http://www.mediaindonesia.com/read/2009/07/07/87224/17/1/UU-Antisubversif-Perlu-Cegah-Terorisme-
Antisubversif Perlu Cegah Terorisme Senin, 27 Juli 2009 10:43 WIB Pengamat intelijen Wawan Purwanto --MI/USMAN JAKARTA--MI: Undang-undang antisubversif perlu dihidupkan lagi untuk mencegah atau mendeteksi lebih dini ancaman terorisme dan separatisme, kata pengamat intelijen. "Memang, undang-undang itu masih menyisakan trauma bagi sebagian masyarakat, penangkapan dilakukan dimana-mana terhadap siapa saja yang dianggap mencurigakan. Tetapi itu, cara pencegahan yang baik," kata pengamat intelijen Wawan Purwanto di Jakarta, Senin (27/7). Ia menambahkan dengan dihapuskannya UU Antisubversif itu semua alat deteksi,maka aparat pencegahan di setiap lini menjadi mandul. "Aparat, hanya bisa menangkap setelah ada bukti. Sedangkan dulu, ibaratnya kedengaran jarum jatuh saja, semua aparat sudah bersiap mengamankan untuk pencegahan. Sekarang harus ada bukti dulu baru ditangkap," tuturnya. Padahal, lanjut Wawan, aksi terorisme adalah kejahatan kemanusiaan yang dilakukan secara terorganisasi dan tidak terduga. Namun, bukan berarti tidak bisa diantisipasi, maka tidak bisa dideteksi. Beberapa negara seperti Malaysia dan Singapura masih menerapkan UU Antisubversif atau yang dikenal dengan Internal Security Act (ISA). Dengan perangkat undang-undang itu maka semua kegiatan terorisme dan separatis dapat dideteksi lebih dini. Wawan mengatakan, selain undang-undang antisubeversif, maka perangkat intelijen juga perlu dilengkapi dengan peralatan yang memadai sesuai perkembangan yang ada. "Oke aparat kepolisian kita sudah memiliki prestasi yang bagus, bahkan diakui dunia dalam mengungkap aksi terorisme, tetapi mereka harus tetap dibekali peralatan modern hingga bisa 'mengendus' ancaman teror lebih awal dengan lebih baik," katanya. Hingga sepekan pascaledakan di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton di Mega Kuningan, aparat masih belum menemukan titik terang tentang pelaku. Aparat baru sekadar memastikan bahwa aksi teror itu dilakukan oleh kelompok Noordin M Top. Bahkan reka ulang yang akan dilakukan di kedua hotel pada Senin (27/7) siang pun, hanya didasarkan pada kesaksian sejumlah tamu dan para karyawan hotel yang masuk saat bom meledak. (Ant/OL-02) ++++ http://www.mediaindonesia.com/read/2009/07/07/86644/17/1/Ancaman-Terorisme-Masih-Berkeliaran Ancaman Terorisme Masih Berkeliaran Kamis, 23 Juli 2009 13:04 WIB ANTARA CENGKARENG--MI: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, semua pihak harus terus waspada dan tidak lengah karena ancaman terorisme masih berkeliaran tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Pada peresmian gedung baru manajemen PT Garuda Indonesia (Persero) di area perkantoran M-1 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Kamis (23/7), Presiden meminta semua pihak untuk tidak berkompromi dalam menjaga keamanan. "Saya menginstruksikan kepada jajaran pemerintah dan BUMN, saya menyerukan kepada pihak swasta siapa pun, untuk tidak berkompromi dengan tindakan keamanan dan keselamatan," tuturnya. Presiden mengatakan, kesibukan memperketat keamanan tidak hanya dilakukan setelah adanya tindakan terorisme yang lolos dari pengawasan. Menurut dia, setiap saat harus dilakukan penjagaan keamanan dan pencegahan melalui pemeriksaan ketat terhadap semua akses masuk ke dalam gedung termasuk memeriksa semua barang bawaan. "Saya sering mengkritik kadang-kadang dianggap sudah kenal karyawan di situ, lantas tidak diperiksa seksama. Semua harus diperiksa seksama," ujarnya. Kepada PT Garuda Indonesia, Presiden Yudhoyono juga mengingatkan agar maskapai penerbangan nasional itu menjaga keamanan dari ancaman terorisme di Indonesia maupun di dunia. Ia meminta pemeriksaan keamanan dilakukan tidak hanya di pintu pemeriksaan, tetapi juga sampai ke lorong-lorong karyawan dan juga layanan catering yang harus steril. "Jangan berkompromi, tidak ada toleransi apa pun untuk mengendorkan langkah-langkah pengamanan dan penyelamatan penerbangan. Semua prosedur tetap, standard operator prosedur dan preventive measure agar dijalankan," ujarnya. Presiden mencontohkan, jika ia menumpang pesawat kepresidenan dari Bandara Halim Perdanakusuma pun, barang bawaannya tetap harus melewati prosedur pemeriksaan yang diwajibkan. "Siapa tahu ada yang mengaku tas Presiden, padahal tas orang lain," ujarnya. Karena itu, menurut Kepala Negara, jangan sampai ada pejabat negara yang ingin lolos dari prosedur pemeriksaan wajib hanya karena ia petinggi negara. "Kalau pemimpin perusahaan meyakinkan langkah-langkah pengawasan seperti itu baik, maka tidak mudah kita harus menerima serangan atau tindakan kejahatan lain,"katanya. Presiden kemudian menyampaikan harapannya setelah kejadian ledakan bom terakhir di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, pada 17 Juli, bangsa Indonesia dapat lebih bersatu dan sadar untuk menjaga keamanan. Seperti kejadian terdahulu, kali ini Presiden Yudhoyono juga yakin pihak kepolisian dapat mengungkap identitas pelaku peledakan dan mengadili serta menghukum mereka yang terlibat dalam aksi terorisme itu. (Ant/OL-04)
