Catatan La Luta:Sebelum nonton "panggung Demokrasi", bacalah artikelnya Budiman 
Sudjatmiko di kompas, Kamis 05 Maret 2009....berjudul:  "Sosialisme, Jiwa 
Konstitusi Kita"...antara lain, uraiannya dalam karya tulisannya:

"....Pembukaan
UUD 1945 itu tentu tidak terlepas dari tradisi para pendiri republik
yang banyak sekali bersentuhan dengan para pemikir sosialis Eropa
maupun interaksi mereka dengan sesama pejuang kemerdekaan Asia..." 
Selanjutnya...Silahkan click: 

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/05/04105744/sosialisme.jiwa.konstitusi.kita


Lalu, Pertanyaannya adalah...."Apakah rakyat kita masih percaya sosialisme?"

La Luta Continua!


Faiz ManshurSaksikan
pertujukan Ketoprak Humor paling heboh Di Global TV: hari Jumát, tgl 6 Maret 
2009
jam 22:30. Pertunjukan dimeriahkan oleh Budiman Sudjatmiko, Rama
Pratama dan Indra Piliang. 

Karena mainnya amatiran terpaksa diarahkan
oleh Didi Petet dan Alya Rohali. Direcoki oleh Yeni Rosa Damayanti yg
sewot Poligami. Di ledek Sudjiwo Tedjo lalu ditertawakan Imam Prasojo.
debat kandidat caleg. Tapi gaya gurauankayak ketoprak jaman genjer2iya, 
acaranya benerTema Panggung demokrasi.budiman favorit jadi kandidat diantara 
Indra dan Rama pratama.
****

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/05/04105744/sosialisme.jiwa.konstitusi.kita

Sosialisme, Jiwa Konstitusi Kita

Kamis, 5 Maret 2009 | 04:10 WIB


Oleh Budiman Sudjatmiko

Harian
Kompas (27/2) memuat artikel ”Mitos Neososialisme” oleh Mario Rustan.
Di dalamnya, sang penulis mengatakan, dimuatnya sejumlah artikel
mengenai sosialisme di harian Kompas beberapa hari sebelumnya merupakan
bentuk ”kecintaan” para intelektual kiri Indonesia atas ”rezim otoriter
di Rusia, China, Iran, dan Amerika Latin” serta ketidaksukaan mereka
atas ”Barat dan kaum menengah ke atas Indonesia”.

Agaknya
penulis melupakan fakta bahwa dua penulis artikel di Kompas yang
dikritik—Ivan Hadar dan Robert Bala—adalah simpatisan orang miskin dan
pencinta sosialisme, yang persis merupakan dua elite intelektual
Indonesia didikan Eropa Barat, yaitu Jerman dan Spanyol.

Terlepas dari itu, saya justru ingin menegaskan betapa eratnya konstitusi kita 
dengan nilai-nilai sosialisme.

Jiwa kemerdekaan

Dalam
artikel pada 15/8/2007, saya menulis tentang pilihan ideologis bangsa
Indonesia yang tertuang dalam deklarasi kemerdekaan kita (Pembukaan UUD
1945) untuk mengusung tipe ideologi komunitarianisme demokratik. Hal
ini karena deklarasi kemerdekaan kita menekankan pada upaya untuk
”memajukan kesejahteraan umum”. Ini membedakannya dengan deklarasi
kemerdekaan Amerika Serikat yang lebih bersifat individualisme
demokratik.

Dalam artikel itu, saya mengutip kajian
Harvard Business School yang membagi dua jenis ideologi, yaitu
individualisme dan komunitarianisme. Salah satu varian individualisme,
yaitu individualisme demokratik, lebih menekankan ”persamaan
kesempatan, berbasis kontrak, hak-hak milik, daya saing untuk memuaskan
kebutuhan konsumen (yakni sebagian dari masyarakat yang punya daya
beli), serta peran minim dari negara”.

Sementara itu,
salah satu varian komunitarianisme, yaitu tipe ideologi
komunitarianisme demokratik (untuk membedakan dengan komunitarianisme
yang tidak demokratik, yaitu fasisme dan feodalisme), lebih
berorientasi pada ”persamaan hasil (yang diharapkan bisa memajukan
kesejahteraan umum dan mencerdaskan bangsa), hak dan kewajiban anggota
komunitas, memuaskan kebutuhan seluruh komunitas (terlepas punya daya
beli atau tidak), peran aktif negara, serta bersifat holistik atau
saling tergantung antarmanusia, dan manusia dengan alam”.

Pembukaan
UUD 1945 itu tentu tidak terlepas dari tradisi para pendiri republik
yang banyak sekali bersentuhan dengan para pemikir sosialis Eropa
maupun interaksi mereka dengan sesama pejuang kemerdekaan Asia.

Bung
Karno (seorang nasionalis, internasionalis, dan seorang pejuang
sosialisme Indonesia) bahkan kerap mengutip para pemikir sosialis Eropa
dalam tulisan-tulisannya yang terpenting selama era pergerakan.

Roger
K Paget (sebagaimana dikutip Alfian dalam buku Pemikiran dan Perubahan
Politik Indonesia) dalam kata pengantar untuk buku Indonesia Accuses:
Soekarno’s Defence Oration in the Political Trial of 1930 bahkan
menyebutkan, dalam tulisan Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme yang
dibuat tahun 1926, Bung Karno mengutip sebanyak 13 kali sejumlah tokoh
sosialis, mulai dari Otto Bauer (2 kali), Friederich Engels (3 kali),
Karl Kautsky (1 kali), dan Karl Marx (7 kali).

Sementara
dalam pidato pembelaaannya di hadapan pengadilan kolonial di Bandung
pada tahun 1930, yang berjudul Indonesia Menggugat, Bung Karno mengutip
sebanyak 24 kali tokoh sosialis dunia untuk mempertahankan posisi
politiknya, yakni memerdekakan Indonesia bebas dari kolonialisme
kapitalistik.

Daftar itu tentu akan lebih panjang lagi
jika kita menyimak tulisan-tulisan para bapak bangsa yang lain, seperti
HOS Cokroaminoto, Tan Malaka, Semaoen, Bung Hatta, Sutan Sjahrir, dan
Amir Sjarifuddin.

Jika majalah prestisius Newsweek pada
awal abad ke-21 ini mengumumkan bahwa ”kita sekarang semua adalah
sosialis” tentu karena para pendiri bangsa kita pada awal abad lampau
sudah memiliki kegeniusan yang otentik. Setidaknya, mereka sudah
memikirkan hal yang sama dengan editor Newsweek (bacaan favorit kelas
menengah ke atas di dunia) hampir seratus tahun lebih awal!

Tentu
saja dalam sejarah perjalanan bangsa ini kegeniusan para bapak bangsa
yang otentik itu sempat terinterupsi selama 32 tahun era Orde Baru yang
menghabiskan sebagian waktunya untuk memfitnah sosialisme sebagai
ideologi para ateis dan kaum ekstremis.

Kembali ke semangat awal

Hampir
64 tahun kita merdeka dan sudah lebih dari 10 tahun kita memasuki era
reformasi, tetapi kita justru semakin jauh dari jiwa sosialisme yang
diamanatkan para bapak (dan ibu) bangsa melalui Pembukaan UUD 1945.

Hak-hak
ekonomi rakyat malah diingkari oleh sebagian besar elite politik dan
ekonomi kita. Di antara indikasi dari pengingkaran itu adalah
dikeluarkannya undang-undang yang memberangus kedaulatan rakyat atas
sumber daya ekonomi bangsa.

Salah satu, misalnya, adalah
diloloskannya Undang-Undang Penanaman Modal oleh mayoritas fraksi di
DPR (ditolak hanya oleh dua fraksi, yaitu PDI-P dan PKB). Undang-undang
ini malah mengancam kedaulatan kaum tani atas tanah karena bisa
dikuasai melalui hak guna usaha (HGU) oleh para investor asing selama
185 tahun, hak guna bangunan (HGB) selama 160 tahun, dan hak pakai
selama 140 tahun. Ini jelas mengingkari hak petani kita atas fungsi
sosial dari tanah di republik ini.

Hampir 64 tahun kita merdeka, ada tiga hal yang justru berada dalam bahaya.

Pertama, kedaulatan bangsa (terutama di bidang pangan, energi, keuangan, dan 
pertahanan).

Kedua, keadilan sosial.

Ketiga, ke-bhinneka-tunggal- ika-an kita berdasarkan Pancasila.

Semua
ini terjadi karena banyak elite politik kita telah mengganti semangat
demokrasi, patriotisme, dan sosialisme dengan semangat pragmatisme ala
neoliberal, plutokrasi (kekuasaan politik berdasarkan uang), bahkan
kleptokrasi (kekuasaan politik berdasarkan kemampuan mencuri uang).

Kehendak
mulia para pendiri bangsa untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan turut menciptakan ketertiban dunia
berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial kian digantikan oleh
histeria spekulasi keuangan global kapitalistik.

Sayang
sebagian elite kita baru sadar setelah bacaan favorit mereka, Newsweek,
menyadarkan bahwa menjadi sosialis itu bukan sebuah bentuk
kepurbakalaan politik, melainkan lagu mars dan semangat zaman kita.

Budiman Sudjatmiko Ketua Umum Repdem PDI-P


Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 


      

Kirim email ke