"Rapat Rakyat", Pencarian Makna Kepemimpinan

 

Ia dapat menjadi kepribadian yang kuat dan teguh dalam semua keadaan, tetapi, 
ia juga dapat menjadi perahu rusak yang dalam samudra kehidupan ini 
diombang-ambingkan gelombang berbagai macam kenafsuan...” (Driyarkara).
Ini adalah kisah di lain dunia. Rapat rakyat adalah ideologi sekaligus alat 
legitimasi kekuasaan kota Wijaya. Lewat rapat rakyat, segala hal baik itu soal 
pemimpin, undang-undang, dan segala urusan publik diputuskan dan dilaksanakan. 
Dalam rapat rakyat semua warga kota boleh urun pendapat dan mengemukakan 
gagasannya secara bebas tetapi bertanggung jawab.
Rapat rakyat adalah serpihan-serpihan pengalaman. Pengalaman itu kaya dan 
beraneka, terentang dari zaman ketika penguasa tunggal berkuasa sampai zaman 
ketika semua bebas bersuara. Serpihan-serpihan itulah 
yang diangkat dalam pentas Teater Driyarkara bertajuk ”Rapat Rakyat” yang 
digelar di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 18-19 April 
2009.
Naskah karya K Andi Tarigan, SA Tama, dan Betha yang disutradarai Adi Kurdi 
itu dipentaskan dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-40 Sekolah Tinggi 
Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta. Pementasan ini mengusung tema pencarian 
makna 
kepemimpinan dan kedaulatan rakyat.
Empat puluh tahun lalu STF Driyarkara didirikan atas prakarsa Prof Dr 
Nicolaus Drijarkara SJ. Drijarkara adalah seorang pelopor perkembangan filsafat 
di Indonesia. 
Ia pun pernah menjabat sebagai anggota MPRS dan DPA dalam kurun waktu 
1962-1967.
Keberadaan STF Driyarkara di atas mimpinya itu dimaksudkan sebagai tempat 
pelajaran dan penelitian filsafat akademik. Selain itu, lembaga akademik ini 
bermaksud menyiapkan manusia-manusia pemikir bagi Indonesia 
yang inklusif lintas SARA. Semangat inilah yang mencitrakan STF Driyarkara 
sebagai sumber pemikiran yang bertanggung jawab, berorientasi pada harkat 
kemanusiaan yang universal.
Krisis kepemimpinan
Teater yang ditampilkan oleh para mahasiswa STF Driyarkara itu berkisah 
tentang kota Wijaya yang mengalami krisis kepemimpinan. Hakim agung pun 
mengusulkan untuk mengadakan rapat rakyat untuk mencari pemimpin baru. Rapat 
rakyat digelar dan di sana diputuskan mengadakan audisi para calon pemimpin 
rakyat.
Pemilu dilangsungkan, kampanye digelar. Para peserta dari berbagai kalangan 
mulai dari artis penyanyi dangdut, rastafarian, sesepuh kampung, hingga 
pengusaha berlomba merebut hati dewan juri. Tak dinyana, pilihan pemimpin 
rakyat 
kota Wijaya jatuh kepada Satriyo Piningit yang dijuluki Bang Sat (diperankan 
Bovan). Ia sosok yang eksentrik, mistik, karismatik, dan sok mencintai 
kebijaksanaan.
Masa kepemimpinan Satriyo Piningit diisi dengan kuliah-kuliah untuk 
mencerdaskan kehidupan kota walau pada praktiknya menjadi bentuk pembodohan 
kepada rakyat. Indoktrinasi dilancarkan secara halus dan kehidupan kota pun 
menjadi kacau. Perekonomian remuk karena rakyat sibuk belajar, berpikir, tetapi 
tidak bertindak dan tidak terampil berkarya.
Muncullah Bung Sukwoso, diperankan SA Tama, yang haus kekuasaan. Ia berusaha 
merebut kursi Satriyo Piningit dengan segala cara: menghasut dan mengadu domba 
rakyat.
Atas semua intrik-intrik dan gesekan-gesekan itu muncul pertanyaan di hati 
rakyat: apa itu kepemimpinan? Mungkinkah pribadi-pribadi yang egois dan haus 
kuasa dapat hidup bersama dan membentuk kota? Itulah yang kini tengah dialami 
Indonesia 
yang sedang mencari pemimpin baru.
Para mahasiswa STF Driyarkara mengajak kita berpikir secara jernih dalam 
menentukan pilihan. Semoga saja presiden yang terpilih nanti dapat membawa 
rakyatnya pada kehidupan yang lebih baik lagi.(ELOK DYAH 
MESSWATI)
 
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/20/03404322/rapat.rakyat.pencarian.makna.kepemimpinan

              http://groups.google.com/group/suara-indonesia?hl=id


      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke