PEMILIHAN PRESIDEN 27 - 28 Juli 2009 sudah hampir tiba, lalu Presiden yang 
bagaimana yang harus kita pilih agar Bangsa Indonesia ini benar benar bisa 
berdiri tegak diatas kakinya sendiri dan menjadi bangsa yang memiliki DAMAI dan 
SEJAHTERA. Marilah kita kunjungi di www.partaidamaiseja htera.com, lihatlah 
semua penjelasan dari isi videonya, dari situ kita bisa mendapatkan suatu 
pandangan, bahwa kita harus bisa mencampur suatu adonan sesuai dengan 
takarannya lalu dimasak bersama, dengan demikian maka akan menjadi sebuah 
makanan yang amat lezat untuk kita santap bersama. Sebagai analogi kecilnya, 
lihatlah foto yang kami kirimkan pada attachment ini dan Power Point yang kami 
kirimkan juga pada attachment ini, sehingga kita bisa mendapatkan suatu 
pencerahan sejenak, tentang siapakah sebenarnya PARTAI DAMAI SEJAHTERA itu, 
sehingga kita tidak bisa dengan mudah diprovokasi oleh siapapun. Selamat 
menikmati, dan selamat mendapatkan DAMAI dan SEJAHTERA di BUMI PERTIWI 
INDONESIA. Salam dalam kasihNYA Ir. H.L. NjooKetua Dewan Pimpinan 
KomisariatPARTAI DAMAI SEJAHTERAdi Seoul, Republik Koreawismaindonesia@ 
yahoo.com

Ingat SEMBOYAN ini, Kitab Keluaran 18:21, Keluaran 23:8, Ulangan 16:19, Ulangan 
27:25, Mazmur 100: 1 - 5 dan 1 Korintus 1:10, Amsal 3:5 


MARI KITA BERSATU PADUUNTUK MEMBANGUN BANGSA DAN NEGARAKESATUAN REPUBLIK 
INDONESIA 
 


--- On Fri, 4/24/09, wahyudi yudi <wahyudibaca@ yahoo.com> wrote:


From: wahyudi yudi <wahyudibaca@ yahoo.com>
Subject: [koran-sastra] Waspadai Ramalan Ke-7 Joyoboyo
To: 
Date: Friday, April 24, 2009, 12:15 PM




Waspadai Ramalan Ke-7 Joyoboyo

Sujiwo Tejo 
Sebanyak enam ramalan Joyoboyo terjadi, adakah ramalan ketujuh bakal muncul?
Keenam ramalan Joyoboyo yang sudah terjadi adalah runtuhnya Majapahit; Belanda 
masuk; hengkangnya Belanda; Jepang masuk; perang saudara; dan bertenggernya 
kekuasaan tentara. Sedangkan ramalan ketujuh adalah Tikus pithi anoto baris. 
Tafsirnya, barisan pemberontakan rakyat Nusantara dari berbagai penjuru.
Geger 1998 yang melengserkan Presiden Soeharto sebetulnya belum merata. Bisa 
dikatakan, ini cuma pecah di beberapa kampus, Gedung MPR/DPR, Glodok, dan 
beberapa tempat di Jakarta. Situasi akan jauh berbeda dibandingkan berkobarnya 
api dari tikus pithi anoto baris yang sekamnya kini mulai rantak membara di 
sekujur Nusantara karena cekcok pemilu legislatif.
Namun, tikus pithi anoto baris sebenarnya bisa dihindari. Nujum memang bertugas 
membuat kita pasrah menyongsong kehadirannya yang laksana nasib. Tetapi, 
bukankah nubuat juga bertugas membuat kita ancang-ancang, waspada, dan 
melakukan berbagai nazar agar kehadirannya batal?
Membatalkan hasil pemilu?
Menggugurkan hasil pemilu legislatif kelihatannya sudah tidak mungkin, demi 
beberapa fakta. Antara lain, pertama, partai-partai besar dan partai-partai 
lumayan sudah sibuk memikirkan koalisi untuk pemilu presiden. Artinya, tanpa 
dikatakan, mereka sebenarnya sudah nrimo hasil pemilu legislatif.
Kedua, Mahkamah Konstitusi mengatakan, pemilu legislatif mustahil dibatalkan. 
Yang bisa diubah atas dasar persidangan perkara hanya komposisi penghasilan 
suara partai.
Ketiga, Prabowo Subianto sang ¡±Kuda Hitam¡±, perlu menggalang dukungan 
partai-partai kecil untuk dapat maju dalam pemilu presiden. Dalam logika 
sederhana dan awam, itu berarti partai-partai kecil harus menandatangani berita 
acara keabsahan pemilu legislatif.
Cacah ulang
Yang paling mungkin menghindari tikus pithi anoto baris adalah titah 
kepemimpinan nasional agar semua pihak gotong royong membantu cacah ulang 
peserta pemilu presiden mendatang. Ini karena perasaan saja bahwa ada atau 
tidak ada rekayasa politik, daftar pemilih tetap (DPT) akan kacau jika data 
mentah yang mendasarinya pun sudah kacau.
Titah dan ketegasan sikap kepemimpinan nasional inilah yang akan membuat cacah 
ulang data dasar tak bakal mustahil dilakukan dalam waktu singkat. Apalagi 
dengan bantuan teknologi informasi.
Misalnya, mengaktifkan lagi petugas BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana 
Nasional) yang tersebar sampai pelosok. Kita ingat, bahkan sampai tingkat desa, 
para petugas itu tidak cuma mencatat peserta KB. Dalam wilayah tugasnya dan 
dalam perkembangan berikutnya, mereka tahu siapa yang Lampid (lahir, mati, 
pindah, datang). Kabarnya mereka masih punya data hingga 2005. Sistem 
pendataannya pun masih ada. Begitu tombol diaktifkan, ... jalan!
Titah dan ketegasan sikap kepemimpinan nasional itu juga bisa menggerakkan 
ibu-ibu PKK, Karang Taruna, dan Pramuka serta RT/RW untuk saling bahu-membahu. 
Hasil pencacahan berbagai pihak itu saling di-cross check dengan hasil dari 
administrasi kependudukan Depdagri yang punya wilayah di tiap pusat provinsi 
maupun dinas-dinas catatan sipil tingkat kota/kabupaten yang punya tangan 
sampai tingkat RT. Holopis kuntul baris dan rambate rata hayo dari semua ini 
kita pasok data dasar ke KPU yang selanjutnya akan memprosesnya menjadi DPT.
Mungkin saja keaktifan penyelenggara negara dalam pencatatan ulang ini 
menyimpang dari undang-undang yang justru mengharuskan rakyat aktif mencatatkan 
diri sendiri, penyelenggara negara pasif. Tetapi, seingat penulis, jika 
kemudian terbukti UU bertentangan dengan akal sehat dan kondisi nyata 
masyarakat, kepemimpinan nasional bisa mengeluarkan peraturan pengganti 
undang-undang. Maka, lebih baik mempunyai undang-undang buruk tetapi hakimnya 
(pemimpinnya) baik dan bernurani daripada sebaliknya.
Langkah lain
Selain cacah ulang data yang mendasari penyusunan DPT untuk pemilu presiden, 
mungkin masih ada langkah- langkah lain penghindaran tikus pithi anoto baris. 
Yang pasti, segenap upaya penghindaran harus dituntaskan.
Ini penting mengingat enam ramalan Joyoboyo sudah terjadi, yaitu Murcane Sabdo 
Palon Noyo Genggong (runtuhnya Majapahit), Semut Ireng Anak-anak Sapi (masuknya 
Belanda), Kebo Nyabrang Kali (Belanda kenyang dan hengkang), Kejajah Saumur 
Jagung Karo Wong Cebol Kepalang (Jepang masuk 3,5 tahun), Pitik Tarung Sak 
Kandang (perang saudara zaman Bung Karno), Kodok Ijo Ongkang-0ngkang (tentara 
berkuasa era Soeharto).
Hitung-hitung, sambil menjajal diri, siapakah yang lebih sakti, kita semua dari 
milenium ini atau ¡±cuma¡± seorang diri Joyoboyo dari abad ke-11 silam?
Sujiwo Tejo Dalang
 
 


FirmanMU itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Aku telah bersumpah 
dan aku akan menepatinya, untuk berpegang pada hukum hukumMU yang adil (Mazmur 
119:105 -106) Your word is a lamp to my feet and a light for my path. I have 
taken an oath and confirmed it, that I will follow your righteous laws (Psalm 
119: 105 - 106) 



Kirim email ke