Capresnya Cuma Suharto Sebagai Calon Tunggal Lebih Fair ???
                                 
Memang kalo kalah dukungan suara rakyat karena tidak dipercaya rakyat banyak 
membuat capres, cagub, dan ca ca ca lainnya menjadi kalap, mereka malu menerima 
kenyataan sehingga cari2 kambing hitam yang membuat diri mereka sendiri jadi 
kelihatan hitamnya dimata para pemilih.

Saking kalapnya, mereka ini bilang bahwa Suharto lebih fair dalam melaksanakan 
pemilu ini.  Padahal mereka itu salah, Suharto belum pernah ikut serta dalam 
pemilu karena rekayasa pemilu yang dilakukannya sama sekali bukanlah yang 
dinamakan pemilu karena yang namanya pemilu harus dipilih satu presiden dari 
beberapa calon2 yang diajukan.  Dizaman Suharto, setiap partai harus mengajukan 
satu calon dan calonnya itu cuma Suharto.  contohnya, PPP mengajukan capresnya 
adalah Suharto, sementara itu PDI juga mengajukan capresnya jendral Suharto, 
Golkar mengusung satu capres yaitu Suharto, dan akhirnya Suharto "terpilih" 
menjadi presiden.  Sebenarnya Suharto bukan "dipilih" melainkan "diangkat" jadi 
presiden.

Lain dizaman Suharto, lain lagi dizaman sekarang, setiap partai bebas untuk 
mendukung satu calon presiden atau mau koalisi dengan calon presiden dari 
partai lainnya.  Namun calon presiden itu yang nantinya dipilih rakyat secara 
langsung tidak boleh cuma satu nama, harus lebih dari satu kandidat, boleh dua 
atau boleh tiga atau empat.  Jadi enggak mungkin dalam kondisi sekarang bisa 
kita anggap bahwa cara pemilu dizaman Suharto itu lebih fair, kata2 ini 
hanyalah dikeluarkan oleh mereka yang kalap jadi mata gelap sehingga apapun 
yang enggak masuk akal dipaksakan kepada rakyat untuk diterima.  Namun cara2 
begini justru menimbulkan antipati, menimbulkan cemoohan dari seluruh rakyat di 
Indonesia, bahkan yang tadinya bersimpati ingin mendukung suaranya kepada calon 
ini malah akhirnya menarik suaranya dan mendukung calon lainnya.

Akibat cara2 tuduhan kambing hitam seperti ini, akhirnya SBY malah jadi makin 
populer karena dialah yang dijadikan korban atau kambing hitam-nya untuk 
dijagal.

> "alfaqirilmi" <alfaqiri...@...> wrote:
> Khofifah: Orba Lebih Fair daripada
> Orde Reformasi. Pasalnya, jutaan pemilih
> terpaksa golput karena tak masuk dalam
> Daftar Pemilih Tetap (DPT). Kasus itu
> sama persis dengan kasus Pilgub Jatim
> lalu.
>

Ini cuma contoh omongan orang yang kalap karena kalah tak didukung rakyatnya 
sendiri.  Bagaimana rumusnya bisa dianggap Orba lebih fair daripada Orde 
Reformasi???  Padahal pemilu dizaman orba capres yang dipilih itu hanyalah cuma 
satu orang tak boleh ada calon lainnya lagi.  Jadi enggak salah kalo omongan 
ini merupakan omongan kalap mata gelap karena gagal terpilih meskipun 
pemilu-nya diulangi dua kali ternyata tetap juga kalah.

Cari2 kambing hitam menyalahkan DPT itu sih bukanlah cuma merugikan pihak yang 
kalah saja, tetapi juga pihak yang menang juga lebih banyak dirugikan karena 
suaranya yang mendukung mereka pasti lebih banyak dianggap golput.

Tidak masuknya beberapa orang itu khan banyak sebabnya, yang pasti banyak yang 
tidak berhak memasukkan nama secara rangkap dimana meskipun namanya ber-beda2 
tetapi orangnya sama.

Permainan DPT ini justru merupakan konspirasi partai2 Islam yang sengaja 
membuat ktp rangkap agar bisa tinggi suaranya dalam memaksakan pemda 
memberlakukan Syariah Islam dibanyak tempat beberapa waktu yang lalu.  Kemudian 
ktp rangkap ini tetap masih dimiliki, ada seorang ulama yang memiliki 20 ktp 
dengan nama2 yang berbeda.  Mereka2 pendukung partai2 Islam gurem inilah yang 
rajin membuat ktp rangkap itu yang kemudian mau dimanfaatkan dalam pemilu 
sekarang.

Jadi kalo banyak nama2 yang dihapuskan dari DPT itu sama sekali bukanlah 
penyelewengan justru merupakan pelurusan dari mereka yang berusaha mencurangi 
pemilu.  Dan mereka para pelakunya semuanya adalah pendukung partai2 Islam 
gurem yang karena suaranya kecil tapi karena mau memaksakan kemauannya kepada 
yang mayoritas maka mereka berjuang dengan cara2 yang terkutuk ini.

Itulah sebabnya, Kofifah yang pada pemilu itu gagal terpilih jadi gubernur, 
setelah protes macem2 minta pemilunya diulang dan para pengikutnya jadi 
pengawas yang diikut sertakan, hasilnya malah lebih parah, suara kofifah makin 
rendah sedangkan lawannya makin banyak pemilihnya.  Tetap enggak mau ngakui 
kekalahan, bikin tuduhan macem2 yang tidak didukung bukti2 yang bisa 
ditunjukkan.  Dia protes2 lagi, tetapi ditolak oleh pengadilan dan ditolak oleh 
MK karena sudah diluar rasional dan sama sekali tidak logis.

Sekali lagi, DPT itu bukanlah ciptaan KPPU, dan juga bukan rekayasa presiden.  
DPT itu hanyalah catatan nama2 dari ktp yang pernah dikeluarkan oleh kelurahan 
setempat.  Mungkin saja catatan ini tidak sempurna, namun ketidak sempurnaan 
ini bukanlah tanggung jawab KPPU maupun presiden.  Kalopun ada partai yang 
merasa dirugikan, tidaklah tepat karena kekurangan DPT ini bukan cuma merugikan 
satu atau dua partai saja tetapi juga merugikan seluruh partai2 yang ikut 
pemilu.  Bahkan yang paling besar dirugikan justru partai2 yang paling banyak 
pendukung2nya karena distribusi kehilangan suara ini sifatnya random dan merata 
sesuai distribusi suara yang berhasil dikumpulkan.

Misalnya, ada 200 suara yang hilang dari DPT, padahal pendukung kofifah ada 150 
suara dan pendukung lawannya ada 200 suara.  Hasil ini tidak akan berubah 
apabila 200 suara yang hilang itu dimasukkan.  Artinya, kalo pemilu-nya diulang 
dengan tambahan 200 suara yang sebelumnya tidak diikut sertakan, bukanlah 
menjadikan pendukung suara kofifah menjadi 150+200=350 suara yang dianggapnya 
lebih menang dari suara lawannya yang cuma 200 suara itu.  Tetap saja ada 
kemungkinan dari 200 suara tambahan ini masing2 mendapatkan 100 sehingga jumlah 
suara pendukung kofifah menjadi 250 tapi lawannya menjadi 300 suara.  
Celakanya, suara kofifah cuma naik 25 sehingga jumlah pendukung kofifah 
hanyalah 150+25=175, sedangkan jumlah suara pendukung lawannya menjadi 
200+175=375.  Demikianlah kenyataannya kofifah akhirnya dinyatakan kalah 
meskipun menolak kalah.

Permainan curang DPT dengan menambah jumlah nama2 fiktif dari pemilik ktp 
rangkap banyak ini justru didominasi praktek2nya oleh mereka yang menuduh 
curang, meskipun mereka memiliki banyak nama2 fiktif ternyata tidak semuanya 
yang bisa diterima KPPU untuk masuk kedapalam DPT ini, karena oleh KPPU alamat 
dalam ktp tsb didatangi dan diperiksa ternyata mereka orangnya sama sehingga 
nama2 rangkap ini akhirnya dicoret dihapuskan oleh pihak KPPU.

Itulah sebabnya, bagaimana polisi mau menindak KPPU atas tuduhan memanipulasi 
DPT sementara isi DPT itu berasal dari kelurahan???  Lalu apa yang mau 
dijadikan bahan penuntutan karena terbukti nama2 yang dihapuskan dari DPT 
adalah nama2 pemilik ktp rangkap banyak yang berusaha main curang ini????

DPT memang ada cacatnya, ada kekurangannya, tetapi semua cacat dan kekurang 
sempurnaan DPT ini sama sekali bukanlah kecurangan karena resikonya ditanggung 
oleh semua peserta pemilu bukan cuma ditanggung mereka yang kalah dukungan 
rakyat dalam pemilu ini.

Oleh karena itu, boleh saja ber-gembar gembor untuk memboikot, kenyataannya 
masyarakat lebih banyak yang mencemohkan mereka yang gembar gembor ini yang 
pada hakekatnya bisa dipastikan tidak mendapatkan suara dukungan rakyat banyak.

Ny. Muslim binti Muskitawati.





Kirim email ke