Refleksi : Sering listrik dipadamkan oleh PLN menambah sarana dan gairah untuk pertumbuhan penduduk :-))
http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/pertumbuhan-penduduk-indonesia-masih-besar/ Rabu, 04 November 2009 14:14 Pertumbuhan Penduduk Indonesia Masih Besar Jakarta - Meski laju pertumbuhan penduduk Indonesia saat ini sudah turun menjadi 1,3 persen, pertumbuhan penduduk secara absolut per tahunnya masih besar. Setiap tahun, jumlah penduduk Indonesia bertambah sekitar 3-4 juta orang. "Kita memang sudah berhasil menurunkan laju pertumbuhan penduduk dari 2,3 persen pada tahun 1980 menjadi 1,3 persen saat ini. Namun secara absolut, pertumbuhan penduduk kita masih tergolong besar. Setiap tahun, jumlah penduduk Indonesia bertambah sekitar 3-4 juta orang," ujar Sekretaris Utama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sudibyo Alimuso di sela-sela pembubaran panitia pagelaran wayang kulit, di Jakarta, Selasa (3/10). Menurutnya, pemerintah Indonesia telah menargetkan untuk menurunkan laju pertumbuhan penduduk menjadi 1,1 persen pada akhir tahun 2009. Disinggung mengenai tidak adanya kementerian kependudukan dalam susunan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II, Sudibyo mengatakan, melihat laju pertumbuhan penduduk Indonesia sekarang ini, idealnya masalah kependudukan harus ditangani oleh sebuah kementerian. "Semestinya ada satu kementerian yang khusus menangani masalah kependudukan. Indonesia selain memiliki jumlah penduduk yang besar harus diimbangi oleh kualitas penduduknya. Kalau jumlah penduduk besar, kualitas penduduknya rendah, itu akan menjadi beban bagi negara," lanjut Sudibyo seraya menambahkan, Human Development Index (HDI) Indonesia sekarang ini berada di posisi 112 dari 182 negara. Dalam Undang-Undang (UU) No 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Penduduk dan Pembangunan Keluarga, BKKBN telah berganti nama, dari semula Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. BKKBN bertanggung jawab langsung kepada presiden. Sudibyo mengatakan, saat ini pihaknya telah mempersiapkan Peraturan Pemerintah (PP) untuk menerjemahkan UU tersebut. Sementara itu, pakar kependudukan Haryono Suyono mengatakan, BKKBN sebagai satu lembaga yang menangani masalah kependudukan dan bertanggung jawab langsung kepada presiden harus lebih gencar melakukan sosialisasi program-programnya kepada masyarakat. Tidak terbatas pada masalah kesertaan Keluarga Berencana (KB), melainkan juga program pemberdayaan masyarakat dan kesejahteraan keluarga. Menurutnya, peran BKKBN saat ini sangat besar, terlebih setelah Rancangan Undang-Undang (RUU) Perkembangan Penduduk dan Pembangunan Keluarga disahkan sebagai UU oleh DPR pada akhir September lalu. "Selain tanggung jawabnya kini langsung kepada presiden, BKKBN yang baru ganti nama dari Badan Koordinasi menjadi Badan Kependudukan ini punya payung hukum yang lebih jelas, yakni UU Perkembangan Penduduk dan Pembangunan Keluarga," ujarnya. Menurutnya, pembangunan kependudukan harus diawali dengan program pengedalian penduduk. "Jika terlalu banyak manusia lahir, hasil-hasil pembangunan semakin sedikit dinikmati masyarakat. Akibatnya, banyak masalah-masalah yang timbul, seperti pengangguran, gizi buruk, dan minimnya akses pendidikan," imbuh Haryono. Dia juga mengaku agak sedikit kecewa karena tidak ada kementerian kependudukan dalam susunan KIB II. Namun, dia bisa memahami bahwa semua itu merupakan hak prerogatif presiden. Ia menambahkan, pemerintah harus serius memperhatikan masalah laju pertumbuhan penduduk di Indonesia. Jika masalah laju pertumbuhan penduduk ini diabaikan, lanjut Haryono, Indonesia akan mengalami ledakan penduduk yang lebih dasyat dibandingkan tahun 1960. Hal tersebut dibuktikan dengan semakin sedikitnya bayi baru lahir yang meninggal dunia. Dia menjelaskan, dengan tidak adanya kementerian kependudukan dan menempatkan BKKBN sebagai badan yang bertanggung jawab langsung kepada presiden, ada beberapa kunci yang harus dilakukan, yakni para sesepuh kependudukan dan Keluarga Berencana (KB) harus turun gunung untuk mensosialisasikan program KB kepada generasi muda, lebih menekankan pada program komunikasi, informasi dan advokasi, memperkuat jaringan multisektor, serta harus siap menjadi contoh untuk masyarakat. (stevani elisabeth)
