Golput Berarti Tidak Hadir dan Berarti Juga Tidak Nyontreng !
Yang diberitakan sebagai Golput yang angkanya tinggi sekali sebenarnya ada 3
category, yaitu:
Mereka yang mencontreng secara tidak Syah,
Mereka yang tidak hadir, dan
Mereka yang tidak ada namanya dalam DPT.
Hanya mereka yang mencontreng secara tidak syah inilah yang seharusnya dihitung
sebagai Golput, mereka inilah yang kecewa terhadap pemilu. Mereka inilah yang
berusaha memprotes wakil2 rakyat dengan cara mencontreng dua atau tiga gambar
agar contrengannya dianggap tidak syah. Namun jumlah Golput kelompok ini tidak
banyak jumlahnya. Dan diperkirakan jumlah Golput kelompok ini kurang dari 2%,
dan jumlah ini bisa dihitung langsung di-masing2 lokasi pencontrengan.
Mereka yang tidak hadir kelokasi pencontrengan ini ternyata dihitung oleh media
juga sebagai Golput, dan kelompok Golput inilah yang tertinggi jumlahnya dan
selalu diributkan. Padahal kelompok ini sebetulnya adalah kelompok yang
memiliki ktp rangkap banyak bahkan tadinya bertugas untuk mencontreng
berulangkali untuk memenangkan partainya masing2. Hampir semua partai2 Islam
gurem mempersiapkan pecontreng2 partainya dengan ktp rangkap yang tentunya
dibantu oleh masing2 lurahnya. Sialnya, pada waktu pencontrengan, saksi2 dari
semua partai betul2 pasang mata untuk meneliti setiap pecontreng. Ternyata
banyak pecontreng2 yang berulangkali mencontreng ini tertangkap basah dilokasi
pencontrengan bahkan banyak yang langsung digebuki seperti maling. Pengalaman
buruk inilah yang menyebabkan banyak sekali pecontreng2 curang ini ketakutan
dan batal mencontreng berulang kali seperti yang ditugaskan masing2 partainya.
Wajar kalo mereka ini akhirnya tidak berani hadir untuk mencontreng ulang
karena ketakutan sehingga menyebabkan se-olah2 sebagai angka Golput yang tinggi.
Kelompok ketiga yang juga meriah diperdebatkan sebagai Golput adalah mereka
yang namanya tidak tercantum dalam DPT, dan hal ini disalahkan sebagai kambing
hitamnya adalah KPU. Padahal, KPU ini membuat DPT berdasarkan catatan ktp yang
diedarkan oleh masing2 kelurahan sehingga semua nama2 yang memiliki ktp syah
akan pasti terdaftar dalam DPT. Namun dalam penyusunan DPT yang berdasarkan
catatan pemilik ktp, KPU melakukan investigasi bahwa pemilik ktp itu memang
benar2 eksist dan untuk ini KPU dibantu oleh pengawas semua partai2 peserta
pemilu. Ternyata, banyak ktp yang beredar tetapi tidak ada manusianya, ada
yang sudah pindah, ada yang sudah mati, dan ada yang memiliki ktp rangkap
banyak. Tentu saja nama2 ini akhirnya dicoret, dihapuskan dari DPT yang
dikeluarkan oleh pihak KPU sehingga kembali dikambing hitamkan sebagai
penyelewengan pihak KPU, padahal mereka2 itulah yang seharusnya ditangkap
karena memiliki ktp rangkap maupun memasukkan nama2 yang tidak ada orangnya
karena sudah pindah maupun sudah mati. Dalam kasus ini, pihak KPU tetap
konsistent tidak mau menambahkan atau merubah catatan dalam DPT ini sehingga
terjadi kericuhan di Jawa Timur. Kasus inilah yang mendominasi tuduhan2
terhadap KPU, namun setelah diselidiki ternyata KPU sama sekali tidak bersalah,
sehingga setelah pencontrengan diulangi sekalipun, ternyata jumlah suara yang
kalah itu malah makin sedikit. Hal ini malah membuktikan, bahwa pihak yang
kalah inilah yang sebenarnya bermain curang dengan mengirimkan pecontreng2
ilegal-nya dan memprotes habis2an setelah kenyataannya tetap kalah bahkan makin
banyak angka kekalahannya setelah pencontrengannya diulangi.
> amien Merad <rajaben...@...> wrote:
> Tingginya angka Golput dalam pemilu
> Legislative ini disebabkan oleh:
> kesadaran Masyarakat bahwa mereka
> kecewa terhadap hasil pemilu th 2004
> cuma mengadopsi hukum2 Islam. contoh
> untuk wilayah Jakarta pemilu 2004
> PKS menang hasilnya adalah razia WTS,
> razia tempat2 hiburan , razia makanan
> haram razia aliran sesat , razia waria.
> Padahal masyarakat Jakarta butuh
> undang2 yang effectnya kesejahteraan
> masyarakat. Banyak orang Islam sendiri
> tidak setuju penberlakuan syariat Islam.
> apalagi nama2 Caleg rata2 nama Arab
> akan lebih khawatir lagi
>
Benar, mereka yang kecewa itu akan memilih Golput tetapi caranya tetap datang
ke lokasi pemilu dan mencoblos dua atau tiga gambar dan kadang2 mencoblos
dipinggir diantara dua gambar hingga coblosannya dianggap tidak syah untuk
dihitung.
Tetapi Golput yang dikatakan tinggi yang me-menuhi berita2 koran bukan kelompok
Golput yang mencontreng secara tidak syah ini, yang disebut sebagai Golput itu
justru mereka yang tidak mencontreng bahkan tidak pernah datang ke lokasi
pemilu itu sendiri karena mereka sebenarnya punya ktp rangkap banyak sehingga
bisa mencontreng berulangkali, namun karena banyak dari mereka yang tertangkap
dan digebukin akibat pengawasan yang ketat, maka mereka itu ketakutan dan tidak
berani mencontreng ulang sehingga karena tidak mencontreng dan tidak hadir
dilokasi pencontrengan, maka mereka dicatat sebagai juga Golput.
Jadi tingginya angka Golput lebih disebabkan mereka memiliki ktp rangkap
banyak. Penyebab Golput karena ktp rangkap ini bukanlah kesalahan KPU,
melainkan kesalahan Departement Dalam Negeri dari semua penguasa sebelumnya.
Dulu memang cara2 ini digunakan untuk menambah suara kelompok Golkar, tapi
sekarang pengawasan ketat dari semua parpol dan tidak lagi hanya satu kekuatan
tunggal seperti dizaman Suharto yang bisa se-wenang2 mencontreng berulang kali.
Ny. Muslim binti Muskitawati.