Seluruh Jalur Partai Berisi Para Pendukung Syariah Islam !!!
                                      
Sejak Kemerdekaan RI semua partai pendukung Syariah Islam selalu gagal
untuk menguasai pemerintahan dan kabinetnya.  Sampai terakhir
kekuasaan Suharto dimana demokrasi sedang mekar dengan bebasnya,
ber-macam2 partai2 Islam mengobral ide2 Islamiahnya untuk menjadi
pilihan rakyat, namun ternyata tidak satupun yang dipilih rakyat,
bahkan jumlah suara dari partai2 Islam itu digabung sekalipun ternyata
jumlahnya cuma dibawah 10% dibandingkan jumlah suara partai2
nasionalist seperti PDIP yang mengantongi diatas 30% dan juga Golkar
yang mengantongi diatas 30%.

Dalam pemilu2 selanjutnya, para pemuka partai2 Islam menyadari untuk
perlunya membuat partai2 baru yang berwajah sekuler untuk menjebak
suara pemilih yang jelas2 tidak menyukai partai2 Islam.

Demikianlah pada pemilu selanjutnya partai2 Islam menggunakan kedok
sekuler untuk menjebak suara pemilih, ternyata juga gagal karena para
pemilih rata2 tahu figur2 partai yang nampak sekuler itu adalah para
ulama dari partai2 Islam yang gagal.

Namun dalam pemilu yang terakhir, semua pendukung Syariah Islam
menyusup masuk dengan berbagai cara untuk menguasai partai2 sekuler
yang populer dipilih masyarakat seperti PDIP dan Golkar.  Akibatnya,
meskipun PDIP berhasil mengantongi jumlah kursi terbanyak dibadan
legislative tetapi tidak ada satupun wakil2nya yang menyuarakan
nasionalisme dan pancasila, mereka justru mewakili untuk mendukung
Syariah Islam.  Berbagai perda didaerah subur berhasil diubah menjadi
perda Syariah Islam.  Akibatnya banyak pengusaha bisnis dan investor
menarik diri dan menarik modalnya dari Indonesia akibat diperas secara
Syariah melalui perda2 Syariah ini.  Pengangguran yang menumpuk akibat
diberlakukannya perda Syariah makin berkembang luas bersamaan dengan
berkembangnya hukum Syariah diseluruh Indonesia.

Pemilu sekarang yang akan berlangsung beberapa bulan lagi menunjukkan
semua jalur partai2 sekuler sudah diisi oleh caleg2 pendukung Syariah,
bahkan Megawati pun tak berdaya mencegahnya, PDIP yang dipimpinnya
seharusnya mendukung Pancasila, nanti pada waktunya duduk sebagai
wakil PDIP yang mendukung Syariah dan mengharamkan Pancasila.

Akibat kondisi PDIP yang sekarat ini, para pendukung PDIP yang
konservative banyak yang pindah haluan untuk memilih partai2 lainnya
atau bahkan tidak memilihnya sama sekali.  Bekas tokoh2 PDIP yang
legendaris telah dipecat oleh Megawati dan digantikan oleh ulama2 para
pendukung gerakan Syariah.

Memang merupakan ironi dimana masyarakat RI yang menolak Syariah
sekarang diwakili oleh wakil2nya yang mendukung Syariah.

Disemua badan2 pemerintahan baik legislative, judicative maupun
executive makin jarang terlihat nama2 Indonesia yang tradisional
seperti nama Joko, Bambang, ataupun wati, ningsih.  Lebih banyak
didominasi oleh nama2 Fadel, Muhammad, Ikra, Hidayat, Abdulah, Syukri,
dan semua nama2 yang berasal dari Arab untuk menonjolkan Islamisasi
diseluruh bidang kenegaraan ini.

Baru2 ini penduduk Tengger yang tadinya beragama Hindu yang dipersulit
pernikahannya akhirnya diberi jalan menikah secara Islam.  Dilakukan
pernikahan masal dimesjid Al-Huda kepada para mualaf yang baru
mengenal Islam ini untuk menambah para pendukung Syariah Islam nantinya.

Inilah tragedi bangsa, rakyat yang mayoritas menolak Syariah justru
dipaksa menerima pemerintahan Syariah nantinya.  Pertumpahan darah
demi pertumpahan darah akan sambung menyambung.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke