Refleksi :  Sebgai info tambahan silahkan ssimak ini :  
http://www.youtube.com/watch?v=5L-9HcTb1es&NR=1

http://www.gatra.com/artikel.php?id=130359


Presiden Stres dengan Pengamanan


Jakarta, 18 September 2009 14:12
Susilo Bambang Yudhoyono tentu mendapatkan pengamanan terbaik. Namun hal itu 
justru membuat orang nomor satu di Indonesia itu merasa stres, lantaran tidak 
bisa dekat dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.

"Yang paling stres adalah saya, bukan karena takut ancaman teroris namun 
perasaan tidak enak dan bersalah," kata Presiden saat acara ramah tamah dan 
buka puasa bersama dengan para wartawan Istana Kepresidenan di Istana Negara 
Jakarta, Kamis (17/9) malam.

Selama lima tahun menjabat sebagai presiden, Yudhoyono dan istri, Ani 
Yudhoyono, saat perjalanan ke daerah maupun di Jakarta, sangat jarang menutup 
jendela kendaraan dinas karena ingin tetap bisa bertatap muka dan menyampaikan 
salam pada masyarakat yang ditemuinya.

Namun perkembangan situasi, menyusul ancaman pemboman atas iring-iringan mobil 
kepresidenan dengan ditemukannya bahan peledak yang tengah dirakit diperumahan 
kawasan Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat, beberapa waktu lalu, membuat Pasukan 
Pengamanan Presiden (Paspampres) untuk beberapa waktu melarang keduanya membuka 
kaca kendaraan.

"Saat tertentu saya dilarang oleh Paspampres. Saya betul-betul sakit rasanya, 
namun memang saya harus betul-betul patuh pada Paspamres karena dalam 
Undang-Undangnya mereka harus mengamankan presiden," papar Presiden Yudhoyono, 
dengan diiringi senyuman khasnya.

Presiden Yudhoyono bahkan mengaku kerap berdebat dan bernegosiasi dengan 
Paspamres untuk masalah pengamanan itu.

Semisal, saat renungan suci 17 Agustus 2009 dini hari di Taman Makam Pahlawan 
Kalibata. Kepala Negara mengklaim sangat ingin bisa membuka kaca kendaraan 
sehingga bisa menyapa masyarakat, namun atas larangan Paspamres, niat tersebut 
terpaksa dibatalkan. "Saya minta maaf kepada masyarakat, nggak enak kalau 
seperti itu," ungkapnya.

Meski demikian, menyusul tewasnya gembong teroris, Noordin M Top, oleh pihak 
kepolisian dalam sebuah penyergapan di Solo, Jawa Tengah, Kamis (17/9) dini 
hari, Presiden Yudhyono belum tahu apakah otoritas pengamanan presiden akan 
mengendurkan pengamanan terhadap kepala negara. "Biar Paspamres yang menilai 
hal itu," tanggapnya. [EL, Ant] 

Kirim email ke