Nasib Palestina Dipastikan Oleh Israel Bukan Oleh Arab !!!
Sejarah sudah mencatat, dan setiap orang bisa membacanya ber-ulang2 sebagai
pelajaran. Yaitu sebagai pelajaran bagi tyran yang mau menguasai dunia melalui
perang menjajah negara lain. Semua raja dalam kerajaan manapun juga adalah
tyran mereka merupakan kekuatan pelindung para tuan2 tanah yang memberinya
upeti.
Para tyran atau raja2 bukanlah kepala negara, karena mereka mengeksploitasi
rakyatnya untuk kepentingan vested interest keluarga raja atau keluarga tyran.
Sebaliknya, kepala negara dari sebuah negara justru harus mengabdikan dirinya
untuk kesejahteraan rakyatnya.
Seseorang bisa naik jadi kepala negara, apabila dia terpilih rakyatnya karena
berjanji dan dipercaya rakyatnya bahwa sang kepala negara yang terpilih ini
bersedia mengabdi untuk mempertahankan, meningkatkan, dan memperbaiki tingkat
kesejahteraan rakyat keseluruhan.
Seseorang bisa menjadi raja atau menjadi tyran, apabila dia memiliki kekuatan
militer yang bisa memaksa atau menundukkan kekuatan2 diwilayahnya untuk
mengabdi kepada sang raja atau sang tyran selama hidupnya, kecuali ada kekuatan
lain yang berhasil menggulingkannya.
Dalam perang dunia kedua, Jepang dan Jerman bersekongkol untuk menguasai dunia
dengan menghancurkan kekuatan kerajaan2 lainnya diseluruh dunia. Tapi akhirnya
keduanya ini kalah, dan seharusnya si pemenang bebas menjajahnya, bebas
menduduki negaranya, bebas memperbudak rakyat dikedua wilayah ini, bebas untuk
memaksakan pembayaran pampasan perang dan memaksakan pajak kepada rakyat
dikedua negara ini.
Tetapi karena sipemenang perang dunia kedua ini adalah Amerika yang bukan
negara kerajaan dan juga bukan tyran, maka hal2 untuk memaksakan eksploitasi
seperti diatas tidak memungkinkan karena dalam negara Demokrasi, semua dana
yang didapatkan sudah ada jalurnya yang berlaku sepanjang masa bukan insidentil
hanya karena menang perang.
Demikianlah, Jepang dan Jerman yang kalah perang bukan dieksploitasi seperti
yang dilakukan oleh raja2 atau para tyran dizaman dulu. Kepala negara Jepang
yaitu Kaisar Hirohito hanya dipaksa menanda tangani surat pernyataan menyerah,
menanda tangani surat pernyataan untuk tidak lagi membangun kekuatan militer,
menanda tangani surat pernyataan tunduk mentaati hukum Internasional yang
berlaku.
Begitulah akhir ceritanya sampai sekarang Jepang dan Jerman meskipun tidak
memiliki kekuatan militer bisa tetap menonjol sebagai salah satu negara2 yang
termaju, terkaya, dan terbaik dalam segala hal dibandingkan negara2 lain
didunia meskipun menang perang.
Tidak berbeda dengan kejadian perang 6 hari 1967 dimana Israel sebagai negara
berdaulat diserang habis2an oleh seluruh negara2 Arab maupun negara2 Islam
disekitarnya untuk dimusnahkan, untuk diduduki, untuk dijajah, dan untuk
dieksploitasi oleh para penyerangnya.
Ternyata usaha penyerangan ini gagal, dan Israel keluar sebagai pemenang perang
dan berhasil menduduki negara2 yang menyerangnya, berhasil melumpuhkan seluruh
kekuatan angkatan perang negara2 yang menyerangnya. Mereka negara2 yang kalah
akhirnya bisa dipaksa menanda tangani surat pernyataan menyerah, dipaksa
menanda tangani surat pernyataan menyerahkan wilayah2 strategis seperti
Westbank, Gaza, Golan, Sinai, dan Yerusalem menjadi milik Israel, dibawah
pengawasan Israel, dan segala kegiatan di-wilayah2 tsb menyangkut sekurity
Israel harus seizin pemerintah dan tentara Israel.
Demikianlah akhir suatu tragedy perang 6 hari 1967 dimana sama halnya dengan
tragedy akhir perang dunia kedua. Dalam hal ini, Israel bukan negara imperial
seperti halnya juga Amerika bukan negara Imperial sehingga tak mungkin menjajah
dan menduduki negara lain seperti Jepang dan Jerman yang dikalahkannya. Juga
sama halnya, Israel tidak mungkin menjajah dan menduduki negara2 tetangganya
yang kalah perang akibat menyerang negaranya. Namun negara2 yang kalah ini
cukup dipaksa menandatangani surat pernyataan menyerah dan pernyataan2 lain
yang menjamin sekuritas Israel.
Dengan tulisan saya diatas ini, kiranya para pembaca bisa membayangkan
penyelesaian logis yang bagaimana yang memungkinkan untuk mengakhiri kemelut
negara Palestina ini. Sekarang ini, masalah Palestina sudah pada taraf2 akhir
dari segala penyelesaian yang menyeluruh ini. Khayalan, keimanan, dan mimpi2
tidak bisa dijadikan landasan berpikir dalam mencari penyelesaian karena
kenyataan2 sejarahlah yang menjadi landasan terulangnya permasalahan maupun
terulangnya cara2 penyelesaiannya.
Nasib berdirinya negara Palestina ditentukan dan dipastikan oleh Israel yang
menang perang, bukan oleh negara2 Arab yang kalah perang. Meskipun menyembah
Allah, meskipun percaya Allah, meskipun beriman kepada Allah, namun kalo kalah
perang tak akan ada apapun yang bisa diberikan Allah. Sama halnya dengan "Dewa
Matahari" yang tidak mampu menolong Jepang untuk menjadi pemenang, demikian
pula dengan "Allah" yang ternyata kalah perang.
Berbeda dengan "Allah", ternyata meskipun kalah perang "Dewa Matahari" masih
mampu memberi kemajuan teknologi, kemajuan ekonomi, dan kesejahteraan hidup
bagi rakyat Jepang. Sebaliknya "Allah" malah menjadi penyebab mereka yang
kalah perang menjadi kacau balau saling membunuh satu sama lainnya karena
saling menyalahkan cara2 menyembah Allahnya sehingga menyebabkan kekalahannya.
Allah menjadikan mereka yang menyembahnya sebagai pihak yang kalah yang menjadi
tergantung kepada mereka yang menang untuk sepanjang masa. Bahkan
kenyataannya, Allah menjadi tergantung kepada Dewa Matahari. Allah dipaksa
menyembah Dewa Matahari. Tiada Tuhan selain Allah, dan tiada Allah selain Dewa
Matahari. Ekonomi dan Teknologi Jepang mendominasi Islam, dan Jepang sendiri
didominasi oleh teknologi, budaya dan etika ekonomi Amerika.
Ny. Muslim binti Muskitawati.