http://www.detiknews.com/read/2009/07/18/013420/1167475/10/pengamat-ada-keterkaitan-pilpres-dan-unjuk-gigi-teroris

Sabtu, 18/07/2009 01:34 WIB


Bom JW Marriott dan Ritz Carlton
Pengamat: Ada Keterkaitan Pilpres dan Unjuk Gigi Teroris
M. Rizal Maslan - detikNews


Jakarta - Peledakan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, Mega Kuningan, 
Jakarta, diduga terkait pelaksanaan Pilpres 2009. Selain itu, ledakan bom ini 
juga untuk unjuk gigi bahwa di Indonesia masih ada kelompok teroris.

"Ini ada keterkaitan dengan Pilpres, karena itu mereka memberikan indikasi atau 
sign (tanda) bahwa teroris masih eksis secara nasional dan bisa sewaktu-waktu 
hadir," kata pengamat intelijen, AC Manullang kepada detikcom via telepon di 
Jakarta, Jumat (17/7/2009).

Manullang menjelaskan akan adanya ancaman itu sejak April 2008. Pasalnya, sejak 
peledakan bom terakhir di Bali pada 1 Oktober 2005 dan sebelumnya Kedubes 
Australia pada Agustus 2004, tidak ada aksi terorisme di Indonesia. 

"Sejak itu sampai 2009 tidak ada aksi terorisme, nah sekarang ada
lagi," jelasnya.

Manullang mengatakan, pelaku peledakan bom JW Marriott dan Ritz Carlton diduga 
merupakan jaringan dari kelompok yang sama dengan kelompok Nurdin M Top. Dalam 
era globalisasi saat ini yang paling penting perannya adalah adaya grand 
strategi AS tentang Neo-Liberalisme dan Neo-Kapitalisme.

"Selain itu ada gerakan Islamisasi dan ingin menciptakan kekerasan yang
dilakukan dunia Islam. Ini yang aparat keamanan dan intelijen kita kecolongan," 
ungkap mantan Direktur Litbang Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN, 
sekarang BIN) ini.

Mestinya, lanjut Manullang, pihak intelijen mampu 'menanam' orang-orangnya di 
dalam kelompok terorisme itu. 

"Itu yang tidak ada di kita. Beda dengan intelijen asing," ujarnya lagi.

Manulang pun menganalisa tentang peristiwa peledakan bom saat ini bisa terjadi.

"Pertama, apapun, siapapun dan bagaimanapun peristiwa akhir-akhir ini terkait 
dengan pelaksanaan demokrasi di Indonesia, khususnya Pemilu Legislatif dan 
Pilpres," ucapnya.

Pelaksanaan Pemilu dan Pilpres di Indonesia sangat menarik perhatian dunia
internasional. 

"Kita semua lihat, Pilpres yang berjalan satu putaran, itu sangat luar biasa 
dan tidak ada di dunia, di Amerika Serikat saja tidak bisa dan dua putaran. 
Jadi aksi ini cuma cari-cari dan cari gara-gara saja," tegasnya.

Kedua, belakangan ini terjadi aksi kekisruhan sosial, agama termasuk kasus di 
Papua, ini dalam waktu dekat juga akan terjadi lagi. Ketiga, terkait kedatangan 
orang asing, seperti para pemain sepakbola MU ke Indonesia.

Manullang menambahkan, isu-isu kemiskinan rakyat Indonesia juga masih
dimanfaatkan para kelompok teroris di Indonesia. 

"Termasuk memanfaatkan isu Pilpres," imbuhnya.

Kirim email ke