Refleksi : Menurut pandangan sebahagian orang berpaham surgwai dibilang komunis 
adalah kafir, karena katanya tidak percaya pada Alloh. Wahyu Alloh  terhadap 
orang kafir antara lain bisa dibaca dalam Al Quran pada Ali Amirn (3:10) :" 
Sesusngguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikit 
pun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan 
bakar api neraka". 

Untuk ke neraka harus terlebih dahulu mati duniawi atau dimatikan, pada ayat 2: 
191 antara lain dikatakan :" ...bunuhlah mereka, Demikianlah balasan bagi 
orang-orang kafir" .  Agaknya begitu adalah kurang lebih pandangan prof 
Aminuddin Kasi dan anggota-angota MUI serta konco-konco lain yang berdemo 
membakar buku-buku. Syukuralhamdullilah, kali ini hanya buku dibakar, siapa 
tahu di kemudian hari mungkin manusia-manusia kafir dibakar sebelum ke neraka 
untuk dibakar kedua kali. 

Biasanya untuk memperoleh gelar profesor itu paling tidak sang akamdemikus 
harus membuat banyak karya yang diterbitkan berupa buku atau juga di majalah 
ilmu pengetahuan. Jadi pertanyaannya, apakah ada yang tahu buku-buku atau 
artikel apa saja mengenai yang ditulis oleh profesor Aminuddin? Mungkin ada 
perlunya dibaca.

http://indonesiabuku.com/?p=1597

Prof Aminuddin Kasdi Menjawab
 Diposting oleh IBOEKOE on Sep 7th, 2009 di topik Esai. Anda dapat mengikuti 
diskusi pada berita ini melalui RSS 2.0. Anda bisa juga meninggalkan komentar 
dan trackback 

Sejumlah elemen umat Islam yang mengatasnamakan dirinya sebagai Front 
Anti-Komunis berunjuk rasa di kantor pusat Jawa Pos di Surabaya, 2 September 
lalu. Mereka merasa tidak puas dengan tulisan CEO Jawa Pos Dahlan Iskan, bos 
Jawa Pos, tentang Soemarsono. Dalam aksinya, mereka sempat membakar buku 
Revolusi Agustus.

Salah seorang tokoh yang ikut berdemonstrasi adalah Guru Besar Sejarah 
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Profesor Aminuddin Kasdi. Dia menjadi salah 
seorang tokoh yang bersuara paling lantang yang menyebut tulisan di Jawa Pos 
sebagai upaya "memutarbalikkan sejarah".

Berikut petikan wawancara kontributor Indonesia Buku Eri Irawan dengan 
Aminuddin Kasdi (AK), Senin (7/9/2009).

Prof, bisa dijelaskan sekilas mengapa sampai ada demonstrasi ke kantor Jawa Pos?

AK: Itu sebagai bentuk kepedulian berbagai kelompok umat Islam. Ada banyak, ada 
MUI dan berbagai kelompok. Intinya, kami menolak tulisan yang mencoba 
memutarbalikkan peran Soemarsono. Dia (Soemarsono, Red) bilang dia jadi korban, 
itu tidak benar. (Yang dimaksud adalah pernyataan Soemarsono yang telah meminta 
maaf kepada keluarga korban Kasus 1948 di Madiun dan mengatakan bahwa mereka 
adalah sama-sama korban. Kaum komunis maupun umat Islam adalah korban dari 
penguasa saat itu). Itu memutarbalikkan sejarah.

Anda melihat tulisan-tulisan Dahlan Iskan itu sangat berbahaya?

AK: Dahlan mencoba memberi peluang agar nama Soemarsono dan PKI bisa pulih 
kembali. Nanti itu bisa digunakan PKI untuk membersihkan diri. Semestinya 
tulisan itu harus berimbang, harus cari sumber-sumber lain. Soemarsono memang 
pelaku sejarah, tapi harus ada sumber-sumber lain biar tidak subyektif. 
(Tulisan-tulisan Dahlan Iskan yang dimaksud bisa di baca di sini dan di sini)

Anda puas dengan tanggapan yang sudah dimuat Jawa Pos?

AK: Sebenarnya banyak hal yang tidak ditulis Jawa Pos untuk meng-counter 
tulisan tentang Soemarsono. Masih ada beberapa hal lagi.

Prof, sejarah selalu punya banyak tafsir. Perbedaan menjadi hal yang wajar. 
Lantas, mengapa sampai membakar buku Revolusi Agustus?

AK: Itu bentuk ketidaksetujuan terhadap Soemarsono. Misalnya, dia itu kan tidak 
mengakui kalau kabinet pemerintahan dimulai dari kabinet presidensiil, tapi dia 
bilang dimulai dari Kabinet Amir Syarifuddin. Lalu di mana Kabinet Sjahrir I 
dan II?

Satu lagi, Soemarsono tidak menjadikan 17 Agustus 1945 sebagai titik tolak 
perjuangan bangsa, karena itu dia menyebutnya Revolusi Agustus. Kan bagi dia 
masih ada revolusi lagi untuk menuju masyarakat Komunis. Nah, pandangan itu kan 
mencerminkan kalau dia komunis tulen.

Soal 1948, kita harus tahu bagaimana pembantaian di Magetan, di Gorang-Gareng 
(merupakan salah satu kecamatan di Magetan, Red), para ulama di Takeran (juga 
satu kecamatan di Magetan). PKI itu menghalalkan segala cara.

Mengapa sampai membakar buku? Mengapa tidak menulis tanggapan, misalnya?

AK: Ya itu bentuk ketidakpuasan, ketidaksetujuan masyarakat. Kalau soal menulis 
tanggapan, sudah banyak buku yang ditulis. Orang tahu PKI itu menghalalkan 
segala cara.

Prof, banyak buku pelajaran sejarah yang tidak mencantumkan PKI dalam 
penyebutan Gerakan 30 September dibakar.

Kalau buku pelajaran sejarah, perjuangan kami secara yuridis, ke jalur hukum. 
Kami sampaikan ke Depdiknas untuk mengubah itu. Kami juga sampaikan ke lembaga 
terkait, kepolisian, kejaksaan, dan MA. Jangan sampai keliru memahami.

Saat ini, juga banyak buku yang mencoba memberi ruang bagi kelompok-kelompok 
yang selama ini terlanjur dipinggirkan dalam sejarah nasional untuk bersuara, 
termasuk mencoba meletakkan PKI secara proporsional dalam sejarah republik. Apa 
pendapat Profesor?

AK: Ya, sah-sah saja. Silakan. Biasa saja itu. Yang jelas, (untuk) sejarah 
1965, (saya) memiliki titik pandang tertentu, dan itu belum bisa dipatahkan. 
Kalau buku-buku itu membela diri, pasti dipenuhi subyektivitas. Banyak 
mahasiswa sejarah yang juga seperti itu.

Artinya, banyak pula mahasiswa sejarah yang mencoba menggugat tafsir beku 
terhadap keterlibatan PKI selama ini?

AK: Biasa saja itu. Mereka itu terpengaruh oleh opini-opini, apalagi dibumbui 
semangat anti-Orde Baru. Tapi, bagi orang yang hidup di waktu itu, 1960-an, 
1970-an, (pandangan bahwa PKI bersalah) tak bisa diganggu gugat.

Untuk mengurai silang-sengkarut sejarah ini, apa perlu sebuah rekonsiliasi 
nasional?

AK: Rekonsiliasi tidak untuk membengkokkan sejarah. Membuka luka sejarah ini 
berarti harus dibuka semuanya. Tidak hanya kasus 1965, tapi juga 1948. Jangan 
ada yang meminta pemulihan nama baik, merasa hanya menjadi korban, lho yang 
salah sebenarnya siapa? Apa umat Islam? PKI kalah saja kelakuannya seperti itu, 
apalagi kalau menang. Biarkan rekonsiliasi berjalan alamiah saja, tak usah 
dijembatani.

Prof, Anda sempat bilang bahwa "sejarah hanya untuk pihak yang menang". Lantas, 
apa berarti kelompok yang terpinggirkan tidak berhak hadir dalam sejarah, 
termasuk dalam konteks ini adalah PKI? 

AK: Itu sejarahnya sendiri, yang punya legalitas yang bisa menulis. Sekarang 
begini, kalau kamu pacaran, belum menikah, masih bebas. Setelah Anda kawin, 
masak istri Anda boleh diaku oleh orang lain? Sama seperti itu. Ingat, sejarah 
itu soal satu masa. SBY saat ini menang, maka dia bisa mempolitisasi sejarah. 
PKI kalau mau bikin buku, silakan saja.

Bagaimana sebenarnya Anda melihat potensi berkembangnya komunisme dalam konteks 
negara kita saat ini?

AK: Situasi kita saat ini mirip 1965, di mana negara ya seperti ini. Situasi 
sekarang malah lebih sulit. Semua sudah diatur dalam UU. TNI sendiri sudah 
diatur sedemikian rupa, dwifungsi sudah tidak ada. Banyak saksi sejarah sudah 
tidak ada, sehingga tidak bisa memberikan paparan apa yang sebenarnya terjadi 
di zaman dahulu.

Dengan reformasi, marak isu demokratisasi, HAM, karena itu peranan TNI-Polri 
dibatasi. Akibatnya, tidak ada tindakan yang cepat untuk golongan-golongan yang 
anti-Pancasila.

Titik tolaknya ada di masyarakat. Kalau masyarakat tahu dan menolak paham-paham 
anti-Pancasila, TNI harus bergerak dan menolak juga. Masalahnya, PKI itu 
menghalalkan segala jalan, jadi masyarakat harus proaktif, harus waspada.

Ke depan, langkah apa yang akan dilakukan?

AK: Ke depan, ya disosialisasikan jangan sampai ada pembelokan sejarah. Saya 
sendiri bergerak di jalur saya, sejarah, lewat Masyarakat Sejarah Indonesia 
(MSI).*

Attachment: e0f83121129561a30045bbfb2a9c8d2b?s=26&d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D26&r=G
Description: Binary data

Kirim email ke