http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009091606101755

      Rabu, 16 September 2009 
     
      OPINI 
     
     
     
Gagalnya Pendidikan Kita 

      Asarpin

      Peminat kajian humaniora, tinggal di Bandar Lampung



      Orang bijak pernah mengatakan, "Jika kau ingin dapat pekerjaan yang 
secara ekonomi dan sosial menggiurkan, tak perlu sekolah tinggi. Cukup tamat 
SLTA dan cari pekerjaan." Untuk apa sekolah sampai S-2 dan S-3 karena 
kenyataannya tak membuat orang nambah pintar secara sosial, ekonomi, budaya, 
politik. Juga tidak menambah pintar secara intelektual, emosional dan 
spiritual. Lihatlah rekan-rekanmu yang master dan doktor, apa bedanya dengan 
kamu yang cuma tamat SLTA dan S-1.

      Bahkan, orang yang cuma tamatan SD banyak yang lebih pintar dari 
profesor. Pramoedya Ananta Toer itu cuma sekolah setingkat SLTP dan itu tidak 
lulus. Soejatmoko tidak selesai S-I. Isbedy Stiawan Z.S. hanya tamat SLTA. 
Banyak sekali penulis yang bergelar doktor tapi kualitas tulisannya jauh di 
bawah orang-orang yang tidak tamat S-1 itu.

      Apakah artinya ini? Pendidikan kita gagal? Bisa jadi karena ternyata 
pendidikan formal yang hebat-hebat hanya menghasilkan orang-orang yang 
sebenarnya tidak terdidik.

      Betapa panjang nama-nama yang menempuh pendidikan tinggi tapi tidak lebih 
pintar itu, maka makin pesimistis kita dengan yang namanya lembaga pendidikan 
di negeri ini. Belum lagi soal makin tinggi pendidikan makin hati-hati orang 
untuk menulis sehingga tidak kreatif dan tidak produktif. Mereka takut salah. 
Mereka takut harga diri mereka tercoreng. Tapi, ah, sudahlah.

      Terus terang, sejak lama saya sudah mengalami krisis terhadap pendidikan 
kita, terutama sejak saya bersentuhan secara teoritis dengan buku-buku Paulo 
Freire, Ivan Illich, Peter Drost, Soedjatmoko, buku-buku Romo Mangunwijaya dan 
buku-buku keluaran Insist. Ditambah pengalaman saya berkecimpung dengan sastra 
dan bergelut bersama kaum miskin kota di Jakarta dan di Bandar Lampung, yang 
ternyata tidak lebih bodoh dari burung beo seperti para sarjana kita.

      Saya yakin orang-orang yang sudah master dan doktor sadar akan beban 
gelar yang mereka emban. Saya yakin mereka sadar bahwa gelar tidak menjamin 
seseorang lebih pintar. Kalau saja karena tidak ada kepentingan untuk jadi 
dosen atau agar cepat diterima jadi pegawai negeri sipil, mungkin orang-orang 
itu tidak melanjutkan pendidikan sampai S-2 dan S-3. Tapi apa memang betul? 
Bukankah gelar juga prestise, bisa menambah gengsi sosial dalam pergaulan?

      Gelar master dan doktor hanya topeng yang menyembunyikan begitu banyak 
kerapuhan. Master dan doktor sudah begitu banyak di Indonesia saat ini, dan 
seharusnya Indonesia sudah jauh lebih hebat dari setengah abad yang lalu. Tapi 
apakah Indonesia lebih hebat, lebih baik, lebih sejahtera, lebih beradab?

      Kalau seorang master dan seorang doktor tidak lebih pintar dari orang 
yang hanya tamat SLTP atau SLTA, lalu apa artinya ini? Siapa yang salah jika 
para doktor dan profesor kita tidak lebih pintar dari orang yang tamat SLTA? 
Siapa yang mesti bertanggung jawab jika pendidikan negeri ini tambah bobrok?

      Izinkan saya menjawab: dunia pendidikan. Yang saya maksudkan dunia 
pendidikan di sini adalah sekolah, perguruan tinggi seperti universitas, 
institut, dan sekolah tinggi itu. Yang saya maksudkan dunia pendidikan adalah 
sekolah formal yang mencetak para sarjana yang memimpikan siap pakai tapi tak 
malu kalau dibilang sarjana bodoh.

      Selama ini setidaknya ada dua kesalahan yang selalu saya tuduhkan kepada 
negara soal pendidikan kita. Pertama, kebijakan negara hanya memberi peluang 
pada orang yang berijazah tanpa mengukur kemampuan orang yang tak punya ijazah. 
Kedua, disadari atau tidak, negara telah membuat prasangka yang rasis dengan 
menempatkan yang tidak berijazah sebagai bodoh dan yang berijazah sebagai orang 
pintar dan menutup akses bagi yang pertama.

      Sekolah saja tak pernah cukup, tuan, tulis Andrias Harefa. Perlu juga 
ditambahkan di sini: sekolah kita sudah lama mati. Pendidikan tinggi kita hanya 
melahirkan orang yang tidak terdidik. Betapa pun lembaga-lembaga pengajaran 
formal itu dibenahi dan direformasi, ia tak menjamin melahirkan manusia-manusia 
berkarakter, berjiwa, inovatif, dan kreatif.

      Pendidikan kita gagal membentuk mental. Pendidikan kita gagal melahirkan 
manusia Indonesia berkarakter. Pendidikan kita gagal melahirkan sarjana yang 
berjerih-berkeringat secara intelektual, emosional, dan spiritual, dan hanya 
berhasil menambah banyak manusia yang jadi pengemis dan pemulung.

      Pendidikan kita hanya sarang penyamun. Lembaga penjual gelar yang cuma 
melahirkan para pendidik yang pandai berslogan dan jual proposal. Tengoklah 
soal sertifikasi dan soal UN selama ini, betapa rendah karakter pendidikan 
kita! Pendidikan kita sudah begitu jauh berada di tempat-tempat salon dan 
tukang cetak piagam. Pendidikan kita begitu jauh meninggalkan spirit budaya.

      Hai, manusia-manusia berpendidikan, bangunlah! Hai manausia-manausia 
bergelar sarjana, master, dan doktor, berkacalah! Malu pada gelar kalian kalau 
ternyata kalian tidak punya kontribusi apa pun bagi perbaikan negeri ini! 
Malulah pada diri kalian kalau ternyata kalian sudah tak membaca buku lagi!
     

<<bening.gif>>

Kirim email ke