Biarpun Dibanjiri Investor, Pengangguran Tetap Tinggi !!!
Pengangguran sudah sangat tinggi di Indonesia, dan tetap makin tinggi setiap
harinya. Para penganggur ini bukan cuma berasal dari mereka yang dipecat atau
yang dirumahkan, tetapi juga mereka yang baru lulus sarjana, atau yang baru
lulus doktor, kesemuanya ini sama2 menganggur.
Masalahnya bukan karena para investor tidak mau mempekerjakan mereka, justru
sebaliknya, mereka tidak layak dipekerjakan karena sama sekali tidak ada yang
bisa dilakukan, tidak ada keahlian yang dipersyaratkan oleh para investor.
Para lulusan di Indonesia hampir 85% adalah lulusan sekolah2 agama, baik dari
sarjana Islam hingga doktor professor agama Islam. Padahal para investor
membutuhkan tenaga kerja yang ahli, yang berpengalaman, bukan tenaga yang bisa
memimpin shalat jum'at, juga tidak membutuhkan yang pandai bahasa Arab.
Padahal dana pendidikan pemerintah hampir 75% dilimpahkan untuk pendidikan
agama.
Wajar kalo akhirnya investor2 baru tidak ada yang melirik Indonesia, bahkan
investor2 yang sudah lamapun sekarang sedang menyusun langkah2 keluar dari
negeri serba salah ini.
Saya ketemu seorang investor sepatu Korea, dia bercerita sewaktu dia membayar
sebuah agent untuk mencapatkan 60 orang pekerja yang berpengalaman membuat
sepatu, ternyata si agent menyebarkan iklan-nya diberbagai mesjid2 dengan huruf
besar, "dicari pegawai untuk pabrik sepatu, syarat2nya bisa shalat dan bisa
baca Quran". Setelah terkumpul ratusan pelamar, oleh agent tersebut disodorkan
kepada HR dari pabrik sepatu Korea ini. Hasilnya setelah test interview
semuanya ditolak, dan akhirnya pabrik itu batal membuka pabriknya di Indonesia.
Situasi Indonesia betul2 mengkhawatirkan, biaya sekolah umum makin mahal,
lulusnya makin susah, ujiannya pun makin diperketat, akibat dari kesemuanya ini
akan jatuh pilihan yang paling gampang adalah melamar masuk sekolah atau
perguruan tinggi agama Islam seperti IAIN dlsb. Selain bayarannya bisa
tawar2an, bisa dicicil, juga biaya buku2nya sangat murah, tidak perlu banyak
fotocopyan. Dan yang paling penting dari kesemuanya itu, angka kelulusannya
hampir rata2 100% alias semuanya lulus. Celakanya, lapangan kerjanya terbatas
misalnya jadi caleg, jadi imam mesjid, dan jadi guru agama Islam.
Kenyataan ini memang menyebabkan prihatin yang parah sekali dari mereka yang
mengharapkan masa depan negara akan bertambah baik.
Dari pihak pemerintah RI sendiri sebenarnya juga kebingungan, jutaan pelajar
lulusan sekolah menengah tidak ada penampungannya, jumlah perguruan tinggi yang
bisa menampung pun tidak mencukupi, dan untuk membuka perguruan tinggi yang
lebih banyak sekalipun tidak ada dananya disamping tidak ada tenaga
pengajarnya. Akhirnya, agar tidak terjepit secara politis, maka pemerintah
melimpahkan segala dana yang ada untuk membangun ribuan perguruan2 tinggi agama
Islam dan sekolah2 agama Islam termasuk juga madrasah2 yang kesemuanya untuk
menampung sementara harapan mereka yang tidak punya harapan ini.
Waktu yang berjalan ini ibaratnya sebuah bomb waktu, setiap saat bisa mendadak
meledak menimbulkan bencana baru yang tentunya bukan bencana alam. Kekerasan
sudah berkembang di-mana2. Semua lulusan sekolah dan perguruan2 tinggi Islam
ber-bondong2 mendaftarkan dirinya sebagai caleg2, mereka bersaing dengan segala
cara, tapi tidak ada satupun cara2 yang bersih.
Ny. Muslim binti Muskitawati