http://www.jambiekspres.co.id/index.php/opini/3811-dua-kutub-sby-dan-jk


      Sabtu, 27 Juni 2009 10:58  


      Dua Kutub SBY dan JK  
      Oleh: *Kurniawan Muhammad 
      DI antara tiga pasangan capres-cawapres, pasangan nomor 2 (Susilo Bambang 
Yudhoyono-Boediono) dan nomor 3 (Jusuf Kalla-Wiranto) menarik untuk dikaji. 
Tentu saja, tanpa bermaksud mengecilkan pasangan nomor 1 (Megawati 
Soekarnoputri-Prabowo Subianto).

      Setidaknya, ada dua alasan, mengapa membandingkan antara pasangan nomor 2 
dan 3 menjadi menarik? Pertama, dua pasangan itu sama-sama incumbent. Yang satu 
masih presiden, yang satunya lagi wakil presiden.

      Bedanya, jika boleh membuat sebutan, pasangan Susilo Bambang Yudhoyono 
(SBY) disebut incumbent solid, sedangkan pasangan Jusuf Kalla (JK) incumbent 
dinamis. 

      Mengapa disebut incumbent solid? SBY menunjuk Boediono, salah satu 
pertimbangannya, karena sosoknya diasumsikan loyal sehingga diharapkan 
pemerintahan SBY mendatang (jika memenangi pilpres) bisa lebih solid. Boediono 
dianggap tidak punya ambisi politik karena memang tidak berangkat dari partai 
politik.

      Mengapa pasangan JK disebut incumbent dinamis? Ketika menunjuk Wiranto 
sebagai pendampingnya, selain mempertimbangkan persyaratan perolehan suara 
untuk maju sebagai capres, JK juga mempertimbangkan kombinasi pasangan agar 
terkesan dinamis. Kombinasi itu bisa menggambarkan: JK luar Jawa-Wiranto Jawa, 
JK sipil-Wiranto militer, atau JK cepat-Wiranto tegas. Kombinasi itulah yang 
membuat pasangan tersebut terlihat dinamis.

      Alasan kedua mengapa menarik membandingkan SBY dan JK adalah model dan 
slogan kampanye mereka terkesan saling menyahut dan berada di dua kutub yang 
berlawanan. Slogan kampanye JK: lebih cepat lebih baik. Untuk melawan slogan 
ini, SBY menekankan pada "cermat" dan "tepat". Dengan bahasa lain, tim SBY 
ingin mengatakan: "Apa artinya cepat kalau tidak cermat dan tidak tepat?"

      Kesan saling melawan langsung juga terlihat ketika tim kampanye JK 
merespons slogan kampanye SBY: Lanjutkan!. Slogan ini "dilawan" dengan kalimat: 
"Hanya yang mengerjakan yang pantas melanjutkan". Tim kampanye JK ingin 
membangun kesan bahwa selama pemerintahan SBY, untuk keputusan-keputusan 
penting, JK-lah yang berperan besar. Mulai kesepakatan damai di Aceh hingga 
perumusan secara detail konsep dan pelaksanaan BLT (bantuan langsung tunai).

      *** 

      Kesan saling berlawanan antara dua kutub itu, dalam dunia pemasaran, oleh 
Kafi Kurnia disebut dengan konsep marketing dan anti-marketing. Dia 
mencontohkan kisah Leonard Marsh dan Hyman Golden. 

      Suatu ketika, dua orang itu berkongsi untuk memproduksi minuman soda 
dengan rasa apel, bermerek Snapple. Produk itu dikemas secara eksklusif dalam 
botol dan ditawarkan ke toko-toko khusus yang menjual produk-produk kesehatan 
dan juga beberapa pompa bensin di sekitar New York. Meski produk tersebut 
berkualitas, pemasarannya tidak sukses. 

      Lima belas tahun kemudian, mereka menciptakan produk varian baru, yakni 
teh dengan rasa buah. Belajar dari produk sebelumnya yang tidak sukses, Marsh 
dan Golden lantas berpikir secara berlawanan (anti-marketing) dalam 
memperlakukan produk barunya itu. Jika produk pertamanya diberi nama yang punya 
kesan bagus (Snapple), produk barunya itu diberi nama yang kesannya agak 
ngawur: "Mango Madness". 

      Dan yang lebih mengejutkan, untuk memasarkan produk barunya itu, dipilih 
Howard Stern sebagai bintang iklan. Di Amerika Serikat, Stern dikenal sebagai 
penyiar radio yang nyeleneh. Dia sering kena denda karena acaranya yang ngawur, 
vulgar, dan porno. Stern pernah menyuruh orang yang dia wawancarai agar 
masturbasi di studio. Dia juga pernah mengadakan lomba kentut di studionya. 
Meski demikian, Stern punya banyak fans.

      Ketika Marsh dan Golden mempercayakan produk barunya ke Stern, banyak 
yang mencemooh. Tapi, siapa sangka, ketika produk baru tadi dipromosikan Stern, 
hasilnya luar biasa sukses. Angka penjualannya meroket cepat. 

      *** 

      Konteks persaingan antara SBY dan JK, yang slogan dan model kampanye 
mereka terkesan saling berlawanan di dua kutub, agak mirip dengan konsep 
marketing dan anti-marketing itu. 

      Lantas, siapa yang berperilaku marketing dan siapa yang anti-marketing? 
Bisa saja, yang dianggap marketing adalah SBY dan anti-marketing-nya adalah JK. 
Tapi, dalam beberapa kasus, anggapan itu bisa berlaku sebaliknya. 

      Pada pemilu legislatif, kemenangan Partai Demokrat diyakini sebagai 
berkah dari popularitas SBY. Selama lima tahun menjadi presiden, dia dikesankan 
sebagai pemimpin yang santun, runtut dalam berbicara, dan selalu berhati-hati 
dalam mengambil keputusan. Bahkan, lantaran saking hati-hatinya, pada beberapa 
kasus, dia dikesankan lamban menyelesaikannya. 

      Masihkah style kepemimpinan ala SBY itu disukai masyarakat? Di situlah 
lantas muncul sosok JK yang dikesankan punya karakter berlawanan dengan SBY. 
Jika SBY selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan sehingga durasi 
pengambilan keputusannya lama, tidak demikian halnya dengan JK. Beberapa sumber 
di lingkungan Kabinet Indonesia Bersatu menceritakan, dalam pengambilan 
keputusan, pertimbangan JK memang tidak pernah njlimet. Bahkan, lantaran saking 
cepatnya JK membuat keputusan, kesannya grusa-grusu. 

      Mampukah gaya JK mencuri perhatian masyarakat sehingga mampu menggeser 
dominasi popularitas SBY yang dalam beberapa versi survei masih mengungguli 
pasangan lain? Kita lihat saja hasilnya di pilpres 8 Juli mendatang. (*)

      * Kurniawan Muhammad Wartawan Jawa Pos
     

Kirim email ke