajar 
di luar negeri, terutama yang dibiayai oleh program beasiswa pemerintah maupun 
organisasi pemberi beasiswa, didominasi oleh anak-anak dari Jakarta. Bilapun 
terdapat mereka dari luar daerah, paling tidak hampir dipastikan mereka adalah 
dari kota-kota besar di Jawa, dan sebagian terkecil lagi dari luar daerah. Hal 
ini disebabkan oleh tingginya disparitas atau perbedaan tingkat penyebaran 
informasi antara Jakarta (termasuk kota-kota besar) dengan daerah lain di 
Indonesia. Jakarta adalah pusat hampir semua informasi dalam negeri di 
Indonesia. Perbedaan ini secara
 sadar atau tidak telah menciptakan “perbedaan hak” mendapatkan kesempatan 
belajar melalui beasiswa antara masyarakat ibukota dengan daerah-daerah di 
nusantara.

Paling tidak ada dua unsur utama yang dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa 
perbedaan akses informasi itu menyebabkan “perbedaan hak” bisa terjadi. 
Pertama, momentum mendapatkan informasi. Rentang waktu diterimanya sebuah 
informasi yang berbeda antara masyarakat Jakarta dengan mereka yang berdiam di 
daerah menyebabkan pemilik informasi tercepat yang notabene berdomisili di 
Jakarta mendapat “hak” lebih cepat yang memungkinkan dia mempunyai peluang 
lebih besar dibandingkan dengan mereka yang mendapatkan informasi terkemudian. 
Kedua, jarak akses antara penerima informasi dengan sumber informasi. Semakin 
dekat seseorang dengan sumber informasi maka dia akan menguasai informasi itu 
lebih utuh, akurat dan tepat waktu yang pada gilirannya akan memberinya ruang 
yang cukup untuk mempersiapkan diri mengantisipasi peluang-peluang yang 
tersedia. Sebagai pusat informasi nasional, masyarakat Jakarta sangat 
diuntungkan dan akhirnya lebih menguasai
 kesempatan-kesempatan untuk maju dan berkembang, tidak hanya di bidang 
pendidikan seperti ilustrasi di atas, tetapi juga di hampir semua sektor hidup 
kemanusiaan dan kenegaraan kita.

Peran informasi, sesederhana apapun bentuk dan sistem informasi itu adanya, 
tidak pelak merupakan penentu keberhasilan usaha apapun yang dilakukan setiap 
orang. Kemenangan dan kegagalan dalam sebuah peperangan amat ditentukan oleh 
kehandalan agen spionase dan inteligen yang tugas utamanya mengumpulkan 
informasi dari musuh masing-masing pihak yang bertikai. Kemajuan penjualan 
produk sebuah perusahaan, yang menjadi tumpuan mati-hidupnya perusahaan itu, 
sangat tergantung kepada peran promosi dan iklan yang tidak lain berisi 
informasi tentang produk dan proses menginformasikannya kepada calon konsumen. 
Keberhasilan pendidikan tiada terlepas dari kualitas informasi dan metode 
transformasi informasi tentang ilmu pengetahuan antara pengajar dengan 
pembelajar di lembaga-lembaga pendidikan. Bahkan keberhasilan pertanian di 
masyarakat tradisional di jaman pra-sejarah – masyarakat buta huruf – juga 
ditentukan oleh ketersediaan informasi yang umumnya didapatkan
 dari tanda-tanda alam seperti bintang, arah angin, bunga tumbuhan tertentu 
hingga suara dan gerak khusus binatang sekitar. Menurut penelitian terbaru di 
China, bahkan bencana alam dapat diantisipasi melalui informasi berupa 
sinyal-sinyal khusus yang diberikan oleh ular.

Diera moderen yang penuh kompleksitas saat ini, peran informasi justru tidak 
dapat diabaikan sama sekali. Informasi adalah hidup manusia itu sendiri. 
Merasuk dan menentukan segalanya di bidang apapun jua. Seiring dengan 
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sistem transformasi atau lalu 
lintas informasi juga berkembang, berubah, menyesuaikan diri dengan situasi dan 
tuntutan kebutuhan zamannya. Dahulu kala masyarakat hanya mengandalkan berita 
dari orang per orang melalui proses verbal, suara dari mulut ke mulut, dan 
kemudian berkembang kepada bentuk tulis dan baca. Pada mulanya manusia hanya 
mampu saling berkomunikasi antar individu satu dengan seorang individu lain, 
sementara saat ini seseorang bisa menyampaikan informasi kepada banyak orang 
bahkan tiada terhitung jumlah penerima informasinya. Dalam hal sistim 
pertukaran informasi seperti terakhir ini, dari satu pihak kepada banyak 
orang/pihak, manusia membutuhkan wadah khusus yang dinamakan
 “media massa”.

Sebagai pilar utama penghimpun dan penyampai berbagai informasi, media massa 
beroleh tempat yang maha tinggi dalam konstelasi interaksi kehidupan manusia, 
bangsa, negara, dan antar negara di tingkat internasional. Bagaimana tidak, 
media massa telah menjadi rumah produksi bagi menghasilkan informasi (termasuk 
data-data) yang akan didistribusikan bagi warga masyarakat banyak sebagai 
konsumen berbagai informasi itu. Oleh karennya bukan suatu yang aneh jika 
sebahagian terbesar orang percaya bahwa takdir manusia sesungguhnya ditentukan 
oleh media massa. Sukes dan bangkrutnya seorang pengusaha, misalnya, dapat 
dikendalikan oleh keinginan media massa. Kasus mantan pimpinan Bank Dunia dan 
British Petroleum, Paul Wolfowitz dan Edmund John Philip Browne, hanya dua 
kasus yang terjadi pertengahan tahun lalu sebagai contoh saja. Kejatuhan tragis 
mereka adalah sukses besar hasil kerja media yang telah mengekspos berbagai 
informasi tentang skandal yang melingkupi
 kehidupan keduanya. Padahal kualifikasi mereka sebagai pejabat professional 
sangat sulit dicari bandingannya, mereka memiliki reputasi kerja terbaik di 
bidangnya masing-masing, cerdas, disiplin dan disegani di tingkat dunia. Tapi 
semua itu tidak bermakna sama sekali di tangan media massa.

Di bidang politik dan pemerintahan negara, peran dan kekuatan media massa tidak 
berbeda, bahkan cenderung lebih berkuasa. Bila kita sering mendengar slogan 
“politik adalah panglima” atau “hukum adalah panglima”, maka semua itu amat 
diragukan kebenarannya. Yang banyak orang setuju justru “media massa adalah 
raja”, dan bahkan lebih ekstrim lagi: “media massa adalah hukum”. Lihat saja 
buktinya bertebaran di mana-mana. Media massa dapat menentukan siapa yang harus 
jadi presiden, siapa bakal gubernur dan bupati, bahkan kemana arwah Suharto 
setelah wafat. Media massa yang menentukan mati hidupnya Tibo, cs serta Amrosi, 
dan kawan-kawan. Tidak sukar sebenarnya menduga mengapa proses penyelesaian 
masalah bencana Lumpur Lapindo di Sidoarjo itu bisa berlarut-larut dan bahkan 
sangat mungkin tidak akan pernah selesai. Penyebab utamanya adalah karena media 
massa tidak berpihak kepada para korban, rakyat kecil yang tidak memiliki 
apa-apa untuk
 “menjamu” para pemilik dan pekerja media massa mainstream nasional. Akibatnya, 
berita-berita tentang persoalan Lapindo hanya sebatas basa-basi, laporan 
pandangan mata, kutip pendapat sana-sini, dan seterusnya, bahkan cenderung 
mengelabui masyarakat pengonsumsi informasi yang disajikan.

Bila dicermati dengan teliti, sesungguhnya perubahan-perubahan besar dan 
mendasar yang terjadi sepanjang sejarah-sejarah dunia, dan juga Indonesia 
sebagai sebuah negara, justru boleh berlangsung karena kerja media massa. 
Perjuangan kemerdekaan dan keberhasilan mempertahankannya tidak lain merupakan 
buah dari selebaran dan surat kabar gelap yang digencarkan oleh para tokoh 
perintis kemerdekaan waktu itu. Turunnya Soekarno dari tampuk pemerintahan di 
pertengahan dekade 1960-an dan menaikkan Soeharto, pada hakekatnya bukan 
pekerjaan gerakan pemuda dan mahasiswa. Demikian juga peristiwa lengsernya 
Soeharto di pertengahan tahun 1998, yang oleh hampir semua kalangan dianggap 
sebagai mbah koruptor yang bakal melegenda sepanjang masa, tidaklah pas untuk 
dikatakan sebagai hasil perjuangan mahasiswa dan pemuda Indonesia. Peran mereka 
secara kasat mata dalam setiap epilog sejarah bangsa memang benar adanya. 
Tetapi sesungguhnya, aksi-aksi mereka (pemuda dan
 mahasiswa) dengan turun ke jalan hanyalah sebuah kekuatan semu sebagai hasil 
ciptaan media massa. Dengan lain kata, pemuda dan mahasiswa tidak lebih dari 
bidak-bidak catur media massa yang menjadi salah satu komponen bagi permainan 
media informasi saja. Kehandalan dan kelihaian media massa sebagai mesin 
produksi yang menghasilkan ramuan informasi yang jitu, siap saji dan disuapkan 
kepada masyarakat, inilah sebenarnya kekuatan maha besar yang membuat para 
penguasa itu menggelepar tak berdaya. Kasus Yahya Zaini, politisi kuat dari 
partai kuat, Partai Golkar, harus “menangis-meradang” akibat skandal 
honeymoon-nya dengan Maria Eva yang dipreteli media massa. Demikianlah, 
Napoleon Bonaparte selalu terbirit-birit menghilang bila melihat jurnalis 
mendekatinya.

Lebih jauh, bila manusia mau jujur mengakuinya, sesungguhnya para nabi atau 
tokoh sentral agama-agama yang ada, dan yang pernah ada, di dunia ini bisa 
terkenal hingga ke ujung-ujung dunia dan “ke Negeri China”, tidak terlepas dari 
peran media massa. Yesus-nya kaum Kristiani atau diakui sebagai Nabi Isa oleh 
kalangan Islam bukanlah siapa-siapa pada awalnya. Ia hanyalah seorang anak 
tukang kayu yang miskin. Dan bahkan banyak orang percaya bahwa ia hanya seorang 
manusia “kurang waras” atau mungkin seorang anak yang memiliki IQ di atas 
rata-rata, atau semacam anak indigo yang dikenal bertebaran di mana-mana saat 
ini. Namun, kehadiran Yesus kemudian mulai merambah ranah pengetahuan manusia 
di seputaran Timur Tengah dan daerah Balkan sekitar 3 tahun setelah ia wafat. 
Ketenarannya itu merupakan hasil kerja media massa yang dipromosikan dengan 
ungkapan “kabar gembira” melalui surat-surat Paulus, para penginjil, dan 
kemudian secara massal melalui
 kitab sucinya orang Kristen, Alkitab. Alkitab, yang sering diartikan sebagai 
kitab (buku) di atas segala kitab, tidak lain merupakan media massa yang telah 
menjadi mesin informasi tentang Yesus.

Seperti halnya dengan ketenaran Yesus, nabinya kaum muslim, nabi Muhammad, juga 
sama dan sebangun, terkenal melalui jalur media massa yakni Al-Quran. Bukankah 
Al-Quran dapat diartikan quran di atas segala quran? Kata “quran” adalah bahasa 
Arab yang asal katanya “kara’a”, yang berarti “dia membaca” atau “dia 
mengatakan”. Kata quran ini juga merepresentasikan kata “keryana”, yang artinya 
“catatan bacaan” atau bahan pelajaran. Kata quran inilah yang diadopsi masuk ke 
dalam perbendaharaan bahasa Indonesia menjadi “koran”. Secara harfiah, koran 
tidak lain adalah surat kabar. Surat kabar adalah salah satu bentuk real media 
massa yang isinya berupa informasi hasil olahan pengelola surat kabar. Dengan 
pemahaman ini, dapat dibangun asumsi bahwa kebudayaan Islam yang terbangun 
sejak awal hingga kini tidak lain merupakan hasil bentukan media massa nabi 
Muhammad yang disebut Al-Quran.

Media massa Alkitab dan Al-Quran telah menentukan kedua figur itu untuk menjadi 
nabi, pemimpin, panutan, idola, juru selamat, bahkan menjadi Tuhan. Seandainya 
Alkitab dan Al-Quran menceritakan tokoh Yesus dan Muhammad sebagai iblis, 
kuntilanak, atau genderuwo, maka akan seperti itulah wajah dan sosok keduanya. 
Sama seperti almarhumah Lady Diana yang jadi legenda calon permaisuri pujaan di 
seantero dunia akibat pemberitaan media massa tentangnya. Padahal ia tidak 
lebih dari seorang wanita binal, berpacaran sana-sini semasa hidupnya dengan 
alasan kesepian semenjak berpisah dengan suaminya, Pangeran Charles, pewaris 
tahta kerajaan Inggris. Sesungguhnya media massa, dalam bentuk apapun, 
dimanapun, dan kapanpun eksisnya media massa itu, pada hakekatnya merupakan 
media informasi yang mewarisi kekuatan Tuhan. Dan olehnya, hidup dan kehidupan 
manusia sepanjang sejarahnya ditentukan oleh media massa.***

Catatan:
1. Artikel ini pernah dimuat di harian online KabarIndonesia;
2. Sumber image: http://blogswork.wordpress.com/2007/03/


Anda punya berita, artikel, foto, atau video? Publikasikan di sini
Kontak Redaksi di

 \n 
 [email protected]


my personal room at http://saintlover.blogsome.com
   


      

Kirim email ke