==================================================== 
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [WDN_Center] 
Seri : "Membangun spirit, demokrasi, konservasi sumber daya, 
           nasionalisme, kebangsaan dan pruralisme bangsa Indonesia."  
==================================================== 
[Spiritualism, Nationalism, Resources, Democration & Pruralism Indonesia 
Quotient] 
Menyambut Pesta Demokrasi 5 Tahunan - PEMILU 2009. 
"Belajar menyelamatkan sumberdaya negara untuk kebaikan rakyat Indonesia." 
Pemilu Tanpa Kebangkitan
Rabu, 20 Mei 2009  
Oleh : Garin Nugroho
“Pemilu tidak sekedar melilih dan dipilih, namun merupakan medium pendidikan 
warga negara dan salah satu mimbar terbesar transformasi kebangkitan bangsa.”
Itulah pendapat salah seorang pakar di antara 30 pakar dan organisasi terkait 
pemilu. Mereka berkumpul membicarakan pemilu, enam bulan sebelum Pemilu 1999.
Pemilu 1999
Alhasil, dimunculkan lima aspek transformasi tujuan Pemilu 1999 yang akan 
menjadi panduan nilai seluruh sosialisasi dan konsultasi publik menyangkut 
pemilu.
Pertama, transformasi pemilu sistem komando menjadi partisipatif. 
Kedua, transformassi politik uang dan kekerasan menjadi sifat kritis yang 
toleran. 
Ketiga, pemilu dalam perspektif desentralisasi tanpa menjadi primordialisme. 
Keempat, mengelola pemilu sebagai pendidikan warga negara dengan skala 
prioritas yang dibutuhkan warga dalam proses berbangsa.
Kelima, anti kekerasan, baik simbolik maupun fisik.
Bagaimana dengan pemilu 2009?
Tugas lembaga pemilu formal maupun nonformal, khususnya KPU senantiasa berbasis 
dua hal.
Pertama, melaksanakan pemilu jujur dan adil sekaligus sosialisasi dan 
konsultasi publik sistem pemilu yang dianut.
Kedua, memandu masyarakat akan nilai-nilai berbangsa yang menjadi skala 
prioritas. Pemilu 2009 berdasarkan pemetaan sosiopolitik pemilu, baik pemetaan 
pemilu sebelumnya maupun kebutuhan pendidikan warga negara masa depan.
Dengan cara itu, tercipta transformasi ketrampilan politik masyarakat sekaligus 
kebangkitan bangsa lewat skala prioritas nilai tertentu, misalnya sifat kritis, 
respek, berfikir kompetitif untuk masa depan, sekaligus pemetaan program kerja 
berbangsa.
Sayang KPU dan lembaga pemerintahan terkait terjebak prosedur teknis pemilu 
yang celakanya dipenuhi kritik dan kehilangan kemampuan panduan nilai-nilai 
keutamaan pemilu terhadapwarga. Lebih celaka lagi, seluruh jajaran tiang 
berbangsa, mulai dari Presiden, Wakil Presiden, Sekretaris Negara, DPR, partai 
politik, hingga organisasi agama terbesar (NU-Muhammadiyah), lebih sibuk 
bekampanye dan dukung-mendukung dari pada menjadi pemandu pemilu sebagai 
transformasi kebangkitan bangsa.
Kondisi itu disertai tuntutan transformatif kebangkitan bangsa lewat pemilu 
yang serba baru sekaligus dengan penyakit lama. Secara sederhana, ada beberapa 
aspek tranformasi yang harus menjadi panduan masyarakat agar Pemilu 2009 
menjadi mimbar kebangkitan.
Pertama, pemilu langsung dengan sura terbanyak, melahirkan paradoks. Di satu 
sisi, pemilu langsung melahirkan demokrasi yang lebih partisipatif dan elite 
baru yang memberikan harapan. Di sisi lain, kembalinya koneksitas berdasarkan 
beragam bentuk kekuasaan, sepeti pejabat, uang, elite agama, hingga suku yang 
dikelola dengan cara batu atas nama demokrasi. Jangan heran, keluarga pejabat 
kini banyak masuk legislatif. Selayaknya, KPU dan lembaga terkait memandu warga 
agar tidak terjebak dalam koneksitas tanpa sifat kritis untuk mentransformasi 
kebangkitan generasi baru yang terbuka.
Kelima, Pemilu 2009 berlangsung di tengah aneka krisis yang melahirkan 
perspektif partisipatif dengan peta baru. Hal ini berbeda dengan Pemilu 1999 
yang dipenuhi dengan euphoria demokrasi dan Pemilu 2004 yang dipenuhi dengan 
euphoria pemilu langsung. Sementara itu, kondisi Pemilu 2009 justru disertai 
menurunnya kepopuleran tiang-tiang utama politik, seperti partai, DPR, dan 
pemerintahan. Bisa diduga, tingkat partisipasi pemilih menurun. Artinya, Pemilu 
2009 menjadi titik balik, sekedar pemilu prosedural dengan demokrasi 
manipulatif, atau menjadi pemilu kebangkitan pemilih.
Ketiga, pemilu langsung dengan suara terbayak ini tumbuh dalam dekade awal 
industri budaya massa dan dekade migrasi, melahirkan masyarakat serba lintasan, 
kesan fisik, konsumtif. Di sisi lain, masyarakat begitu cair, terbuka dengan 
harapan baru, tetapi penuh paradoks antara ketimpangan dan lompatan. Sementara 
masyarakat Indonesia bukan pemilih dalam budaya baca, yang cenderung 
menganalisis, menyimpan sejarah, mencatat, dan memprediksi. Selayaknya KPU 
mendorong model-model sosialisai tepat guna untuk situasi dan kondisi semacam 
itu, khususnya pada pemilu presiden, termasuk mengenalkan kembali sejarah 
kepemimpinan bangsa, peta masalah, dan kebangkitannya.
Keempat, mendorong pemilih dan kandidat presiden membuat kontrak kerja lewat 
program kerja pemecahan masalah krisis jangka pendek Indonesia. Program kerja 
itu di satu sisi terkait ekonomi, kesehatan, kesempatan kerja, pendidikan, 
serta peta kompetisi global. Di sisi lain, menjadikan Pemilu 2009 sebagai 
mimbar transformasi nilai-nilai keutamaan lokal, nasional, sekaligus kompetitif 
global. Seperti sifat respek, kompetisi, toleransi, dan lainnya.
Kelima, dekade ini akan melahirkan urbanisasi elite politik baru, gabungan 
kompleks pengusaha, tehnokrat, artis politikus, elite aliran dan agama, hingga 
elite komunitas baru yang tak terdiskripsikan. Di sisi lain, dekade ini awal 
dari potensi pemilih baru. Ciri ini disertai dekade teknologi baru untuk 
pemilu. Penguasaan dan sosialisasi serta konsultasi publik teknologi baru 
sebagai medium pemilu menjadi nilai penting.
Inilah ciri-ciri dunia baru beragam krisis, yang membutuhkan kebangkitan dari 
elite politik. Artinya, KPU adalah lembaga terhormat memandu sifat krisis 
pemilih guna melahirkan pemimpin yang membangkitkan.
Harapan
Kelima aspek itu menunjukkan dari peta masalah yang mengisyaratkan bahwa mereka 
yang terpilih menjadi anggota KPU dan lembaga terkait pemilu, tidak hanya 
seorang tehnokrat pelaksana sistem. Lebih dari itu, mereka dituntut menjadi 
negarawan yang tak kalah penting dari kandidat presiden, yang mampu 
melaksanakan pemilu secara jujur dan adil, juga memandu bangsa dalam era serba 
baru.
Diharapkan, kelak pemilu tidak sekedar panggung tahunan politik yang 
diperebutkan para aktor dan aktris politik tanpa profesionalisme. Sementara 
warga hanya menjadi penonton dan mau memilih karena dibayar, terhibur, dan 
terkesan, tak peduli transformasi kebangkitan bangsa ke depan.  [Garin Nugroho 
Pemerhati Komunikasi Budaya – Kompas] 
----------
Pemilu bangkit
Hari ini, Rabu 20 Mei 2009 adalah hari yang bersejarah bagi Indonesia, 
merupakan 101 tahun kebangkitan nasional bangsa Indonesia. Maka ketika pemilu 
sebagai prosesi demokrasi kebangsaan digugat, dikritik, dipertanyakan, kita 
kemudian berfikir mengapa hal demikian bisa terjadi? Kita bersyukur kepada 
semua pihak yang selalu mempertanyakan, mengkritik bahkan menggugat. Berarti 
ada niat baik, ada hal yang perlu diperbaiki, perlu diluruskan dan 
disempurnakan pada porsi dan kedudukannya sebagai tiang pengawal proses 
demokrasi bangsa. 
Pemilu presiden sudah di depan mata, kampanye pun hampir tiba serta dimajukan, 
semua unsur harus bangkit, untuk melaksanakan pemilu presiden yang terbaik, 
berkualitas, jujur dan adil. Soal DPT, sudah harus beres jauh-jauh hari. Bila 
ini tidak juga selesai tuntas, paling KPU akan di bilang KDK - ‘kalah dengan 
keledai’ - sebagai catatan sejarah. 
Para kandidat presiden/wakil presiden pun sudah siap-siap bangkit di zig-zag 
track kampanye, rakyat pun akan riuh melihatnya, koran, majalah, televisi dan 
radio pun akan siap terus bercuap-cuap sepuasnya. Maka KPUD, PPS tentu sigap 
menuntaskan DPS-DPT, dan akhirnya Panitia pemilihan setempat [PPS] pun tidak 
akan terlelap hingga pelaksanaan tuntas pilpres.
“Bangkitlah Indonesiaku, 
Di dadamu terpatri jiwa dan raga para pemuda bangsa, para pemimpin bangsa, dan 
seluruh rakyat Indonesia, yang terus berjuang, gelora dan bangkitkan semangat 
Indonesia nan jaya!”  
Dirgahayu 101 tahun kebangkitan bangsa Indonesia raya.
Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat! 
Best Regards, 
Retno Kintoko 
 
The Flag 
Air minum COLDA - Higienis n Fresh ! 
ERDBEBEN Alarm
 
 
Obama, sang icon kebangkitan demokrasi AS.
 


 
selepas meladeni tugas kampanye…


 
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3 
 


      

Kirim email ke