http://www.suaramerdeka.com/beta1/news/print.php?id_news=22633
Ratusan Pangkalan Minyak Terancam Gulung Tikar Purworejo, CyberNews. Ratusan pangkalan minyak tanah diperkirakan gulung tikar jika program konversi gas dijalankan. Pasalnya, mengubah pangkalan minyak tanah menjadi pangkalan gas membutuhkan biaya besar. Padahal untuk tetap menjadi pangkalan minyak juga tidak memungkinkan karena saat program konversi dijalankan, masyarakat mau tidak mau beralih ke minyak tanah. Sebab harga minyak akan menjadi tinggi karena tidak lagi disubsidi. Persediaannya juga minim karena jatah akan dikurangi Pertamina. Waluyono, Kabid Migas Listrik dan Pemanfaatan Energi pada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral mengatakan jika untuk menjadi pemilik pangkalan minyak hanya membutuhkan dua drum minyak tanah atau lebih, pangkalan gas membutuhkan dana sekitar Rp 200.000.000. Itu untuk pembelian ratusan tabung gas, gudang, sarana transportasi dan alat pendeteksi kebocoran gas. "Saat ini, terdapat 1.400 pangkalan minyak di 27 kecamatan. Tidak semuanya bisa menjadi pangkalan gas karena modalnya lebih besar. Mereka juga harus mengajukan surat izin usaha baru," kata Waluyono. Rifai, pemilik pangkalan minyak di Kecamatan Purwokerto Timur mengatakan sulit sekali menjadi pemilik pangkalan gas jika tidak mempunyai modal besar. Sedangkan untuk menjadi sub pangkalan atau pengecer, juga membutuhkan modal yang baginya, tidak sedikit. Ia menjelaskan, untuk pembelian tabung gas ukuran tiga kilogram saja, dibutuhkan Rp 150.000-160.000. Tabung yang ukurannya lebih besar, tentunya lebih mahal. "Setidaknya butuh modal untuk pembelian tabung, itu kalau menjadi pengecer saja. Kalau menjadi pemilik pangkalan, modalnya jelas harus lebih besar," katanya. Arif Susetyo, pengecer minyak tanah di Desa Sokaraja Kidul Kecamatan Sokaraja mengatakan sejak program konversi terdengar, ia mulai membeli tabung gas.. Saat ini, ia memiliki sepuluh tabung ukuran dua belas kilogram dan tiga tabung ukuran tiga kilogram. "Modalnya cukup besar untuk membeli tabung. Tapi mau bagaimana lagi karena kalau sudah konversi, yang dicari orang kan, gas. Bukan minyak," tandasnya. Waluyono menambahkan, mereka yang modalnya sedikit, nantinya akan menjadi agen atau pengecer. Dengan Jumlah pangkalan gas yang berkurang, padahal program konversi dijalankan mulai akhir Februari ini, pihaknya mengaku belum tahu. Karena itu juga harus dikoordinasikan dengan Pertamina. "Mestinya jumlah pangkalan yang tersedia juga harus mencukupi sebelum konversi berjalan karena saat itu, minyak juga sudah dikurangi," ujarnya. (Ant /CN09)
