http://www.gatra.com/artikel.php?id=126911


Indonesia-Malaysia
Warga Perbatasan Punya KTP Ganda


Samarinda, 7 Juni 2009 10:58
Badan Pengelola Perbatasan, Pedalaman dan Daerah Terpencil (BP3DT) mengakui 
jika warga di perbatasan Kalimantan Timur (Kaltim) banyak yang memiliki kartu 
tanda penduduk (KTP) ganda, yakni KTP Indonesia dan Malaysia.

"Sebagian warga perbatasan memiliki KTP (kartu tanda penduduk) ganda, Indonesia 
dan Malaysia. Secara ekonomi hal itu menguntungkan bagi warga perbatasan karena 
mereka bisa bertransaksi dagang dengan mudah di negeri jiran. Namun, dari sisi 
politis dan keamanan, hal itu mengkhawatirkan karena mereka bisa dimanfaatkan 
Malaysia," papar Ketua BP3DT, Hendy Patton, di Samarinda, Sabtu (7/6).

Hendry, yang selama ini dikenal sebagai pemerhati dan peneliti masalah 
perbatasan dari Universitas Mulawarman Samarinda menjelaskan, dari dulu hingga 
kini, memang banyak warga perbatasan Kaltim yang eksodus ke Malaysia. Hal itu 
terjadi karena faktor ekonomi atau kesejahteraan warga setempat yang minim, 
sementara warga di Malaysia (Timur) lebih menjanjikan.

Kondisi kawasan perbatasan Indonesia yang serba tertinggal, terbelakang dan 
terisolir menjadi alasan utama banyak warga berpaling ke Malaysia.

Penduduk Kaltim di perbatasan biasanya menjual hasil bumi serta berbelanja 
berbagai kebutuhan pokok di Malaysia, karena jaraknya lebih dekat ketimbang 
kota di wilayah Indonesia.

Kondisi tersebut menyebabkan berbagai harga kebutuhan pokok di kawasan 
perbatasan bisa mencapai tiga kali lipat ketimbang harga normal di sejumlah 
kota di Indonesia.

"Memang banyak warga yang eksodus ke Malaysia namun itu hanya bersifat 
insidentil. Eksodus ini dilakukan ketika warga usai menanam benih di ladangnya. 
Nah, sambil menunggu panen itu warga perbatasan bekerja di Malaysia. Namun 
setelah panen tiba, mereka akan kembali lagi ke daerahnya di wilayah 
Indonesia," paparnya.

Hendry menjelaskan, berbagai masalah di perbatasan, termasuk masalah memanasnya 
hubungan Indonesia-Malaysia terkait Blok Ambalat tidak terlepas dari kondisi 
ketertinggalan pembangunan di kawasan itu.

Terkait dengan masalah itu, menurut Hendry, permintaan Kaltim kepada pusat 
untuk mengalokasikan dana untuk membangun kawasan perbatasan sangat realistis. 
"Butuh dana puluhan miliar apabila kita benar-benar ingin mengembangkan kawasan 
perbatasan untuk menyaingi pembangunan di wilayah Malaysia," katanya.

Dana yang dibutuhkan memang cukup besar karena dimanfaatkan untuk membangun 
berbagai infrastruktur di kawasan perbatasan, mengingat wilayah yang harus 
ditangani sangat luas atau panjangnya sekitar 1.082 km membentang dari Kutai 
Barat, Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau. Tiga daerah itu berbatasan 
langsung (darat dan laut) dengan Malaysia Timur. "Kita optimistis bahwa pada 
tahun-tahun mendatang dana pembangunan kawasan perbatasan akan terus meningkat, 
mengingat masalah perbatasan sebenarnya bukan sebatas tanggung jawab daerah," 
katanya.

BP3DT kini telah menyiapkan berbagai strategi untuk mempercepat pembangunan 
kawasan perbatasan, dengan memperkuat kelembagaan dan pembangunan desa di 
kawasan itu. "Sejumlah desa berstatus tertinggal di kawasan perbatasan harus 
segera diatasi, pembangunan infratrusktur dipercepat serta pendekatan 
pembangunan tidak sekedar keamanan namun juga pendekatan kesejahteraan," kata 
Hendry.

Kesalahan orde baru dalam menangani masalah perbatasan, yakni menggunakan 
pendekatan keamanan semata dengan mengabaikan pendekatan kesejahteraan sehingga 
banyak warga perbatasan memiliki ketergantungan ekonomi dengan wilayah 
Malaysia. "Kita akan terus berkoordinasi dengan TNI karena pendekatan keamanan 
sudah tentu tanggung jawab mereka," ujarnya.

Salah satu upaya untuk mengembangkan sektor ekonomi di kawasan perbatasan, 
yakni mengembangkan perkebunan sawit skala luas.

Apabila sektor agribisnis ini berjalan dengan baik, diperkirakan mampu menyerap 
tenaga kerja serta mengatasi persoalan TKI yang selama ini banyak bekerja pada 
sejumlah perusahaan perkebunan di Malaysia. [TMA, Ant] 

Kirim email ke