Ini buku biografi dalam rangka kampanye pemilu.  Tujuannya untuk menarik suara2 
simpatisan PKI dan simpatisan2 Masyumi.

Dengan kata2 tegas Taufik mengajak orang2 PKI itu untuk memilih Mega dan juga 
mengajak umat Islam simpatisan Masyumi memilih Mega.

Jelasnya, isi biografi itu bohong, karena Taufik jelas tidak pernah membantu 
nasib orang2 PKI, dan dizaman Mega jadi presiden tidak ada satupun orang2 PKI 
yang direhabilitasi agar ktp-nya tidak ditandai.  Sampai akhir kekuasaan 
Megawati sekalipun orang2 PKI itu tetap didiskriminasi.  Jangankan orang2 PKI, 
bahkan anggauta2 PDIP yang jadi korban penyerbuan Golkar pada 27 July sekalipun 
tidak ada yang ditangkap dan diproses pengadilannya, malah para pelakunya 
diampuni melalui islah nasional dimana Mega dijanjikan Golkar untuk 
mendukungnya menggulingkan Gus Dur.  Gus Dur yang tadinya sudah siap membantu 
menangkapi para pelaku terror 27 Juli dikantor pusat PDIP ini akhirnya harus 
membatalkannya karena dia digulingkan Megawati yang berkonspirasi dengan Golkar.

Lalu sekarang Taufik merekayasa biografinya untuk cari dukungan tentunya sia2 
karena para korban2 itu tidak akan pernah melupakan Mega-Taufik yang cuma rakus 
kekuasaan dan uang.

Janganlah mengharep dukungan, semua orang sudah cerita dari mulut kemulut 
betapa licik, licin, dan palsunya orang2 seperti Megawati dan Taufik Kiemas ini.

Ny. Muslim binti Muskitawati.

















--- In [email protected], "sunny" <am...@...> wrote:
>
> http://politik.vivanews.com/news/read/31861-saat_di_bui__taufiq_belajar_pada_tokoh_pki
> 
> Buku Biografi Politik Taufiq Kiemas (III)
> 
> Saat di Bui, Taufiq Belajar pada Tokoh PKI
> "Pengetahuan dan pengalaman politik mereka hebat-hebat," kata Taufiq Kiemas.
> Jum'at, 20 Februari 2009, 09:04 WIB
> Arfi Bambani Amri
> BERITA TERKAIT
>   a.. Dibesarkan Masjumi yang Condong ke Murba 
>   b.. Taufiq Kiemas Luncurkan Buku Biografi 
> VIVAnews - Setelah dibesarkan di tengah keluarga Masjumi yang kental 
> ke-Islamannya, Taufiq Kiemas lalu "merantau" ke kalangan nasionalisme di 
> Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia. Namun perantauan pengetahuannya belum 
> berhenti di sana. Suatu waktu dalam perjalanan hidupnya, Taufiq sempat 
> menimba ilmu dari tokoh-tokoh Partai Komunis Indonesia.
> 
> Suatu waktu, pada Maret 1966, koran Noesa Poetra milik Partai Syarikat 
> Indonesia yang dikenal dekat dengan partai yang telah almarhum, Masjumi, 
> menurunkan berita Soekarno terlibat gerakan 30 September. Partai Nasional 
> Indonesia yang saat itu dipimpin Ali-Surcahman disebut berafiliasi dengan 
> Partai Komunis Indonesia.
> 
> Berita ini membuat aktivis-aktivis GMNI Palembang yang saat itu dipimpin 
> Taufiq berang. Pagi-pagi, sebelum koran sempat diedarkan dari percetakannya, 
> mereka membakarnya.
> 
> Taufiq sebenarnya tak tahu menahu kejadian itu. Tahu-tahu Taufiq didatangi 
> kader-kader GMNI menyatakan merekalah pelaku pembakaran. Taufiq yang merasa 
> harus bertanggung jawab menyatakan siap menanggung ulah kawan-kawannya itu.
> 
> "Saya pikir, kalau saya enggak berani bertanggung jawab hari ini, saya tidak 
> akan berani bertanggung jawab sampai kapanpun selama hidup saya," ujar Taufiq 
> dalam biografi politiknya "Jembatan Kebangsaan" yang diluncurkan Kamis 19 
> Februari 2009.
> 
> Taufiq akhirnya dicokok aparat keamanan bersama sejumlah kader GMNI Palembang 
> lainnya. Mereka dijebloskan dalam sel tahan Corps Polisi Militer Kodam 
> Sriwijaya, Palembang. Awalnya mereka berdesak-desakan dengan ratusan tahanan 
> PKI, namun setelah itu ditaruh dalam satu sel tersendiri.
> 
> Selama penahanan itu, salah satu kawan Taufiq yang bernama Hasan jatuh sakit. 
> Hasan akhirnya meninggal dunia saat ditahan bersama Taufiq dan 21 kader GMNI 
> lainnya. Namun, kata Taufiq, perlakuan terhadap tahanan PKI lebih buruk lagi 
> daripada yang mereka tanggungkan. "Orang-orang yang terindikasi PKI disiksa, 
> lantas dihabisi begitu saja tanpa catatan atau pengadilan apapun," kata 
> Taufiq.
> 
> Saat Taufiq ditahan, keluarganya terkena imbasnya. Bapaknya, Tjik Agus Kiemas 
> yang saat itu Kepala Dinas Jawatan Perdagangan Sumatera Selatan dicopot dari 
> jabatannya. Adiknya, Santayana Kiemas, dikeluarkan dari sekolahnya.
> 
> Taufiq akhirnya dibebaskan dari penjara, namun dengan catatan, tak boleh lagi 
> tinggal di Palembang. Kebebasan Taufiq dijamin dua jenderal, Jenderal AH 
> Nasution dan Letnan Jenderal Alamsjah Ratu Prawiranegara, yang merupakan 
> kenalan ayahnya ketika aktif sebagai tentara. Begitu bebas, Taufiq lalu 
> merantau ke Jakarta, ke kota kelahirannya.
> 
> Namun tak sampai setahun di Jakarta, tahun 1967, ayahnya berpulang. Taufiq 
> yang anak sulung kemudian mengambil alih posisi kepala keluarga. Bersama 
> adiknya, Santayana, mereka menghidupi ibu Hamzatun Rusjda, tiga adik 
> laki-laki dan lima adik perempuan mereka. Taufiq membanting tulang melakoni 
> berbagai macam bisnis. Namun sembari mencari uang, politik tak pernah hilang 
> dari hidupnya.
> 
> Kondisi politik yang masih carut-marut setelah kekacauan tahun 1965 membuat 
> Taufiq terus-menerus gelisah. Dia terus membina hubungan dengan mantan 
> aktivis GMNI. Belakangan dia membina hubungan dengan sejumlah perwira muda 
> Soekarnois. Namun jaringan ini bocor, Taufiq lagi-lagi dijebloskan dalam 
> penjara: Rumah Tahanan Militer Budi Utomo Jakarta.
> 
> Di penjara yang dikatakan Taufiq bak 'Hotel Indonesia' itu, dia berkumpul 
> dengan tahanan-tahanan politik kaliber nasional dari berbagai aliran. Taufiq 
> berkenalan tokoh-tokoh dari aliran Islam ekstrim, Soekarnois, dan kader-kader 
> PKI dan organisasi massa underbouw-nya.
> 
> Taufiq tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Hampir tiap hari, dia menyambangi 
> satu-satu tokoh-tokoh politik yang kebanyakan berafiliasi ke PKI itu. "Aku 
> beruntung bisa belajar banyak dari tokoh-tokoh politik itu. Pengetahuan dan 
> pengalaman politik mereka hebat-hebat," katanya dalam buku yang disusun 
> Rustam F Mandayun, Muhammad Yamin, Helmy Fauzy dan Imran Hasibuan itu.
> 
> Satu setengah tahun mendekam di penjara itu membuat Taufiq mendapat ilmu 
> politik yang banyak. Taufiq mendapatkan satu hal: "Kalau mau main politik, 
> harus punya jaringan yang luas. Dan untuk membina jaringan politik itu, sikap 
> apriori sedapat mungkin harus dihilangkan bahkan terhadap lawan politik 
> sekalipun."
> 
> Begitu keluar, Taufiq pun belajar terbuka dengan berbagai aliran politik. 
> Siapapun didekatinya termasuk tentara. "Saat itu aku berpikir harus belajar 
> politik dari yang menang, bukan yang kalah," katanya. Dan pemenang krisis 
> politik saat itu jelas hanya satu: tentara.
> 
> Namun pengalaman Taufiq berinteraksi dengan tokoh-tokoh PKI sempat mendapat 
> sandungan. Taufiq dituduh lawan-lawan politiknya saat di Partai Demokrasi 
> Indonesia tidak bersih diri alias terlibat PKI. "Tuduhan itu jelas ngawur," 
> kata Taufiq membantah.
> 
> Badan Intelijen Strategis bahkan sempat mengusut keterlibatan Taufiq dalam 
> aktivitas PKI. Pengusutan itu jelas tidak menemukan indikasi itu sama sekali. 
> Taufiq dinyatakan "bersih diri" dan "bersih lingkungan". Dan seperti 
> disebutkan AM Hendropriyono yang saat itu pejabat menengah di Badan Intelijen 
> Strategis, laporan mengenai Taufiq itu pun sampai ke tangan Presiden Soeharto.
>


Kirim email ke