Nasionalisme Artinya Membangun Bangsa Bukan Menghancurkannya !!
Meskipun bung Karno selalu menyatakan dirinya sebagai seorang nasionalist,
ternyata hasil karyanya merupakan kehancuran bangsa kita, apa yang kita hadapi
sekarang memang merupakan warisan beliau.
Tidak akan pernah terjadi G30S/PKI kalo tidak pernah ada operasi "Ganyang
Malaysia".
Operasi G30S/PKI bukanlah gerakan PKI, dan juga bukan gerakan ABRI, melainkan
gerakan rahasia Amerika di Indonesia untuk melumpuhkan kekuasaan Sukarno.
Tidak mungkin Suharto bisa menculik apalagi membunuh atasan2nya sendiri, karena
untuk menggerakkan pasukan saja harus ada surat perintah atasan. Lalu kalo
justru atasan2nya yang diculik dan dibunuh, lalu dari siapa surat perintah
operasi G30S yang berhasil menculik dengan begitu gampangnya semua jendral2
paling top yang melindungi Sukarno ???
Memang ada perintah dari kedubes AS agar Suharto bertindak cepat mengambil alih
kekuasaan Sukarno, tapi Suharto ragu2, dia tidak percaya apa mungkin Sukarno
bisa begitu gampang dilumpuhkan padahal ABRI itu begitu besar dan begitu
kuatnya. Ke-ragu2an Suharto akhirnya terjawab setelah munculnya Sukarno yang
memang tak mampu ber-buat apa2.
Itulah sebabnya, Suharto baru melancarkan gerakannya pada 11 Maret 1966,
setelah yakin mendapatkan dukungan Sarwo Edhie. Suharto baru berani muncul
dengan identitas dirinya sendiri setelah dia dijamin bila bisa menangkap 5000
nama yang disodorkan duta besar Amerika, maka semua operasinya akan sukses.
Celakanya, tidak gampang menangkap 5000 nama ini, karena untuk menangkap 5000
nama ini, dia harus membantai jutaan. Dan kesemuanya ini dilakukannya dengan
disiplin yang tinggi.
> "abas_amin08" <abas_ami...@...> wrote:
> AA: Tulisan Hafsah Salim kali ini cukup rasionil.
> Pesannya boleh juga.
> Hanya saja orang2 Nasionalis seperti Umar Said, Dipo dll.
> bisa terima gak ?!
>
Benar, Umar Said ini lebih cocok disebut sebagai pengikut, penganut, atau murid
Bung Karno. Dia tidak cocok disebut seorang Nasionalist.
Karena paham Nasionalisme adalah sebuah paham yang jelas dan tegas yaitu
membela kepentingan bangsanya, membela kepentingan nasionalismenya.
Sebaliknya kebijaksanaan politik Sukarno jelas2 merugikan nasionalisme-nya,
karena merekayasa diri sendiri jadi presiden seumur hidup sama sekali bukan
paham nasionalisme melainkan dinamakan paham diktaktorisme atau tyrani-isme.
Sama seperti jiwa terorist jihad, salah atau benar tidak perlu didiskusikan
yang penting Islam itu benar dan kebenaran yang harus dibelanya sampai mati.
Padahal kebenaran itu tidak perlu dibela, dan tak perlu ada yang harus sampai
mati.
Kebenaran itu tak perlu diomongin, cukup selama tidak ada yang dirugikan
tentunya tidak ada yang tidak benar. Barulah ketika ada yang dirugikan perlu
dijelaskan agar yang dianggap salah bisa dibenarkan.
Itulah tujuannya saya menulis ini, marilah kita sama2 mau mengakui mana yang
salah dan mana yang benar sehingga bisa jadi yang kita tadinya anggap salah
bisa dibenarkan karena memang situasinya demikian. Karena memang kadang kala
kita dipaksa berbuat salah demi berpihak kepada vested interest kita. Misalnya
saja, di Indonesia kehabisan air minum, dan kita mau beli ke Malaysia malah
pihak Malaysia tidak mau menjualnya, akibatnya terpaksa kita menyerang dan
merampok Malaysia habis2an untuk mendapatkan air secara gratis. Jelas
perbuatan inipun salah, tapi karena situasinya demikian jadi bisa dibenarkan.
Inilah bedanya dengan "Ganyang Malaysia" ciptaan Sukarno. Kenapa kita harus
mengganyang Malaysia yang tidak bersalah apapun kepada kita hanya karena gara2
kita menuduhnya dia adalah bonekanya Inggris?
Apakah kalopun benar Malaysia itu boneka Inggris kemudian dibenarkan juga untuk
kita "ganyang" ???? Tujuannya memang mau merebut Malaysia menjadi wilayah
Indonesia, lalu dimana salahnya Inggris kalo pun mereka punya maksud yang sama
??? Akhirnya adu kekuatan dan hasilnya sama2 kita tahu yaitu "G30S/PKI" yang
akhirnya menyebabkan hancur leburnya bangsa kita ini.
Susah kalo cuma menyalahkan Suharto, juga tidak bisa cuma menyalahkan PKI,
tidak bisa menyalahkan Aidit. Juga bukan salahnya Inggris atau Amerika karena
justru mereka melakukan tugas mereka dengan benar yaitu tugas melindungi
kepentingan bangsa dan negara mereka.
Sebaliknya, apanya yang bisa dibenarkan dari tindakan Sukarno ini??? dia sama
sekali bukan bertujuan melindungi dan mesejahterakan bangsa kita dengan cara
mengganyang Malaysia, andaikan kita berhasil mengganyang Malaysia tentunya
perang tidak akan berhenti malah bertambah meluas dan korban juga bertambah
banyak.
Apakah kalo kita berhasil mengganyang Malaysia, maka kehidupan bangsa kita akan
jadi lebih baik? Kehidupan bangsa kita jadi lebih aman? Nasib bangsa kita
akan jadi lebih maju? Enggak mungkin khan ???
Silahkan saja bung Umar dan Dipo ini menyangkalnya dengan argumentasi yang
masuk akal, karena dalam membangun negara ini kita harus tahu kebijaksanaan
hukum dan system yang bagaimana yang harusnya kita aplikasi. Kalo cuma
menyalahkan Suharto saja sih apanya yang bisa kita perbaiki, apalagi
Suharto-nya juga tidak ditangkap, tidak diadili, bahkan hasil korupsinya tidak
juga disita padahal Amerika sudah membuka peluang untuk membantunya. Kita khan
tahu, bank2 di swiss itu konsistensinya tinggi dalam melindungi nasabah mereka,
tapi kalo Amerika yang superpower ini sudah bersedia membantu, semua bank2 di
swiss itupun bisa tembus.
Suharto itu cumalah opportunis yang berhasil memanfaatkan situasi vakum akibat
blunder yang dilakukan Sukarno. Kalo Sukarno tidak melakukan langkah blunder,
tak mungkin bisa lahir pemimpin seperti Suharto ini.
Amerika juga tidak salah, tepat menemukan orang seperti Suharto yang bisa
dimanfaatkan untuk menghancurkan negara ini. Kalo Sukarno boleh menghancurkan
negara lainnya, kenapa Amerika harus disalahkan juga berusaha menghancurkan
negara ini dari dalam tanpa perlu berperang???
Ny. Muslim binti Muskitawati.