Cendrawasih Pos
25 Maret 2009


Tokoh OPM Pertemuan Tertutup dengan Gubernur 

*Nicholas: Gubernur Sudah Lakukan yang Saya Mimpikan
JAYAPURA- Setelah tiba di Jayapura, Ahad (22/3) lalu, Senin (23/3) kemarin, 
tokoh yang dikenal sebagai Pencetus Organisasi Papua Merdeka (OPM), Nicholas 
Jouwe bertemu dengan Gubernur Papua, Barnabas Suebu,SH di Gedung Negara, Dok V 
Jayapura.

Setelah melakukan pertemuan tertutup sekitar 2 jam, Nicholas Jouwe yang datang 
bersama kedua anaknya, yaitu Alexander Jouwe dan Nancy Leilani Jouwe serta 
rombongan lainnya itu kemudian menyempatkan waktunya sebentar untuk berbicara 
di hadapan wartawan yang telah setia menunggu hingga pertemuan itu usai. "Saya 
senang sekali bertemu Bapak Gubernur. Memang saya seorang pejuang (OPM,red) dan 
semua orang tahu. Tapi Bapak Gubernur ini seorang pelaksana. Dia lakukan semua 
tugas yang saya mimpikan. Itu bedanya antara kita berdua," tutur Nicholas Jouwe.

Dirinya merasa sangat senang bertemu dengan sosok Putra Papua, Barnabas Suebu 
yang dinilainya telah duduk pada tempat yang benar. "Sebab apa yang saya 
perjuangkan dari luar, tapi dia kerjakan dari dalam dan itu bagusnya, itu 
bedanya. Beliau lebih capek daripada saya, sebab kalau saya cuma kata-kata, 
tapi dia ini orang dari perbuatan. Jadi beda antara kata dan perbuatan, dan 
inilah orangnya, Bapak Gubernur Suebu," ujar Jouwe singkat.

Saat ditanya lebih lanjut, Jouwe sudah enggan berkomentar, namun intinya, apa 
yang telah diperjuangkannya di luar, ternyata sudah dilaksanakan oleh Gubernur 
Papua, Barnabas Suebu,SH. Sementara itu, Gubernur Papua, Barnabas Suebu saat 
dimintai komentarnya mengatakan, dalam pertemuannya tersebut, pihaknya 
menjelaskan hal-hal yang dilakukannya untuk mensejahterakan rakyat dalam payung 
Otonomi Khusus.  "Tadi saya menjelaskan, dalam payung otonomi khusus, kita 
membangun kampung, kita perbaiki makanan dan gizi, pendidikan, kesehatan, 
perumahan rakyat, air minum serta menjelaskan pembangunan infrastruktur dan 
membangun Papua yang pemerintahannya bersih dari korupsi. Ini semua untuk 
kesejahteraan. Itu yang Bapak Nic katakan, saya berjuang secara politik karena 
isi dari kemerdekaan itu pada akhirnya untuk rakyat sejahtera, untuk pendidikan 
baik, kesehatan baik dan sebagainya. Itu yang beliau (Nicholas Youwe,red) 
maksudkan, saya bicara di luar tapi yang kerjakan adalah bapak Gubernur," 
terang Suebu. 

Usai bertemu gubernur, sang Tokoh senior OPM itu, berkesempatan mengunjungi 
kampung kelahirannya di Kayu Pulo. Saat menginjakkan kaki di Kayu Pulo, Jouwe 
disambut dengan tarian penyambutan ala suku Kayo Pulo. Dia mendapat sambutan 
hangat dari, keluarga, handaitaulan serta warga Kayu Pulo.  Sebagaimana 
diketahui, Nicholas Jouwe, tokoh OPM yang sudah 50 tahun lebih tinggal di 
Belanda, sejak Ahad tiba di bumi Papua. Kedatangannya disambut pejabat setempat 
dan para pendukungnya. Mereka yang dendam dengan tokoh 85 tahun itu juga ikut 
menyambut.

Jouwe tiba di Bandara Sentani siang itu dengan pesawat Garuda Indonesia. Dia 
didampingi kedua anaknya, Alexander Jouwe dan Nancy Leilani Jouwe. 
Kedatangannya disambut bak tokoh penting. Itu terlihat dari sambutan hangat 
yang diberikan Gubernur Papua Barnabas Suebu di bandara tersebut.
Kedatangan Jouwe juga disambut dua orang eks aktivis OPM yang pernah mencari 
suaka ke Australia. Mereka kini sudah tobat setelah menyatakan diri untuk 
memilih kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Mereka adalah, Franzalbert Joku dan 
Nicholas Messet.
Sementara itu, Franzalbert Joku yang dimintai komentarnya terkait kedatangan 
pencetus OPM Nicholas Jouwe ke Jayapura mengatakan, tidak ada kepentingan 
tertentu, kecuali hanya ingin melihat secara langsung dan dari dekat tanah air 
yang dulu pernah ditinggalkan, selain menerima undangan presiden SBY. 
Dikatakan, dari kesempatannya mengunjungi Kayu Pulo, Nicholas juga menyampaikan 
ucapan terima kasihnya kepada pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono dan para menteri yang sudah memberikan kesempatan 
mengunjungi keluarga ke Papua.


"Beliau juga sempat memberikan bantuan Rp 100 juta pada gereja di sana. Dan 
untuk kemajuan Papua akan dibahas bersama presiden nantinya," katanya. 
Disinggung mengenai apakah kedatangan Nicholas Jouwe bisa memberikan perubahan 
poltik di tengah maraknya kelompok orang yang menyuarakan aspirasi merdeka, 
menurut Franzalbert, keinginan tersebut merupakan sikap ketidakpuasan atas 
belum terpenuhinya apa yang seharusnya diperoleh, seperti hak dasar orang Papua 
maupun bentuk kesejahteraan yang merata. 


Hanya Franz melihat perlu satu kesadaran yang harus disosialisasikan untuk 
merubah pandangan tadi. Sekalipun masih ada yang meneriakkan merdeka, yang 
perlu diperhatikan adalah dalam arti apa kalimat tersebut diterjemahkan, 
mengingat saat ini dari penerapan Otsus di era reformasi sudah banyak yang 
dijawab.
"Jika saat ini masih banyak orang yang menyuarakan tentang kemerdekaan, maka 
saya pikir itu pemahaman mereka sendiri dan itu perjuangan gaya lama meski 
selama ini terus disuarakan," jelas Franz yang juga sebagai Ondofolo Ifar Besar 
memaparkan. 


Meski dari kedatangan pencetus OMP ini sempat diwarnai aksi massa yang 
menganggap Nicholas Youwe bertanggung jawab atas perjuangan yang ditinggalkan, 
menurut Frans apa yang dilakukan Nicholas saat ini masih tetap bagaimana 
memperjuangkan nasib orang Papua. "Ia (Nicholas Jouwe) memahami betul perubahan 
yang terjadi di dunia, di Indonesia dan Papua dan seumur hidupnya niat tersebut 
terus diperjuangkan agar bagaimana Papua sejahtera, aman tanpa pemerintahan 
yang otoriter dan kini dapat dijawab dengan perubahan yang ada," bebernya.


Menurutnya saat ini tidak perlu melihat Papua bergabung dengan negara mana, 
entah itu Papua New Guinea, Australia ataupun negara mana jika Indonesia sudah 
menjawab semuanya.  "Dengan pemerintahan penuh, Otonomi Khusus dan stuktur 
pemerintahan yang lain bukanlah menjadi satu tujuan, tetapi sebaiknya dijadikan 
sarana untuk dikelola demi tujuan akhir yakni menjadikan masyarakat yang adil 
dan sejahtera tadi," imbuhnya. (fud/ade

<<UTM.jpg>>

Kirim email ke