http://202.169.46.231/spnews/News/2009/02/01/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Cegah Kanker Leher Rahim dengan Vaksin

Wajah putih Katrida (44) terlihat pucat pasi. Tubuhnya lemah terbaring di 
tempat tidur dengan beberapa selang medis melilit. Ibu satu anak ini tidak 
mampu menggerakkan tubuhnya. Meski bibirnya kering, dia mencoba tersenyum 
sambil menyodorkan tangan kanannya yang tinggal kulit membungkus tulang ketika 
SP menyalaminya, di ruang perawatan pasien kanker di Rumah Sakit (RS) Dharmais, 
Jakarta, Kamis (29/01). 

Ditemani sang suami, Supriyanto (33), Katrida mengisahkan, awalnya keluar darah 
dari vagina setiap kali berhubungan suami istri. Dia mengakui, mereka 
mengabaikannya dan tidak berpikir untuk memeriksakan diri. 

Saat memeriksakan kandungannya yang berusia dua bulan di RS Koja, barulah dia 
sadar bahwa dirinya telah menderita kanker serviks setelah ditunjukkan hasilnya 
oleh dokter. Saat itu kata dokter belum bisa dilakukan tindakan medis, karena 
alasan keselamatan janin, sehingga rencana akan dioperasi sekaligus saat 
melahirkan. Namun sayang, mantan guru SMP swasta ini melahirkan normal dan 
premature. Bayinya keluar tapi kankernya tetap ada, hingga harus dirawat di RS 
Dharmais. 


Pembunuh Nomor Satu 

Saat ini, kanker serviks atau biasa disebut kanker leher rahim merupakan 
pembunuh nomor satu pada perempuan setelah kanker payudara. Setiap harinya 
terjadi sekitar 40-45 kasus, 20-25 di antaranya diperkirakan mengalami 
kematian. 

Sekitar 80 persen penderitanya berada di Pulau Jawa dan Bali. Sementara di 
dunia setiap menitnya seorang perempuan meninggal, akibat kanker ganas ini. 

Spesialis Obstetri Ginekologi, Prof dr Farid Aziz mengatakan, sebenarnya kanker 
ini dapat dicegah. Namun, karena umumnya pasien yang datang memeriksakan diri 
sudah pada stadium lanjut, sehingga terlambat diobati akhirnya menyebabkan 
kematian. 

Sekitar 98 persen orang terkena serviks pasti mengalami kematian. "Awal terkena 
virus serviks itu tidak ada gejala, gejala itu muncul ketika sudah serviks. 
Umumnya mereka memeriksakan diri setelah ada gejala seperti keluar darah, 
keputihan, dan berbau serta susah buang air kecil," ujarnya. 

Serviks umumnya menyerang perempuan usia produktif, yakni 30-50 tahun, pada 
saat mereka mempunyai tanggung jawab ekonomi sosial terhadap anak dan anggota 
keluarganya. Angka kematian akibat serviks di negara berkembang termasuk 
Indonesia lebih tinggi ketimbang di negara maju, yakni sebesar 83 persen. 

Faktor ekonomi dan minimnya akses pencegahan merupakan faktor pendukung 
tingginya angka tersebut. "Berbeda dengan negara maju seperti Amerika yang 
sudah bisa mencegah risiko lebih dini sehingga kasusnya menurun. Negara 
berkembang seperti Indonesia, memang masih kurang pencegahannya sehingga jumlah 
kasus ada di urutan pertama," jelasnya. 

Sekali lagi, serviks adalah jenis kanker yang bisa dicegah dan diobati. Deteksi 
dini merupakan pencegahan sekunder yang sangat penting dilakukan oleh setiap 
wanita dewasa atau sudah melakukan hubungan seks, dengan menggunakan Pap Smear 
atau infeksi visual asetat (IVA). 

Pap Smear adalah pemeriksaan usapan mulut rahim untuk melihat sel-sel mulut 
rahim di bawah mikroskop. Pap Smear ini diperlukan untuk dapat mendeteksi lebih 
dini perubahan atau abnormalitas dalam serviks sebelum sel-sel tersebut menjadi 
kanker. 

Meskipun Pap Smear mudah diakses, tersedia di rumah sakit di seluruh Indonesia 
dengan harga terjangkau, ternyata masih banyak perempuan yang belum mau 
melakukannya. Kecenderungan malu diperiksa atau takut akan divonis menderita 
panyakit ganas dari hasil pemeriksaan masih menjadi kendala tersendiri. 

"Padahal kalau diperiksa dini, lebih cepat mengetahui penyakitnya maka lebih 
cepat diobati sehingga risiko kematian itu bisa dikurangi," katanya. 


Pencegahan Primer 

Namun, Pap Smear sebagai pencegahan sekunder tidaklah cukup. National Cancer 
Institute menyebutkan risiko terkena kanker serviks lima kali lebih tinggi pada 
perempuan yang tidak dideteksi, tetapi tidak dapat mencegah infeksi Human 
Papilloma Virus (HPV). Ahli Penyakit Dalam dan Konsultan Alergi Imunologi dari 
FKUI Prof Samsuridjal Djauzi, mengatakan vaksinasi sebagai pencegahan primer 
disertai dengan deteksi dini mencegah risiko kanker serviks lebih efektif. 

Vaksinasi kata Samsuridjal, dibutuhkan untuk meningkatkan kekebalan tubuh atau 
antibodi sebagai perlindungan utama terhadap infeksi Human Papilloma Virus 
(HPV). Vaksin yang dibutuhkan adalah yang dapat memberikan perlindungan yang 
luas untuk tipe HPV penyebab kanker (onkogenik) dengan masa proteksi paling 
lama. 

Vaksin kanker serviks merupakan penemuan terkini yang berkhasiat melindungi 
tubuh dari HPV tipe 16 dan 18, yang secara bersamaan 71 persen menyebabkan 
kanker serviks. Selain itu, vaksin juga memberikan perlindungan silang terhadap 
infeksi HPV tipe lain, seperti 45, 31 dan 52 yang turut menjadi penyebab 
kanker. 

Uji klinis menunjukkan masa proteksi vaksin HPV hingga sekarang lebih dari enam 
tahun. Sevariks dan Gendersil adalah nama vaksin yang saat ini sudah bisa 
diakses oleh wanita Indonesia di berbagai rumah sakit atau dokter yang ada di 
seluruh daerah. Kedua jenis vaksin ini terbukti mempunyai antibodi yang tinggi, 
sehingga bisa menangkal virus yang masuk. 

"Efektivitas vaksinasi bisa mencapai 100 persen mengurangi risiko kanker 
serviks. Hingga saat ini vaksin merupakan satu-satunya cara terbaik mencegah 
kanker serviks baik pada usia remaja maupun dewasa," tambahnya. 

Secara ideal kata Samsuridjal, vaksin ini sebaiknya diberikan sedini mungkin 
sebelum melakukan hubungan seksual pertama, namun juga dapat diberikan pada 
perempuan dewasa muda mulai usia 10 tahun. Dapat diberikan dalam tiga tahap, 
yakni bulan ke 0, 1/ 2, dan 6, yaitu vaksin I pada Januari, vaksin II pada 
bulan Februari, dan vaksin III pada Juli. 

Sejauh ini, efek samping yang ditimbulkan lebih bersifat lokal, yakni nyeri 
sekitar tempat penyuntikan (injeksi). Jika seorang yang sudah didiagnosis 
terkena virus maka diobati dulu kemudian diberikan vaksin untuk mencegah 
infeksi berikutnya yang kemungkinan ada. Wanita hamil tidak boleh diberikan 
vaksin, kecuali yang sudah menyusui. 

Jika ditunda, setiap perempuan berisiko tinggi terkena infeksi HPV penyebab 
kanker serviks dalam masa hidupnya tanpa memandang usia dan gaya hidup. Menunda 
vaksin berarti menghilangkan kesempatan untuk melindungi diri dan orang-orang 
yang kita cintai dari ancaman kanker. [Dina Manafe] 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 30/1/09 

Kirim email ke