Refleksi:  Judul artikel ini  akan lebih bagus nadanya bila ditulis : 
"Pendidikan gratis dan bisnis sekolah swasta". Bagaimana pendapat Anda?

Jawa Pos
[ Sabtu, 23 Mei 2009 ] 


Pendidikan Gratis dan Nasib Sekolah Swasta 
Oleh Biyanto

Kampanye pendidikan gratis melalui slogan ''sekolah harus bisa'' yang 
dicanangkan pemerintah benar-benar menyisakan persoalan serius bagi sekolah 
swasta. Sebab, sekolah swasta banyak mengandalkan donasi pendidikan dari 
masyarakat, termasuk wali siswa. Tegasnya, pertumbuhan dan perkembangan 
pendidikan swasta selama ini sangat bergantung pada komitmen kelompok-kelompok 
di masyarakat yang menjadi stakeholder sekolah. 

Sejarah perkembangan sekolah swasta juga selalu tumbuh dari masyarakat. Bahkan, 
tidak sedikit sekolah swasta yang kini menjelma menjadi besar dan mapan berasal 
dari wakaf seseorang yang kemudian dikelola dan dikembangkan dengan baik oleh 
pengurusnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa eksistensi sekolah swasta 
sesungguhnya lebih banyak ditentukan oleh militansi perjuangan guru, kepala 
sekolah, serta para pengurusnya.

Perkembangan mutakhir menunjukkan bahwa pendidikan telah menjadi bagian dari 
bidang yang dapat dikelola secara profit. Fenomena itu dapat diamati melalui 
beberapa sekolah swasta yang tumbuh dan berkembang dengan dimodali sekelompok 
orang kaya yang bergabung dalam suatu yayasan pendidikan. 

Segala kebutuhan operasional pendidikan sekolah itu ditanggung yayasan. Sebagai 
timbal balik, yayasan mewajibkan siswa membayar donasi pendidikan yang telah 
ditentukan. Bahkan, tidak sedikit sekolah swasta tersebut berhasil menjadi 
lembaga pendidikan berkategori besar dan mapan. 

Sekolah berkategori itu kemudian berani menentukan biaya pendidikan dalam 
jumlah sangat tinggi. Yang dijual sekolah swasta berkategori itu adalah layanan 
akademik dan nonakademik yang memuaskan. Bahkan, dapat dikatakan layanan yang 
diberikan telah melebihi standar yang ditentukan pemerintah. 

Bagi sekolah swasta berkategori besar dan mapan, kampanye pendidikan gratis 
barangkali tidak banyak berpengaruh. Sebab, sekolah berkategori itu biasanya 
telah memiliki pelanggan tersendiri. Mayoritas pelanggan sekolah tersebut 
adalah kelompok menengah ke atas.

Persoalan donasi pendidikan bagi stakeholder sekolah swasta berkategori besar 
dan mapan tentu tidak lagi menjadi masalah. Bahkan, sebagian besar stakeholder 
sekolah itu meyakini bahwa lembaga pendidikan yang berkualitas memang 
seharusnya dijual dengan harga mahal. Sebaliknya, lembaga pendidikan yang 
dijual murah biasanya berkualitas rendah. 

Karena itu, mereka tidak pernah mempersoalkan mahalnya biaya pendidikan. Sebab, 
bagi mereka, yang penting adalah kepuasan siswa dan orang tua karena 
mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas. 

Tapi, rasanya masih sangat sedikit sekolah swasta yang berkategori besar dan 
mapan. Kebanyakan sekolah swasta yang ada saat ini berkategori menengah ke 
bawah. Bahkan, bisa dikatakan mayoritas sekolah swasta berkategori kecil dengan 
fasilitas seadanya. Biasanya, donasi pendidikan sekolah bertipe itu bersumber 
dari masyarakat dan pemerintah. 

Dana dari masyarakat dihimpun melalui tarikan dalam bentuk SPP, dana 
pembangunan, sumbangan kegiatan pembelajaran intra dan ekstra kurikuler, serta 
donatur stakeholder. Sedangkan dana bantuan pemerintah diterima dalam bentuk 
bantuan operasional sekolah (BOS) dan beberapa block grant untuk pengembangan 
sarana-prasarana. 

Akibat adanya kampanye pendidikan gratis, mayoritas sekolah swasta berkategori 
kecil harus membebaskan siswa dari segala bentuk tarikan. Hal tersebut 
dilakukan karena pemerintah menganggap telah banyak memberikan bantuan 
operasional pendidikan, termasuk kepada seluruh sekolah swasta. 

Yang menjadi persoalan sekolah swasta berkategori kecil adalah jika bantuan 
pemerintah tidak diterima secara rutin. BOS memang diberikan setiap bulan 
berdasar jumlah siswa. Tapi, berdasar pengalaman beberapa sekolah, BOS tidak 
pasti keluar setiap bulan. Bahkan, terkadang pencairan dana BOS mengikuti 
jadwal pemerintah dalam pencairan anggaran dalam setiap tahun. 

BOS juga menghadirkan persoalan bagi sekolah swasta yang memiliki jumlah 
rombongan belajar kecil. Jika mengandalkan BOS, tentu tidak mencukupi kebutuhan 
menggaji tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Belum lagi dana operasional 
sekolah yang secara berkala harus dikeluarkan. Fakta itu jelas menunjukkan 
problem riil yang dihadapi sekolah swasta ketika berhadapan dengan kampanye 
pendidikan gratis.

Tantangan terbesar yang segera dihadapi sekolah swasta berkaitan dengan 
kampanye pendidikan gratis adalah musim pendaftaran siswa baru (PSB) yang kini 
sedang dilaksanakan. Saat PSB ini, sekolah swasta harus bersaing memperebutkan 
siswa baru dengan sekolah pemerintah dan sekolah swasta lain. Sekolah 
pemerintah dengan daya tarik SPP gratis, buku pelajaran gratis, dan seragam 
sekolah gratis akan tetap menjadi primadona bagi masyarakat.

Dengan posisi seperti ini, sekolah pemerintah akan berada di atas angin. 
Bahkan, sekolah pemerintah bisa dengan mudah memperoleh siswa baru yang 
berkualitas melalui sistem seleksi yang sangat ketat. Sedangkan sekolah swasta 
harus mau menerima kenyataan mendapatkan siswa baru dengan kualitas seadanya.

Bagi sekolah swasta, memperoleh siswa baru sesuai kuota yang ditetapkan tentu 
harus disyukuri. Sebab, ada banyak sekolah swasta yang harus menerima kenyataan 
tidak memperoleh jumlah siswa sebagaimana yang diharapkan.

Bagi sekolah swasta, jumlah siswa akan sangat menentukan besaran dana 
operasional yang dapat dihimpun. Jika jumlah siswa berlebih, dipastikan 
pemasukan dana akan cukup untuk membiayai operasional pendidikan. Bahkan, 
sebagian dana bisa dimanfaatkan untuk berinvestasi guna mengembangkan sekolah. 
Tapi, jika jumlah siswa berkurang, pengurus harus berusaha mencari kekurangan 
dana. 

Kondisi terakhir itulah yang dialami mayoritas sekolah swasta berkategori 
menengah ke bawah. Fakta tersebut telah menyebabkan banyak sekolah swasta 
mempertaruhkan eksistensinya saat musim PSB tiba.

Berkaitan dengan kampanye pendidikan gratis, yang perlu dilakukan sekolah 
pemerintah adalah berempati pada sekolah swasta ketika melakukan PSB. Sekolah 
pemerintah dengan fasilitas sekolah gratis harus bisa menahan diri untuk tidak 
terlalu bernafsu memperoleh siswa sebanyak mungkin. Yang perlu dilakukan adalah 
menerima siswa sesuai fasilitas yang tersedia. Calon siswa yang tidak diterima 
di sekolah pemerintah bisa memilih sekolah swasta sesuai yang dikehendaki.

Sikap berempati ini perlu dikembangkan. Sebab, tidak mungkin fasilitas sekolah 
pemerintah mampu menampung seluruh siswa. Di sinilah fungsi sekolah swasta 
sebagai partner sekolah pemerintah bisa bersinergi melakukan tugas mulia yang 
diamanahkan konstitusi, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Lebih dari itu, yang juga perlu dilakukan pemerintah adalah mendistribusikan 
anggaran 20 persen pendidikan secara lebih proporsional dan berkeadilan bagi 
sekolah pemerintah dan sekolah swasta. Jika sikap berempati itu tidak 
dijalankan, berarti pemerintah telah membunuh kiprah sekolah wasta. (*)

*). Biyanto, dosen IAIN Sunan Ampel dan sekretaris Majelis Dikdasmen PWM Jatim 

Kirim email ke