Fyi, Maaf atas cross posting.. Sebuah catatan kecil perjalanan Jaringan Orang Terinefeksi HIV Indonesia (JOTHI) dalam memperjuangkan hak sipil dan politik orang terinfeksi HIV di Indonesia.
Salam hangat, Aditya Wardhana Policy Development and Advocacy JOTHI [email protected], [email protected] 021 - 4652 4351 > > Refleksi 1 Tahun JOTHI > Sebuah cerita aktivisme dari dunia AIDS. > > Tanpa terasa JOTHI (Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia) telah berumur > satu tahun. Pada tanggal 9 Juli 2008, 126 orang yang terinfeksi HIV dari 27 > provinsi di Indonesia mendeklarasikan terbentuknya JOTHI karena melihat dan > merasakan betapa posisi tawar dan ruang kehidupan orang terinfeksi HIV selalu > dihimpit dan ditekan ditengah usaha mereka bersahabat dengan HIV yang ada > dalam tubuh mereka. > > Banyak dinamika yang dialami bukan hanya oleh JOTHI sebagai organisasi tetapi > juga oleh orang-orang yang bersedia melibatkan diri ke dalam perjalanan > aktivisme JOTHI selama setahun ini. Pengalaman baik manis, pahit maupun getir > selalu dirasakan oleh JOTHI ketika mengusung agenda-agenda kerjanya untuk > mengupayakan hak-hak sipil dan politik bagi semua orang terinfeksi HIV di > Indonesia. > > JOTHI lahir karena munculnya kesadaran dari orang yang terinfeksi HIV akibat > adanya ketidak adilan yang dialami dalam meraih tingkat kesehatan yang layak > dan kehidupan yang lebih baik sehingga bisa turut merasakan manisnya buah > pembangunan di Indonesia. > > Carut marutnya dunia penanggulangan AIDS seolah menyambut JOTHI dengan > pesimistis dan penuh prasangka. Anggapan bahwa orang terinfeksi HIV bodoh, > malas, tidak punya harapan untuk maju dan berkembang serta anggapan lain > berbau norma-norma konservatif selalu dialamatkan kepada orang-orang yang > tergabung di dalam organisasi JOTHI. > > Situasi lapangan disaat JOTHI lahir seolah membuat dunia begitu hitam > terlihat. Tidak terjaminnya ketersediaan ARV (Terapi untuk HIV), kadaluarsanya > ARV, penolakan dari institusi layanan kesehatan, pengusiran dari sekolah, > kehilangan pekerjaan, pembatasan hak politik menjadi Caleg seolah sudah > menjadi hal yang biasa dan sepantasnya diterima oleh orang terinfeksi HIV di > Indonesia. > > Belum lagi ditambah dengan politik dari pemain-pemain di ranah penanggulangan > AIDS yang berusaha mempertahankan hegemoni relasi kuasa yang timpang dan > menganggap bahwa upaya pelibatan orang terinfeksi HIV secara simbolis lebih > menguntungkan dibanding orang terinfeksi HIV bisa menjadi sadar, kritis dan > berjuang demi kehidupan yang lebih baik. > JOTHI berusaha melakukan perubahan secara fundamental agar tercipta ruang yang > lebih baik bagi orang terinefski HIV sehingga bisa dianggap sebagai salah satu > komponen bangsa yang bisa berdaya guna bagi negara. Perubahan terhadap sebuah > situasi yang struktural dan sistematis harus dijawab dengan sebuah langkah > advokasi yang sistematis pula. > > Advokasi yang menyentuh tiga elemen pilar kebijakan mutlak dan terus menerus > dilakukan oleh JOTHI. Pendidikan basis massa, pemegang kebijakan dan media > massa menjadi kunci penting bagi JOTHI di dalam melakukan kerja-kerjanya demi > mengupayakan kebijakan publik yang lebih berpihak bagi orang terinfeksi HIV di > Indonesia. > > Perubahan secara bertahap, meski tidak bisa dihitung dengan indikator angka, > mulai bisa dirasakan oleh orang terinfeksi HIV. Keberanian orang terinfeksi > HIV untuk menyuarakan beberapa permasalahan terkait putusnya ARV, buruknya > layanan kesehatan, aksesi APBD untuk ARV, pentingnya Perda penanggulangan > AIDS, penolakan Raperdasi AIDS Papua, lemahnya mekanisme monitoring dan > evaluasi dalam program dan pengelolaan dana respon penanggulangan AIDS menjadi > sebuah awal yang baik bagi perjalanan aktivisme orang terinfeksi HIV dalam > memperjuangkan hak sipil dan politiknya. > > Dunia AIDS di Indonesia seolah tersentak dengan kediran JOTHI. Hegemoni > kekuasaan yang terusik lalu mulai menekan JOTHI sebab tidak bisa disangkal > bahwa dalam dunia AIDS di Indonesia ada banyak sekali dana dan kepentingan > yang beredar. > > Trilyunan rupiah dana penanggulangan AIDS, yang sayangnya tidak semua bisa > dipertanggung jawabkan, telah menjadi kue manis yang dinikmati oleh segelintir > orang. Simbolisasi pelibatan telah menjadi sebuah merek dagang bagi mereka > dalam menjalankan sebuah industri baru yaitu industri penanggulangan AIDS. > > Semua tekanan, intimidasi, bujuk rayu dan belas kasihan tidak akan pernah bisa > membuat JOTHI menjadi lemah. Semua hal bersifat pembodohan dan belas kasihan > berbalut kosmetika uang tidak akan bisa menghadang laju pendidikan kritis yang > selalu ditanamkan kepada setiap individu yang bersedia bergabung di JOTHI > dengan niat yang tulus. > > Refleksi satu tahun ini bukan menceritan sebuah cerita sukses seperti yang > umumnya dilakukan dalam laporan tahunan. Ini adalah sebuah inspirasi bagi kita > semua untuk memahami secara lebih baik mengenai JOTHI serta perannya dalam > mengupayakan kehidupan yang lebih baik bagi orang terinfeksi HIV di Indonesia. > > Selamat ulang tahun JOTHI.. > > Terus berjuang demi terpenuhinya hak-hak orang terinfeksi HIV di Indonesia. > > JOTHI!!!! > ³Satu tujuan, satu jaringan, satu suara untuk pemenuhan HAK..² > > > Aditya Wardhana > Policy Development and Advocacy > JOTHI > > > > ------ End of Forwarded Message > > ------ End of Forwarded Message
