-- On Sat, 5/16/09, Alex Simanjuntak <[email protected]> wrote:

From: Alex Simanjuntak <[email protected]>
Subject: [HKSIS] Gerakan Rakyat Tolak Capres dan Cawapres Antek Asing
To: [email protected], "Christian Post" <[email protected]>, 
[email protected], [email protected], "Ignas K" 
<[email protected]>, "JATAM" <[email protected]>, "JIL" 
<[email protected]>, "Komite Anti Utang" <[email protected]>, "KR Kedaulatan 
Pangan" <[email protected]>, [email protected], "Marhaenis" 
<[email protected]>, [email protected], "PRP Pusat" 
<[email protected]>, [email protected], "Sinar Harapan" 
<[email protected]>, "WALHI" <[email protected]>
Cc: "Cenderawasih Pos" <[email protected]>, [email protected], "Fed Serikat 
Petani Indonesia" <[email protected]>, [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], "Mariana JP" <[email protected]>, 
[email protected], "MSAnwar" <[email protected]>, 
[email protected], [email protected], [email protected], 
"Wahid Inst" <[email protected]>
Date: Saturday, May 16, 2009, 5:50 AM












Gerakan Rakyat Tolak Capres dan Cawapres Antek Asing

Kamis, 14 Mei 2009, 09:47:58 WIB RAKYAT MERDEKA

Laporan: M Hendry Ginting






 Jakarta, RMonline. Setelah SBY memutuskan Boediono sebagai cawapres SBY, 
gerakan anti asing semakin menguat. 

Seperti yang disuarakan Gerakan Rakyat Untuk Perubahan. Gerakan ini secara 
tegas menolak segala bentuk intervensi asing, termasuk yang berkedok bantuan 
luar negeri ke Indonesia. 

“Kita harus menolak capres dan cawapres yang jadi antek asing, neolib, 
mengandalkan utang luar negeri dan privatisasi BUMN,” tegas Ketua Umum Pemuda 
Tani, Supriyanto, kemarin (13/5) saat menyikapi perkembangan politik terkini di 
dalam negeri berkaitan dengan Pilpres 2009. 

Saat memberikan keterangan Supriyanto didampingi aktivis yang tergabung dalam 
gerakan tersebut yakni Ketua Umum KAMMI Rahman Toha, Adi dari PMKRI dan 
Andriyanto (Prodem). 

Pemuda Tani adalah salah satu elemen yang bergabung dalam Gerakan Rakyat Untuk 
Perubahan. Gerakan ini juga menolak capres dan cawapres yang tidak memiliki 
visi dan misi kerakyatan yang jelas. 

Menurut dia, menghadapi pilpres, rakyat bingung melihat perkembangan demokrasi 
yang terjadi belakangan ini, terutama koalisi yang dibangun partai politik. 
Koalisi tersebut katanya, tidak dilandaskan pada program pro rakyat dan hanya 
mengejar kekuasaan. 

Supri mengatakan, Gerakan Rakyat Untuk Perubahan menolak capres dan cawapres 
yang berparadigma neoliberal yang tunduk kepada kepentingan dan intervensi 
asing. 

Nah, dimata kalangan mahasiswa, sosok Boediono adalah kepanjangan tangan dari 
kepentingan asing. Oleh karena itu Supriyanto mengatakan, resistensi Boediono 
sangat tinggi terutama dikalangan mahasiswa. 

“Dia (Boediono) karena dikenal berbasis neolib. Belum lagi masalah utang luar 
negeri yang sangat besar yang akan menjadi beban generasi muda. Sebab 20 persen 
APBN kita dipakai untuk membayar utang,” tukasnya. 

Adapun Rahman Thoha menambahkan Gerakan Rakyat Untuk Perubahan menolak capres 
dan cawapres kosmetik, jargonis yang hanya memberikan janji-janji perubahan 
palsu. 

Rahman mengingatkan, rekam jejak bangsa ini telah menggoreskan sejarah adanya 
penjualan sumber daya alam ke asing, privatisasi, liberalisasi dan masih 
menerima hutang baru yang semakin menumpuk. 

“Untuk itu bangsa ini membutuhkan capres dan cawapres yang berani melawan 
intervensi asing, berani melaksanakan ekonomi kerakyatan, berani menolak utang 
luar negeri, berani memperjuangkan hak-hak rakyat untuk lepas dari belenggu 
penderitaan dan penindasan,” tandas Rahman. [dry] 





All new Yahoo! Mail - Get a sneak peak at messages with a handy reading pane.
















      

Kirim email ke