Pelaku Pengeboman Tidak Harus Selalu Mati
Apa yang direlease oleh Kepolisian selama ini sangat lah irrasional hingga bisa
disimpulkan semua keterangan2 polisi yang ditulis dalam berbagai surat2 kabar
di Indonesia se-mata2 jebakan untuk mengecoh para pelakunya sejauh mana polisi
menguasai informasi yang didapatkannya dari lapangan.
Misalnya saja, tentang tidak ada kecocokan DNA Ibrahim dengan identifikasi DNA
dari mayat2 yang ditemukan, oleh Kepolisian disimpulkan bahwa Ibrahim bukanlah
pelaku pengeboman.
Padahal pelaku pengeboman tidak selalu harus mati, dan mereka yang mati juga
tidak bisa dituduh salah satunya sebagai pelaku pengeboman.
Karena untuk meledakkan bomb dihotel JW-Marriot dan Ritz-Carlton tidak perlu
harus bunuh diri, bomb bisa ditinggalkan di kakus, bisa ditinggalkan dibawah
kursi atau meja di Lounge dan kemudian diledakkan dengan remote dari jauh.
Bahkan bisa diledakkan dengan telephon celluler.
Yang enggak pernah disinggung di-koran2 adalah bahwa semua pegawai dikedua
hotel itu diseleksi oleh bekas jendral2 di DepHanKam. Bahwa sekeras dan
sejelimet gimanapun screening untuk keluar masuk hotel, tetap saja para bekas
anggauta Abri atau Kopasus bisa lewat tanpa harus diperiksa.
Kesimpulannya sangat jelas, semua keterangan dari kepolisian sama sekali tidak
ada sangkut pautnya dengan pengejaran terhadap para pelakunya, malah
menyesatkan kepada mereka yang tidak terkait sebagai pelaku seperti Noordin M
Top. Apalagi Noordin M Top itu sendiri bukanlah pemain tunggal, tidak mungkin
dia bisa gampang2 hidup di Indonesia apalagi tidak kerja atau kerja
ber-pindah2. Padahal orang Indonesia sendiri susah hidupnya, apalagi Noordin M
Top yang orang asing ini. Transfer uang dari luar negeri untuk menunjang
kehidupan Noordin M Top juga bisa gampang dilacak. Sejak di-kejar2, Noordin M
Top ini susah bergerak, kesempatan melakukan terror yang begitu ketat
pengamanannya seperti meledakkan bomb didalam Lounge JW-Marriott betul2
mustahil kalo tidak ada bantuan dari sekurity, abri, atau kepolisian. Juga
keterlibatan orang2 didalam sendiri bisa dipastikan, mereka bisa menyusup
kebagian house-keeping, security, kitchen.
Jadi kalo dalam waktu sekian lama belum juga terpecahkan siapa pelakunya, maka
memang tidak mungkin lagi dipecahkan atau sengaja ditutupi karena kejadian ini
kemungkinan besar seperti yang diucapkan oleh SBY hingga penyelesaiannya cuma
mungkin dibelakang layar saja. Bagi intel2 abri, apalagi bekas jendral
sekualitas SBY, kejadian ini sudah bisa langsung diketahui siapa2 saja yang ada
dibelakang kejadian ini tanpa harus mengumpulkan bukti2 lagi.
Memang gampang kalo menyiarkan berita bahwa pelakunya adalah bomb bunuh diri
yang juga mati dalam pemboman ini. Se-olah2 si pelaku menggunakan kamar sewaan
1808 untuk merakit dan menyimpan bomb itu, padahal tak perlu sewa kamar, gudang
JW-Marriott sendiri bisa digunakan untuk menyimpan bomb2 ini dan sewa kamar
1808 hanyalah untuk menyesatkan saja dengan meletakkan bomb2 lain yang se-olah2
belum diledakkan.
Yang sangat khas disini adalah bahan ledak yang digunakan adalah TNT yang low
explosive. Ini adalah bahan peledak yang cuma digunakan militer bukan
terrorist jihad Islam. Bom Bali menggunakan bahan RDX yang termasuk jenis High
Explosive, sebaliknya bom JW-Marriot adalah TNT jenis Low Explosive yang
menjadi standard bahan peledak militer.
RDX bahan peledak yang digunakan Amrozy, bahan2nya harus diimport, sebaliknya,
sedangkan yang digunakan di JW-Marriott bisa dibeli dari abri.
Ny. Muslim binti Muskitawati.