Benar juga peranan kunci ini adalah kunci mati, yaitu, mematikan
rakyatnya, mematikan ham, mematikan demokrasi, dan mematikan ekonomi
bangsanya sendiri.

Tapi bagi Amerika tentunya Indonesia ini kunci untuk mematikan terorisme.

Ny. Muslim binti Muskitawati.











--- In [email protected], "Sunny" <am...@...> wrote:
>
> http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009021905483712
> 
>       Kamis, 19 Februari 2009 
>      
>      
>      
>      
>      
> KUNJUNGAN HILLARY: Indonesia Punya Peran Kunci bagi Amerika 
> 
>            
>             BERKUNJUNG KE MENTENG. Menteri Luar Negeri AS Hillary
Rodham Clinton melambaikan tangan bersama anak-anak SDN 01 Menteng
Jakarta, yang memegang bendera kecil AS, di Jakarta, Rabu (18-2).
Presiden AS Barack Obama semasa SD pernah menuntut ilmu di sekolah
tersebut. 
>             (ANTARA/FANNY OCTAVIANUS) 
> 
>       JAKARTA (Lampost/Ant): Menlu AS Hillary Clinton menyebut
Indonesia berperan kunci dalam pemerintahan Presiden Barack Obama
untuk mewujudkan smart power, strategi baru AS menjangkau dunia Islam.
> 
>       "Membangun kemitraan menyeluruh dengan Indonesia adalah
langkah kritis atas nama komitmen Amerika Serikat terhadap smart
power," kata Hillary dalam jumpa pers bersama Menlu Hassan Wirajuda di
Jakarta, kemarin.
> 
>       mempromosikan masa depan bersama."
> 
>       Sebagai negara muslim, peran Indonesia sangat strategis untuk
menjadi pintu masuk bagi AS dalam rangka mendekati negara-negara
muslim. Seperti janji Obama, AS di bawah kepemimpinannya akan lebih
membuka diri dan mengedepankan rasa saling memahami dan menghormati
dengan dunia muslim.
> 
>       Kemitraan komprehensif yang hendak dijalin AS dengan
Indonesia, menurut Hillary, tak lepas dari arti penting Indonesia di
antara negara-negara muslim tersebut. "Saya sangat commit dengan
hubungan kedua negara kita. Itulah mengapa kita membangun kemitraan
komprehensif," tandasnya.
> 
>       Hillary mengatakan Presiden Obama ingin menjangkau seluruh
dunia. Di samping itu, Indonesia adalah mitra penting. "Tentu saja
Indonesia, negara muslim terbesar di dunia, akan memainkan peran
memimpin dalam perdamaian dunia."
> 
>       Adapun Menlu Hassan mengatakan Indonesia akan menjadi mitra
yang baik bagi AS untuk menjangkau dunia muslim. "Kami juga sepakat
memperdalam dan memperluas kerja sama bilateral di bawah kemitraan
komprehensif," kata Hassan.
> 
>       Terkait dengan hal itu, Menko Perekonomian Sri Mulyani
Indrawati mengatakan Indonesia akan membicarakan kemungkinan
mendapatkan bilateral swap agreement (BSA) dari AS.
> 
>       Hillary Clinton dan rombongan tiba di gedung Deplu sekitar
pukul 16.30 dengan diiringi lebih dari 10 kendaraan. Setibanya di
Gedung Deplu, Hillary disambut Hassan Wirajuda beserta sejumlah
pejabat Deplu lain.
> 
>       Tampak hadir Dubes Indonesia untuk AS Sujatman
Parnohadiningrat, juru bicara Presiden Dino Patti Djalal, dan juru
bicara Deplu Teuku Faizasyah. MI/N-2
> 
>       Menlu AS Hillary Clinton sebelumnya tiba di Bandara Halim
Perdanakusuma, Jakarta, sekitar pukul 14.08 menggunakan pesawat jenis
Boeing 757-200.
> 
>       Kunjungan ke Indonesia merupakan rangkaian kunjungan luar
negerinya ke Asia. Setelah Jepang dan Indonesia, Hillary juga
dijadwalkan mengadakan lawatan ke Korea Selatan dan China. Asia
menjadi kawasan pertama yang dikunjungi sejak Hillary dipercaya
sebagai menlu oleh Presiden AS Barack Obama.
> 
>       Berbagai Reaksi Hadapi Kunjungan Hillary Clinton
> 
>       JAKARTA (Lampost/Ant): Kunjungan Menteri Luar Negeri (Menlu)
Amerika Serikat Hillary Clinton ke Indonesia, 18--19 Februari mendapat
reaksi pro-kontra dari berbagai pihak. Di satu sisi kedatangan Hillary
di Jakarta dianggap penting, tetapi pihak lain meminta jangan terlalu
berharap pada Menlu AS itu.
> 
>       Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menilai kunjungan
Hillary penting dalam konteks Islam. Apalagi, kata Ketua Umum PBNU
K.H. Hasyim Muzadi, di sela-sela lokakarya International Conference of
Islamic Scholars (ICIS) di Jakarta, Rabu (18-2), kunjungan itu
bermanfaat jika Hillary bisa melihat Islam secara objektif.
> 
>       "Tentu kita berharap Hillary melihat Islam secara objektif,"
kata Hasyim yang juga presiden World Conference on Religion for Peace
(WCRP) tersebut.
> 
>       Dia mengatakan Indonesia yang berpenduduk mayoritas Islam
telah menunjukkan model kerukunan lintas agama yang bisa dijadikan
model untuk negara-negara multiagama lain. "Tapi masalah itu
bergantung pada sikap AS terhadap negara-negara yang berpenduduk
Islam. Jangan kaitkan Islam dengan ekstremitas karena ekstremitas itu
juga ada di agama-agama lain."
> 
>       Melihat pentingnya kadatangan Hillary, Wakil Ketua Komisi I
DPR, Yusron Ihza Mahendra, mengingatkan Pemerintah RI memiliki agenda
yang jelas dalam menyambut Menlu Amerika Serikat Hillary Clinton dan
tidak boleh bersikap mendua, apakah berpihak kepada Amerika Serikat
atau China.
> 
>       "RI harus punya agenda yang jelas dan komprehensif dalam
pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri AS, Hillary Rodham Clinton. Dan
juga tidak boleh lagi bersikap mendua, antara AS dan China, dua negara
yang berada dalam rivalitas (di bidang ekonomi, politik, dan
keamanan)," kata dia di Jakarta, kemarin.
> 
>       Jangan Banyak Berharap
> 
>       Sementara itu, Indonesia diharapkan tidak berharap banyak dari
kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Rodham Clinton
dan harus berani menolak liberalisasi perdagangan dan kapitalisme,
yang ternyata menyebabkan Negeri Paman Sam itu mengalami krisis finansial.
> 
>       Itu merupakan benang merah dari dialog resensi buku Living
History Hillary Rodham Clinton untuk menyambut kunjungan dua hari
Menlu Hillary ke Indonesia, yang diselenggarakan Lembaga Studi
Kapasitas Nasional (INCS) di Jakarta, kemarin.
> 
>       Dialog tersebut, yang membahas hubungan Indonesia-Amerika
Serikat dan pengalaman perjuangan Hillary di bidang hak perempuan, hak
asasi manusia dan demokrasi rakyat melawan penindasan dan eksploitasi
perusahaan negara adidaya itu menghadirkan pendiri dan Ketua INCS
Hartojo Wignjowijoto dan dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Nina Sapti, dengan moderator Sumarjati Arjoso.
> 
>       Sejumlah tokoh, seperti Sri Bintang Pamungkas, Joop Ave, Amin
Arjoso, dan Prof. Usep Ranuwihardja hadir dalam dialog itu.
> 
>       "Indonesia hanya dijadikan keset dalam lawatan Menlu Hillary
ke Asia. Sangat disayangkan, dalam kunjungannya, ia dibatasi hanya
mengadakan pembicaraan dengan Menlu Hasan (Wirajuda) dan Sekjen ASEAN
(Surin Pitsuwan)," kata Hatojo.
> 
>       Menurut dia, kemandirian bangsa Indonesia harus ditunjukkan
dan pemerintah jangan membawa "batok (tempurung kelapa)" untuk
meminta-minta bantuan ke mana-mana.
> 
>       Mantan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Joop Ave
menceritakan pengalamannya ketika seorang menteri Amerika Serikat
berkunjung ke Indonesia dan bertemu dengannya. "Dengan menggertak,
menteri itu meminta sektor telekomunikasi Indonesia dibuka. Jika tak
dibuka, ganjarannya, Amerika Serikat akan membatasi impor pakaian
jadi, tekstil, dan sepatu ke negara itu."
> 
>       Sri Bintang Pamungkas menyatakan pejabat Indonesia harus
berani menolak jika Amerika Serikat coba-coba memasukkan pasar bebas
dan kapitalisme dalam pembicaraan. "Pasar bebas dan kapitalisme telah
terbukti gagal di Amerika Serikat. Menlu Hillary juga jangan berharap
banyak dari pemerintahan yang berkuasa kini."
> 
>       Nina Sapti mengatakan Menlu Hillary ingin membangun negerinya
dengan memberikan perhatian khusus pada kepentingan lain Amerika
Serikat. "Sayangnya, kepentingan Amerika Serikat sering bertabrakan
dengan kepentingan negara lain, seperti Indonesia."
> 
>       Prof. Usep Ranuwihardja mengingatkan siapa pun memerintah di
Amerika Serikat memiliki niat sama untuk menguasai Indonesia.
"Pemerintahan Obama dan pemerintahan (George W.) Bush sama saja.
Mereka tak akan melepaskan cengkeraman imprialistik dengan berbagai
bentuk." N-2
>


Kirim email ke