Posted by: "Haniwar Syarif" hani...@syarif. com   haniwarsyarif 
Mon May 25, 2009 12:06 am (PDT) 
saya sudah dpt ijin dr Drajad Wibowo utk neruskan info ini ke milis :
silahkan simak info ini

ijinkan saya berbagi sedikit tentang bahaya kebijakan yang pro-pasar yang 
berlebihan. Saya sering menyebut sebagai pro Konsensus Washington (KW), tapi 
secara politik orang lebih suka menyebut neolib. Saya sengaja memilih contoh 
paling baru.
Awal tahun ini, kalau tidak salah akhir Februari 2009, Depkeu menerbitkan 
Global Medium Term Notes (GMTN) dalam US$ dengan masa jatuh tempo 10 tahun dan 
yield 11,75%. Jumlahnya US$ 3 milyar, diterbitkan di New York.
Yang jadi konsultan adalah beberapa lembaga keuangan asing, underwriters- nya 
mereka2 juga, investor asing pun beli melalui mereka. Jadi konflik 
kepentingannya sangat kental.
Dalam bahasa awam, ini berarti negara berutang kepada investor asing. Utangnya 
dalam US$ dan negara membayar "bunga" sebesar 11.75% dalam US$ !!! Belum lagi 
fee bagi para konsultan dan underwriters asing tersebut. Sebagai pembanding, 
deposito
dollar di perbankan dalam negeri hanya memberi bunga sekitar 2-3%. Di AS 
sendiri, bunga deposito dollar jauh lebih rendah.
Jadi selama 10 tahun ke depan, negara harus membayar bunga yang kemahalan 
sekitar US$ 240 juta atau Rp 2,5 triliun per tahun, kalau kita anggap 
kemahalannya hanya sekitar 8%.
Ikhwan dan akhwat bisa dengan mudah melihat mengapa Depkeu, menteri2 dan tim 
ekonomi yang dicap "neolib" itu sangat disukai investor asing. Ya karena 
investor asing itu dimanjakan dengan keuntungan yang luar biasa, mulai dari 
consulting fee, underwriting fee, other fees sampai dengan selisih suku bunga 
yang naudzubillah tingginya.
Tapi kalau uang Rp 2,5 triliun per tahun itu dimintakan untuk membeli suku 
cadang Hercules, Fokker, Corvet dll milik TNI, masya Allah bapak-bapak Jenderal 
yang mengurusi hal ini sampai harus mengemis-ngemis. Itupun ditolak. Padahal 
nyawa ratusan prajurit yang jadi taruhannya. Jadi kecelakaan demi kecelakaan 
yang menimpa TNI kita itu adalah "disasters waiting to happen". Apalagi kalau 
dana tersebut dimintakan utk memperkuat BUMN strategis spt Boma Bisma, Krakatau 
Steel, Dirgantara Indonesia, PAL, Inka dll. Di DPR saya harus stay alert setiap 
saat kalau2 ada rencana mau memotong2 dan menjual BUMN2 tsb. Dengan negara 
memberikan "bunga" sedemikian tinggi, bagaimana perbankan dalam negeri berani 
menurunkan suku bunga? Dana simpanan pihak ketiga (baca: tabungan, deposito 
dll) di bank mereka bisa lari ke luar.
Jadi nasabah2 KPR yang harus membayar bunga kemahalan, debitor2 UKM, para 
pelaku usaha riil juga menjadi korban dari kebijakan di atas.
Ikhwan dan akhwat sekalian, itu baru satu contoh dari satu penerbitan Surat 
Utang Negara (SUN). Padahal setiap tahun negara menerbitkan puluhan SUN. 
Modusnya kira2 sama. Anehnya, KPK tidak pernah menyelidiki kerugian negara ini.
Contoh lain masih banyak, dengan korban yang semakin meluas.
Contoh di atas baru dari SUN saja. Belum lagi dari kebijakan
perbankan, pasar modal secara umum, asuransi dsb. Belum lagi dari kebijakan dan 
sistem perdagangan, rejim investasi, rejim migas, rejim pertambangan umum, dst 
dsb.
Terakhir, perlu diingat kebijakan seperti sudah dilaksanakan puluhan tahun. 
Bisa dibayangkan berapa banyak korban dan berapa besar lost opportunities yang 
harus kita tanggung sebagai bangsa.
Sebagai penutup, sebagai pembicara seminar, selama beberapa tahun ini saya 
selalu menutup presentasi saya dengan kalimat berikut.
"Allah menciptakan kita sebagai bangsa rajawali. Tapi elit-elit kita yang 
menjadikan kita sebagai bangsa bebek. Karena itu mari kita semua terbang bebas 
lepas sebagai rajawali"

Semoga bermanfaat, mohon maaf atas semua kesalahan.
wass.wr.wbt.

saya yang dhoif, dradjad



      

Kirim email ke