Refleksi: Bagaimana kalau dilihat dari segi pelanggaran hak-azasi manusia dan 
militer dari pada etnik?


http://www.harianterbit.com/artikel/rubrik/artikel.php?aid=67899


JK-WIN menantang mitos Presiden Jawa
      Tanggal :  18 May 2009 
      Sumber :  Harian Terbit 


Oleh Ballian Siregar


MAJUNYA pasangan Jusuf Kalla- Wiranto (JK-WIN) pada pertarungan Pemilihan 
Presiden (Pilpres) RI, pada 8 Juli mendatang, merupakan terobosan berani 
sekaligus menantang mitos presiden dari suku Jawa yang telah mengkristal dalam 
benak bangsa Indonesia selama berpuluh-puluh tahun, khususnya suku orang Jawa. 
Mitos tersebut menyebutkan bahwa Presiden Indonesia harus orang dari orang 
Jawa. 

Mitos itu terjaga dan terus terpelihara sehingga semakin kuat mencengkram dalam 
benak bangsa dari satu generiasi ke generasi berikutnya hingga saat ini. Belum 
ada penelitian yang mengukur mitos tersebut dengan ramalan seorang pujangga 
kenamaan, Jayabaya tentang seseorang yang bakal menjadi Presiden Republik 
Indonesia. Ramalannya berkata, Indonesia sebelum menuju era adil makmur, akan 
dipimpin lima orang presiden yang namanya berakhiran no-to-na-go-ro. 

Presiden pertama RI bernama Soekarno yang berakhiran no, presiden kedua 
Soeharto (to), tapi nama presiden berikutnya bukan berakhiran na seperti 
ramalan Jayabaya, melain Baharuddin Jusuf Habibie yang berakhiran ie, 
Abdurahman Wahid (id) serta Megawati Soekarnoputri berakhiran ri. Kalau begitu 
gugurlah ramalan Jayabaya yang selalu dianggap tepat oleh masyarakat Indonesia, 
khususnya orang Jawa yang sebagian besar dipengaruhi hal-hal klenik dan 
simbolik. 

Tunggu dulu, soal presiden ketiga dan keempat yang bukan berakhiran na dan go 
seperti yang diramalkan Jayabaya itu, tetap masih relevan dengan ramalan 
Jayabaya. Ada yang menafsirkan bahwa yang disebut Presiden RI adalah yang 
mempunya masa jabatan setidaknya lima tahun. Jadi, Presiden yang namanya bukan 
berakhiran no-to-na-goro, masa jabatannya akan kurang dari lima tahun, seperti 
BJ Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri. 

Ketiga mantan Presiden RI itu, masa jabatannya memang kurang dari lima tahun 
sehingga relevanlah dengan tafsiran ramalan Jayabaya. Habibie menjabat Presiden 
RI ke-3 mulai 21 Mei 1998 hingga 20 Oktober 1999 (1 tahun), Abudurrahman Wahid 
memulai jabatannya sebagai Presiden RI ke-4 pada 20 Oktober 1999 hingga 23 Juli 
2001 (1 tahun), kemudian Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden RI ke-5 mulai 
23 Juli 2001 hingga 20 Oktober 2004 (tiga tahun).

Ada lagi yang menafsirkannya dengan cara berbeda. Habibie, Abdurahman Wahid 
yang biasa disapa Gus Dur serta Megawati Soekarnoputri, tetap masuk dalam 
ramalan Jayabaya no-to-na-go-ro. Habibie dalam bahasa Jawa adalah tresno 
(kasih), berarti berakhirnan no atau na seperti yang diramalkan Jayabaya. 
Presiden berikutnya adalah Gus Dur. Ini yang kacau karena namanya tidak sesuai 
ramalan. Karena itu, nama panggilan Abdurahman Wahid, yakni Gus Dur 
dikait-kaitkan dengan hurup awal namanya, yakni G. Maka tafsir G dihubungkan 
dengan go dari no-to-na-go-ro, yang berarti pada masa pemerintahannya banyak 
goro-goro, atau kerusuhan besar yang berujung lengsernya Gus Duer dari 
jabatannya sebagai Presiden RI ke-4. Kemudian Megawati Soekarnoputri yang 
memiliki akhiran ri.. Akhiran itu dianggap fleksibel karena masih relevan 
dengan ramalan terakhir Jayabaya, yakni dari ro menjadi ri. 

Kemudian presiden berikutnya kembali ke ramalan awal yakni Presiden yang 
namanya berakhiran no, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono dan seterusnya. Jika 
merujuk ramalan Jayabaya, maka SBY tetap akan memimpin Indonesia hingga lima 
tahun ke depan. Pasalnya, dua kandidat lainnya yang menjadi rivalitas SBY, 
yakni JK-WIN dan Megawati-Prabowo namanya tidak berakhiran to, seperti nama 
Soeharto yang menggantikan Soekarno. 

Hancurkan mitos
Nah, mitos itulah yang ingin dihancurkan pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto 
sehingga kedua berani maju mencalonkan diri sebagai Presiden RI. Dalam alam 
demokratis, di mana kita telah hidup di abad ke-21 yang memerlukan kecepatan, 
bukan pemimpin yang ragu dalam bertindak sehingga terlihat seperti komputer 
yang lambat loading dalam menginput data. JK-WIN pun membuat retorika kampanye 
mereka jauh sebelum resmi menjadi Capres Pilpres 2009 dengan slogan, "Lebih 
Cepat Lebih Baik". 

Meski JK tidak menyebut siapa Capres yang lambat dalam mengambil keputusan, 
tapi publik dipastikan mengarahkan telunjuknya kepada capres Susilo Bambang 
Yudhoyono. Aksi saling sindur pun tak terelakkan. Slogan lebih cepat dipilih 
karena JK dan Wiranto memang paling cepat mengambil keputusan sebagai 
capres-cawapres. 

"Habis, bagaimana? Bu Mega terkunci, Gerindra terkunci. Juga Pak SBY yang sibuk 
memilih (calon cawapres). Kalau tidak ada yang masuk, tidak dimulai 
permainan,'' ucap JK seperti dikutip Jawa Pos, edisi pekan lalu. Menurut JK, 
slogan Lebih Cepat Lebih Baik itu tidak untuk saling menyindir, apalagi 
takabur. Pernyataan itu sekaligus merespon SBY yang menyebut JK takabur. 
Wiranto menimpali, slogan lebih cepat lebih baik adalah bahan jualan untuk 
mempopulerkan dirinya dan JK. "Namanya jualan. Ya, slogannya harus menarik. 
Lebih cepat lebih baik, dengan hati nurani," tambah mantan Panglima TNI itu. 

Pembelajaran politik
Dalam politik memang menghalalkan segala cara. Tapi, idealnya cara yang 
dilakukan kandidat untuk mencari dukungan dari masyarakat Indonesia agar 
memilih mereka pada Pilpres 2009 nanti, harus mampu memberikan pembelajaran 
politik kepada bangsa. Dalam politik, banyak masalah etika hanya berkisar pada 
keyakinan rasionalitas manusia dan proses ideal demokrasi (Kelley 1960, Regan, 
1986). Seharusnya, komunikasi mampu mendorong kemampuan manusia untuk berpikir 
rasionalitas sehingga menciptakan seorang pemilih yang terinformasi 
(rasionalitas), bukan berdasarkan pilihan karena masalah psikologis terhadap 
kandidat. 

Apabila pemilih membuat sebuah pilihan rasional tentang pemimpin atau isu-isu 
kebijakan, mereka harus memiliki akses informasi yang benar, akurat, tidak 
ambigu, tidak emosional sebagai dasar pengambilan keputusan. Hal semacam itulah 
idealnya yang harus dilakukan seorang kandidat, bukan saling sindir sehingga 
masyarakat pemilih (voters) menjadi bingung. Atau bukan pernyataan-pernyataan 
hate-speech atau pernyataan yang bernada kebencian yang diperkirakan bakal 
berembus kencang menjelang dan selama kampanye Pilpres 2009. Bila itu yang 
terjadi, pendidikan politik apa yang kita keberikan kepada generasi berikutnya, 
kecuali melahirkan generasi-generasi hate-speech. (Penulis adalah wartawan 
tinggal di Jakarta, tengah mendalami kajian Etika Komunikasi Politik, Program 
Pascasarjana Manajemen Komunikasi Politik Universitas Indonesia

Kirim email ke