Badai Puisi dari Belanda: Kiriman Heri Latief


Oleh Asep Sambodja


 
Penyair Heri Latief membuka mata semua orang tentang kenyataan
yang terjadi di Indonesia. Setahun sebelum kasus mafioso peradilan
terungkap di Mahkamah Konstitusi pada Selasa, 3 November 2009, Hari
Latief (2008) sudah bersuara lantang melalui puisi-puisinya yang
terhimpun dalam buku 50% Merdeka. Kenyataan yang begitu telanjang
tentang bobroknya aparat hukum di negeri Indonesia ini pun telah lama
diteriakkan penyair Indonesia yang tinggal di Amsterdam, Belanda, ini.
Dengan bahasanya yang lugas, bahkan seringkali mendobrak kaidah bahasa
Indonesia untuk mendapatkan ketajaman visinya, Heri Latief tak
henti-hentinya bersuara melalui puisinya yang tajam dan menikam. Salah
satunya, puisi “50% Merdeka” memperlihatkan kesaksiannya yang terkesan
tanpa tedeng aling-aling.



50% Merdeka



kartu sudah dibagikan

siapa yang punya kartu truf?



pada emosi yang buta huruf

media cetak corongnya cendana

semua berita dijokul obralan

jurnalistik tanpa rasa kemanusiaan

kekejaman disulap jadi rayuan



ada hujan milyaran uang haram?

pengkhianat bangsa jelas kelihatan

yang jual diri jual nama jual iman



ironi memori bangsa Indonesia

manipulasi sejarah terbukti sudah

apalagi yang kau mau tahu?



istana punya kuasa

cendana punya dana

elite politik lagi main kartu

bosnya punya nama dipoles

propaganda sesat para penjilat



sedangkan di bawah banyak urusan penting

korban bencana alam menggigil kedinginan

rakyat perlu kepastian hukum dan keadilan

bukan pameran dukungan terhadap bekas tiran



ayo! mari kita bersama

bersatu mengganyang keraguan

kita belum merdeka 100% bung!



sirajatega masih berkuasa

maka derita itu dobel bencana



juga semangat persatuan Indonesia

jangan mau dirayu bujukan uang haram



Amsterdam, 16 Januari 2008




 Mata penyair Heri Latief seakan-akan menembus jauh ke depan. Kalau
kita baca berita yang terjadi pada bulan Oktober-November 2009, maka
tidak perlu disangkal lagi bahwa yang dikatakan Heri Latief itu benar
adanya. Semuanya benar-benar telanjang. Mata batinnya sudah jauh-jauh
hari mengingatkan kepada pembaca bahwa “pengkhianat bangsa jelas
kelihatan, yang jual diri jual nama jual iman.”

Sebenarnya banyak yang tahu adanya kebusukan-kebusukan itu, terutama
kebusukan di bidang hukum—yang menempatkan Indonesia sebagai negara
terkorup di dunia—hanya saja yang berani bersuara lantang hanya
segelintir saja, termasuk Heri Latief. Dalam puisinya yang lain,
“Sepuluh Tahun Reformasibasi”, Heri Latief lagi-lagi menampar muka
pembacanya. Refleksi yang disuguhkan Heri sangat berbeda dengan yang
terbaca di media massa selama ini. Bahkan menampar muka penyair-penyair
salon yang hanya memberikan pepesan kosong. Berikut petikannya:



Sepuluh Tahun Reformasibasi



penyair nulis sihir kata bersayap

semangat puisi mengabdi pada siapa?

jika sajak memuja sang rembulan

hayalan pun dibikin berkilauan



di zaman edan orang jual perasaan

uang haram biangnya persoalan

jangan lupakan bung!



rajamaling itu masih berkuasa

penguasa berpihak pada siapa?



dalam sejarah politik kekerasan

dari tragedi 65 sampai 98

reformasi setengah hati aslinya basi



kini tersisa buruknya kenangan

terlalu banyak darah rakyat dikorbankan



si miskin hidupnya makin menderita

ditimpa bencana alam bertubi-tubi

malah diprovokasi kekayaan hasil nyuri

lengkaplah sudah perasaan orang bawahan



realitas di bawah semakin mengganas

antrian minyak tanah peringatan keras

syair bagimu negeri cuma memori

rindulah kita persatuan Indonesia



jagalah api semangat!

anti penindasan terhadap rakyat



Amsterdam, 7 Januari 2008


 Penyair-penyair salon memang tidak akan menulis puisi seperti ini.
Seperti yang disindir Heri, mereka bisa menulis puisi apa saja,
termasuk “jika sajak memuja sang rembulan, hayalan pun dibikin
berkilauan”. Namun, sejatinya barang seni bernama puisi semacam itu
hanya untuk klangenan dan hiburan semata. Saya menduga kenapa
puisi-puisi tajam dan lantang itu mengalir deras dari tangan Heri
Latief, karena kawan-kawan diskusinya di Belanda adalah
sastrawan-sastrawan eksil yang memiliki pengalaman yang sangat mahal
harganya. Dan, kebanyakan sastrawan-sastrawan Lekra adalah kaum
intelektual yang mumpuni, yang sangat paham dengan persoalan bangsanya.
Kita ambil contoh sastrawan Njoto alias Iramani dan Setiawan H.S. alias
Hersri Setiawan untuk menyebut beberapa nama saja.

Membaca puisi-puisi Heri Latief ini saya seperti menikmati
lukisan-lukisan Joko Pekik yang menyimpan dendam politik yang demikian
membara. Lukisan “Berburu Celeng” karya Joko Pekik kini menjadi salah
satu lukisan favorit banyak orang. Kalau kita merasakan adanya napas
“Politik adalah panglima” dalam puisi-puisi Heri Latief, saya pikir itu
karena lingkungan, wawasan, dan pengalaman yang membentuknya seperti
itu. Puisi yang berjudul “42 Tahun G30S” menyarankan kepada pembaca
bahwa masih ada yang belum beres mengenai sejarah nasional 1965-1966
itu. 

Sejarawan Henk Schulte Nordholt (2008) merasa heran dengan
historiografi Indonesia modern yang sepertinya tanpa ada kekerasan
dalam buku-buku sejarah resmi yang dibuat oleh negara, namun sejatinya
banyak korban yang berjatuhan seiring dengan bangkitnya Rezim Soeharto.
Makanya tidak heran jika Nordholt menyarankan perlunya historiografi
dengan perspektif yang baru, yakni melihat dan membaca sejarah dari
perspektif korban. Suatu pendekatan yang tengah berkembang di Eropa
akhir-akhir ini, sebagai alternatif pendekatan Les Annales yang
berkembang pesat di Prancis. Berikut saya kutip puisi Heri Latief
tersebut.



42 Tahun G30S



waktu melaju ke masa depan

sejarah bicara terpatah-patah

hati berduri menyayat memori

42 tahun usia negeri tragedi

luka sejarah kita bernanah



sejarah kita adalah penindasan

sekalipun dalam ruang mimpi

bermuara pada satu nama

: G30S



adalah kode buat jutaan korban

yang ditindas sampai hari ini

harga nyawa orang Indonesia

murah meriah seperti obral besar!



ratusan ribu tulang belulang tersebar

sampai kapan kau menahan sabar?

perubahan iklim politiknya barbar

lalu semua orang musti telan pil sabar



supaya otaknya jangan jadi sangar?



jangan lupakan tragedi 65

jangan lupakan kebiadaban

dan jangan lupa melawan

atas nama semua korban

kita bersatu dalam satu barisan



seperti kata wiji thukul

hanya satu kata

: LAWAN!



Amsterdam, 24 September 2007


 Saya pikir yang disuarakan Heri Latief di atas merupakan
representasi dari ribuan bahkan jutaan manusia yang telah dizalimi
selama Orde Baru. Tidak heran Pramoedya Ananta Toer tidak bisa percaya
pada seluruh elite politik dan kaum intelektual yang mendirikan Rezim
Orde Baru karena selama ini mereka hanya diam. “Mereka membiarkan
fasisme terjadi di zaman Orde Baru,” kata Pramoedya Ananta Toer.



Citayam, 4 November 2009

Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   
http://sastrapembebasan.wordpress.com/
 


      

Kirim email ke