Apa Itu Investasi?
INVESTASI
1. Pengertian
Secara harafiah, investasi adalah penyimpanan uang dengan tujuan memperoleh
return yang diharapkan lebih besar dibanding bunga deposito untuk memenuhi
tujuan yang ingin dicapai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan dan
sesuai dengan kemampuan akan modal. Atau dapat diartikan juga sebagai suatu
pengorbanan dalam bentuk penundaan pengeluaran sekarang untuk memperoleh
keuntungan (return) yang lebih baik di masa datang.
Dengan kata lain yang lebih simple/sederhana, investasi adalah cara
seseorang untuk mengelola uangnya baik itu dengan dibelikan property,
ditabung atau ditanam ke dalam suatu usaha dengan tujuan mendapat keuntungan
setelah masa/periode yang ditentukan sebelumnya.
2. Bentuk-bentuk investasi
Dalam kehidupan sehari-hari ada beberapa bentuk investasi yang kita ketahui,
di antaranya yaitu :
1. Investasi property
Investasi property ini dapat berupa penanaman sejumlah uang dalam bentuk
property, hal yang paling lazim biasa dilakukan adalah dalam bentuk emas,
rumah ataupun tanah.
2. Investasi ekuitas
Investasi ekuitas ini umumnya berhubungan dengan pembelian dan menyimpan
saham stok pada suatu pasar modal oleh individu dan dana dalam
mengantisipasi pendapatan dari deviden dan keuntungan modal sebagaimana
nilai saham meningkat. Hal tersebut juga kadang kadang berkaitan dengan
akuisisi saham (kepemilikan) dengan turut serta dalam suatu perusahaan
swasta (tidak tercatat di bursa) atau perusahaan baru ( suatu perusahaan
sedang dibuat atau baru dibuat). Ketika investasi dilakukan pada perusahaan
yang baru, hal itu disebut sebagai investasi modal ventura dan pada umumnya
dimengerti mempunyai risiko lebih besar dari pada investasi situasi-situasi
dimana saham tercatat di bursa dilakukan.
3. Resiko Investasi
Biasanya, ada 3 resiko yang paling ditakutkan orang ketika mereka akan
melakukan investasi, yaitu :
1. Turunnya Nilai Investasi
Risiko yang paling ditakuti orang ketika berinvestasi umumnya adalah "Apakah
uang saya akan hilang?" Kebanyakan orang mungkin menjawab "tidak" kalau
ditanya seperti itu. Karena tidak ada orang yang mau kehilangan uangnya.
Akan tetapi, setiap investasi pasti ada resikonya. Perbedaannya hanya pada
ukurannya. Ada produk investasi yang risikonya cukup besar, ada yang sedang,
ada yang kecil.
Sekarang jika Anda berinvestasi, kita harus mempertimbangkan seberapa besar
penurunan nilai yang bersedia Anda tanggung bila Anda mengalami kerugian? 10
persen? 20 persen? 50 persen? Atau 100 persen? Berapapun besar kerugian yang
bersedia Anda tanggung, ingatlah bahwa itu adalah bagian dari berinvestasi.
Jangan pernah mengharapkan Anda akan terus-menerus untung. Yang disebut
dengan kerugian, sesekali memang harus kita alami. Karena dengan adanya
kerugian, itu adalah pengalaman yang membuat kita jadi lebih banyak belajar
dalam berinvestasi.
2. Sulitnya Produk Investasi itu Dijual
Resiko kedua yang paling ditakuti orang ketika berinvestasi adalah apakah
produk investasi yang dibelinya itu mudah untuk dijual/diuangkan kembali.
Beberapa orang mungkin senang berinvestasi ke dalam emas karena emas
dianggap mudah dijual kembali. Akan tetapi, ada juga orang yang berinvestasi
ke dalam mata uang dolar Amerika, dan dolar tersebut cepat-cepat
dimasukkannya ke bank. Ini karena bila dolar itu disimpan di lemari, maka
kondisi fisik dari kertas uangnya mungkin akan menurun, dan itu
kadang-kadang akan menyulitkan bila suatu saat dolar itu hendak dijual
kembali. Maklum, beberapa bank seringkali tidak mau menerima atau membeli
mata uang asing Anda bila kondisi uang secara fisik robek, rusak atau kumal.
Contoh lain dari produk investasi yang tidak selalu mudah untuk dijual
kembali adalah barang-barang koleksi. Barang-barang koleksi umumnya tidak
mudah dijual kembali karena pasar pembeli barang-barang ini sangat spesifik.
Lukisan misalnya. Karena pasarnya yang spesifik, yaitu mereka yang hobi akan
lukisan juga, tidak selalu mudah menjual lukisan. Tapi, sekali terjual, bisa
saja harganya sangat tinggi dan memberikan untung yang lumayan bagi orang
yang menjualnya.
Jadi, sebelum Anda memutuskan untuk berinvestasi, sebaiknya ketahui lebih
dulu seberapa mudahnya produk investasi Anda bisa dijual kembali. Jangan
sampai Anda berinvestasi tapi tidak bisa menjualnya, karena barangnya memang
sulit dijual.
3. Hasil Investasi yang Diberikan Tidak Sebesar Kenaikan Harga
Barang dan Jasa
Bayangkan jika Anda berinvestasi di deposito yang memberikan bunga 10 persen
setahun, sedangkan dalam setahun harga barang dan jasa malah naik 15 persen?
Hal ini seringkali terjadi, bukan karena terlalu tingginya kenaikan harga
barang dan jasa, tetapi karena produk yang dipilih itu sendiri belum tentu
sesuai.
Mungkin beberapa dari Anda menginginkan produk investasi yang aman dan
konservatif. Tetapi, konsekuensinya adalah bahwa Hasil Investasi yang
didapat mungkin saja tidak bisa menyamai kenaikan harga barang dan jasa.
Kalau itu terus Anda alami dari tahun ke tahun, maka Anda akan bangkrut.
Apa yang harus Anda lakukan untuk menghadapi risiko ini? Jangan menutup diri
terhadap informasi. Pelajari produk-produk investasi lain yang mungkin belum
Anda ketahui, dan setelah itu cobalah masuk ke situ dengan mempertimbangkan
segala konsekuensinya. Lama-kelamaan, Anda pasti bisa mengatasi tingginya
kenaikan harga barang dan jasa dengan berinvestasi pada produk yang memang
berpotensi untuk bisa memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding kenaikan
harga barang.
4. Cara Mengurangi Resiko Investasi
Untuk mengurangi resiko, cara termudah adalah berinvestasi di berbagai
sarana investasi. Cara ini disebut dengan membuat portofolio investasi.
Tujuan dari cara ini adalah mengurangi kerugian investasi yang mungkin
timbul dari suatu sarana investasi dengan menutupnya menggunakan keuntungan
yang diperoleh dari sarana investasi yang lain. Misalnya berinvestasi pada
reksa dana dan pada tabungan. Jika keduanya memberikan keuntungan maka
investor tidak akan menderita kerugian. Tetapi bagaimana jika salah satunya
mengalami kerugian, misalnya nilai reksa dana turun atau bank dilikuidasi?
Dengan adanya portofolio ini maka diharapkan kerugian salah satu investasi
dapat dikurangi oleh keuntungan dari investasi lain. Kalau dua-duanya rugi,
berarti itu cobaan jika investor menggunakan investasi secara syariah dan
mungkin peringatan atau bahkan azab jika investasi tersebut tidak sesuai
syariah.
Jadi inti mengurangi resiko investasi adalah portofolio : “jangan meletakkan
banyak telur dalam satu keranjang” karena jika terjatuh, maka telur akan
lebih banyak yang pecah dibandingkan jika ditaruh pada beberapa keranjang
jika keranjang yang lain tidak jatuh.
5. Produk Investasi
Secara umum, produk investasi dikelompokkan berdasarkan hasilnya menjadi 2
golongan yaitu:
・ Produk Investasi Pendapatan Tetap (fixed income investment), yaitu
produk investasi yang sudah pasti memberikan pendapatan (biasanya disebut
bunga), dan uang yang Anda diinvestasikan tidak akan berkurang nilainya.
Contoh : Deposito dan Tabungan di Bank.
・ Produk Investasi Pertumbuhan (growth income investment), yaitu
produk investasi yang tidak memberikan hasil pasti berupa bunga, tetapi
hanya memberikan hasil apabila dijual kembali dengan nilai yang lebih
tinggi. Contoh : saham, emas, rumah, barang-barang koleksi, mata uang asing.
Risiko produk seperti ini adalah uang yang Anda investasikan bisa berkurang
nilanya apabila produk investasi itu dijual dengan harga yang lebih rendah
dibanding dengan harga ketika Anda membelinya.
6. Proses Keputusan Investasi
Proses Keputusan Investasi merupakan keputusan yang berkesinambungan (on
going process) dengan tahap-tahap sbb:
・ Penentuan Tujuan berinvestasi
Dalam penentuan tujuan berinvestasi ada beberapa hal yang harus diperhatikan
yaitu jangka waktu investasi (pendek/panjang), berapa target return yang mau
dicapai.
・ Penentuan Kebijakan Investasi
Investor harus mengerti karakter risiko (risk profile) masing- masing
apakah seorang yang mau mengambil risiko atau menghindari risiko, berapa
banyak dana yang akan diinvestasikan, fleksibilitas investor dalam waktu
untuk memantau investasi, pengetahuan akan pasar modal.
・ Pemilihan strategi portofolio dan asset
Setelah mengetahui hal-hal pada point 1 dan 2 di atas maka kita dapat
membentuk suatu portofolio yang diharapkan efisien dan optimal.
・ Pengukuran dan evaluasi kinerja portofolio
Mengukur kinerja portofolio yang telah dibentuk, apakah sudah sesuai
dengan tujuan. Alat untuk mengukur kinerja portofolio ada 3 yang cukup
populer yaitu Sharpe’s measures, Treynor’s measures dan Jensen measures.
7. Komoditas
Komoditas berkaitan dengan saham perusahaan-perusahaan yang memproduksi
bahan-bahan mentah seperti minyak bumi, emas, perak dan logam-logam dasar,
seperti almunium, tembaga dan seng.
--
Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)
-------------------------------------
SINCERITY, SPEED, INOVATION & INDEPENDENCY