Refleksi : Kebanyakan kecap yang diobralkan oleh parpol-parpol adalah tidak lain daripada obat bius fatamorgana berkwalitas kelas wahid.
http://www.gatra.com/artikel.php?id=124288 Kampanye Pemilu Legislatif 2009 Parpol Masih Jualan "Kecap" Jakarta, 23 Maret 2009 17:56 Partai politik (parpol) peserta pemilihan umum (pemilu) 9 April 2009 masih menjalankan teknik-teknik kampanye lama yang monoton dan tanpa perbaikan subtansi pesan, padahal pola seperti itu sebenarnya tidak cocok lagi. Demikian penilaian anggota Komisi I DPR Yuddy Chrisnandy kepada pers, di Gedung DPR/MPR Jakarta, Senin (23/3), berkaitan dengan seminggu pelaksaan kampanye pemilu. Menurut Yuddy, sebagian besar parpol menyampaikan pesan yang konkret bagi penyelesaian persoalan dimasyarakat. "Parpol terjebak tradisi teknik kampanye di masa lalu. Semestinya, parpol menawarkan solusi konkret atas persoalan kemasyarakatan," katanya. Kampanye parpol seolah-olah sekadar pawai, konvoi kendaraa, arak-arakan dan mobiliasi massa. Mobilisasi massa tidak terhindarkan adanya pelibatan anak-anak, ibu hamil yangs ebenarnya dilarang oleh Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pemilu. Teknik kampanye seperti itu tidak efektif bagi terwujudnya proses komunikasi politik, antara partai dengan masyarakat. Dalam kampanye, parpol baru lebih sering mengritik kebijakan pemerintah yang belum tentu mampu apabila mereka berada di posisi pemerintah. Sedangkan parpol lama lebih pada posisi bertahan dan mengklaim keberhasilan. "Semua masih jual `kecap` dan mengklaim `kecapnya` nomor satu," katanya. Dia mengemukakan, semestinya parpol lama yang sudah beberapa kali mengikuti pemilu menghadirkan kampanye dengan gagasan yang inonatif. Tetapi parpol lama pun terjebak pada gaya kampanye yang monoton. "Itu yang sangat memprihatinkan, rakyat hanya diberi janji dan tidak diberi solusi mengenai bagaimana parpol menawarkan solusi persoalan, misalnya menyangkut kemiskinan," katanya. Menurut Yuddy, selain melaksanakan kampanye dengan gaya lama, sampai saat ini sedikit sekali parpol yang menawarkan platform pembangunan ekonomi dan politiknya. "Sangat sedikit parpol yang memberi gagasan kepada publik mengenai plattform pembangunan ekonomi dan politiknya. Ini sebenarnya tanggung jawab pimpinan parpol," katanya. Yuddy mengungkapkan, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) cukup cerdas dengan menyampaikan platform pembangunan ekonomi dan politiknya kepada publik. "Baru Gerindra yang menawaran gagasan inovatif dengan menyampaikan platform ekonomi dan politik. Tetapi Gerindra lupa bagaimana konstruksi pemerintahan ke depan," kata Yuddy yang berasal dari Fraksi Partai Golkar. [EL, Ant]
