Refleksi: Sebetulnya di Papua Barat berhak diberikan pendidikan gratis muali dari SD sampai dengan pendidikan tinggi (universitas), karena kalau dibandingkan jumlah penduduk dan hasil pendapatan Papua dari kekayaan alamnya yang diexploatasi adalah lebih dari cukup untuk kebutuhan kemajuan mereka. Sayangnya rakyat Papua Barat tidak dapat menikmati hasil kekayaan tanah leluhur mereka sebagaimana mestinya.
http://id.christianpost.com/dbase.php?cat=church&id=879 Gereja Mengharapkan Pendidikan Gratis di Timika Dapat Terealisasi Wednesday, Jan. 28, 2009 Posted: 5:30:00PM PST Timika - Pendidikan dan kesehatan merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi semua masyarakat terutama sekali di daerah Timika, Papua dimana sarana pendidikan dan kesehatan masyarakatnya masih sangat minim. Tak pelak tatkala Pemerintah daerah setempat mengeluarkan kebijakan untuk membebaskan biaya pendidikan dan kesehatan warga Timika mendapat respon positif dari Pemimpin Gereja Katolik Keuskupan Timika, Papua, Uskup Mgr John Philip Saklil Pr. Uskup Saklil mengungkapkan bahwa konsep pendidikan dan kesehatan gratis yang dicanangkan tersebut sangat baik, namun sejauh ini masih belum mampu terealisasi oleh pemerintah daerah. Dia berharap agar kebijakan tersebut dapat diterapkan dengan baik untuk dapat mengangkat kualitas sumber daya manusia Timika. Lebih lanjut dikatakannya bahwa masalah pendidikan dan kesehatan terutama di wilayah pedalaman dan pesisir Mimika perlu mendapat perhatian serius dari Pemkab setempat mengingat hampir sebagian besar penduduk asli bermukim di kedua wilayah tersebut. Dilain pihak, Uskup Saklil juga mengkritisi kebijakan pemerintah yang selama ini memberikan bantuan kepada sekolah-sekolah melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) baik BOS Pusat maupun BOS Daerah yang mana faktanya yayasan yang mengelola sekolah-sekolah tersebut tidak pernah menerima bantuan. Selama ini yang menjadi penyebab lumpuhnya pendidikan dasar di Timika disebabkan oleh berbagai hal, seperti minimnya tenaga pengajar, guru yang berkeliaran di kota dan tidak mau datang ke tempat tugas, sarana dan prasarana seperti gedung sekolah dan rumah guru tidak memadai serta ditunjang oleh sulitnya sarana transportasi dan komunikasi. Ditambahkan pula bahwa yayasan tidak dapat menjalankan peranannya untuk membina dan mengawasi guru jika yayasan tidak mendapat bantuan dana dari pemerintah. Selama ini pendistribusian dana dari Pemda langsung ke sekolah, namun tidak tahu dana-dana itu dialirkan ke mana," kata Uskup Saklil. "Kalau tidak segera dibenahi maka sudah pasti generasi muda Mimika akan hancur dan kehancuran pendidikan sekolah dasar sama dengan kehancuran masyarakat Mimika," tutur Uskup Saklil, yang merupakan putera asli Mimika. Pendidikan dan kesehatan di Papua ibarat sebuah pekerjaan sosial yang tidak mungkin mengharapkan untung karena tingkat kemampuan masyarakat untuk membiayai pendidikan dan kesehatannya secara mandiri masih sangat jauh dari yang diharapkan,"imbuhnya.
<<1pixelcfdod5.gif>>
