Pemimpin negara yang dewasa dalam berdemokrasi tak akan pernah terpancing 
dengan kritikan pedas apapun apalagi menunjukan emosi di depan publik. . 
Belajarlah dari gaya pemimpin-pemimpin negara  maju. Kritikan lawan politik 
selalu dikampanyekan kembali dengan show kemampuan memimpin untuk mengoreksi  
diri,  bukan  memberi komentar picisan yang terkesan mirip gaya 
kekanak-kanakan, tanpa mempertimbangkan efek ketidakpercayaan masyarakat. Sama 
seperti anak Sekolah Dasar sedang berkelahi. Bila lawanya memukul, ia juga 
ingin memukul lebih kencang. Hal itu lumrah, karena itu pertarungan dua insan.  
Sby hampir lupa bila pertaruhanya bukanlah Megawati atau Capres lain tetapi 
kepentingan masyarakat dalam skop yang lebih besar.   
 
 

--- Pada Ming, 1/2/09, Sunny <[email protected]> menulis:

Dari: Sunny <[email protected]>
Topik: CiKEAS> SBY Disarankan tak Terlalu Reaktif Tanggapi Kritik
Kepada: [email protected]
Tanggal: Minggu, 1 Februari, 2009, 11:04 AM








http://ng.republika .co.id/berita/ 28917/SBY_ Disarankan_ tak_Terlalu_ 
Reaktif_Tanggapi _Kritik
 


SBY Disarankan tak Terlalu Reaktif Tanggapi Kritik

By Republika Newsroom
Sabtu, 31 Januari 2009 pukul 19:14:00 
 





JAKARTA--Pengamat politik Syamsuddin Haris menyarankan agar Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono tidak terlalu reaktif menanggapi kritik yang ditujukan pada 
kinerja pemerintahan yang dipimpinnya.
"Sangat tidak baik bagi seorang presiden menanggapi kritik kelewat reaktif. 
Saya lihat beliau (Presiden Yudhoyono) terlalu reaktif," katanya dalam sebuah 
diskusi bertema "Main Yoyo Depan Cermin" di Jakarta, Sabtu.
Selain Syamsuddin Haris, pembicara lain dalam diskusi itu adalah budayawan 
Arswendo Atmowiloto, anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Hayono Isman, dan 
Ketua DPP PDIP Perjuangan Firman Jaya Daeli.
Menurut Syamsuddin, tanggapan yang reaktif telah ditunjukkan Yudhoyono antara 
lain terhadap kritik seperti soal "yoyo", "poco-poco" atau istilah Asal Bukan S 
(ABS).
Padahal, katanya, di era demokrasi saat ini, munculnya kritik terhadap kinerja 
pemerintah adalah hal yang wajar dan sebaiknya pemerintah melakukan koreksi dan 
memperbaiki kinerjanya terkait dengan hal-hal yang dikritik tersebut.
Menyangkut kritik Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang ditanggapi oleh 
Yudhoyono, Syamsuddin Haris mengatakan, sepanjang menyangkut institusi tidak 
masalah.
"Tapi jangan sampai konflik politik itu terjebak menjadi konflik internal," 
katanya.
Karena itu, ia menyarankan agar ke depan, baik Yudhoyono maupun Megawati, 
sama-sama berupaya memperbaiki tata hubungan personalnya.
Hampir senada dengan itu, budayawan Arswendo Atmowiloto berpendapat, kedua 
tokoh nasional itu saling melontarkan kritik sesuai dengan kulturnya 
masing-masing yakni kultur Jawa yang cenderung tidak langsung bicara ke 
persoalan tapi menggunakan istilah-istilah.
"Yang menjadi masalah adalah orang-orang di sekitar mereka atau Tim Pemenang 
Pemilu-nya yang bicara A, B, C dan kemudian 'ditanggap' oleh pers," katanya.
Sedangkan anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Hayono Isman mengatakan, apa 
yang ditanggapi Yudhoyono normatif saja dan tidak terlalu reaktif.
"Tidak ada kalimat SBY yang membalas dengan mengkritik Megawati. SBY hanya 
mengajak elit politik untuk lebih beretika dalam berpolitik, bersaing boleh 
tetapi jangan saling menjatuhkan, " katanya.
Mantan Menpora itu menganggap kritik terhadap pemerintah yang kerap dilontarkan 
Megawati atau PDIP adalah wajar, apalagi partai tersebut jauh-jauh hari telah 
menyatakan sebagai oposisi.
Asal, kata Hayono Isman, jangan membawa-bawa masalah pribadi ke permukaan 
karena politik tidak akan sehat kalau masalah pribadi "dibawa keluar".
Sementara itu, Ketua DPP PDIP Firman Jaya Daeli mengatakan, apa yang 
disampaikan Megawati sama sekali bukan mengejek atau menjelekkan tetapi 
mengingatkan pemerintah atas kinerjanya yang dinilai gagal dalam berbagai hal.
"Hanya saja Ibu Mega menyampaikan itu dalam ungkapan-ungkapan seperti 'yoyo' 
atau 'poco-poco' agar lebih menarik. Sebagai partai oposisi, kami harus 
sampaikan koreksi itu. Jadi ini biasa saja, SBY tidak perlu 'kebakaran 
jenggot'," katanya.
PDIP, katanya, hanya mengungkapkan realitas sosial ekonomi yang dirasakan 
masyarakat, seperti soal harga sembako yang sulit terjangkau, soal kemiskinan, 
pengangguran dan lain-lain.
"PDIP akan menyampaikan apa yang menurut kita perlu disampaikan atau 
dikoreksi," katanya. ant/fif
 














      Berbagi foto Flickr dengan teman di dalam Messenger. Jelajahi Yahoo! 
Messenger yang serba baru sekarang! http://id.messenger.yahoo.com

Kirim email ke