Kreasi Nomor Tanjidor - Sekitar Aktivitas Kreativitas Tulis Menulis Di Luar Garis (11)
Oleh: A.Kohar Ibrahim * Di atas tembok Berlin rakyat menyanyi dan menari sinar temaram bulan menembus kabut siapapun engkau, aku menyatu dalam gemuruhmu ............................. kini tampak tiang tiang raksasa pada tembus lapang cakrawala membiarkan lewat harkat manusia (Putu Oka Sukanta) * Sekedar Pengantar Kreasi Nomor Tanjidor KREASI Nomor 4 1989-1990 setebal 80 halaman. Nomor yang saya sebutkan dalam "Sekedar Pengantar" sebagai "Nomor Tanjidor". (hlm 2-3). Seraya menegaskan, bahwa "setelah melalui tahun pertama 1989 yang adalah tahun pesta besar 200 tahun Revolusi Perancis dan revolusi dalam revolusi negeri-negeri Eropa Timur, kita masuki tahun kedua Kreasi dengan "nomor tanjidor". Nomor simbolis pesta. Kerna tahun ini pun aneka ragam pesta pesta pasti terselenggara. Pesta kecil pesta besar. Pesta individual pesta kolektip. Pesta kelahiran pesta kematian. Pesta kegagalan pesta kemenangan. Dari segalanya itu adalah wajar jika tercerminkan dalam kreativitas seni kita. Dalam pesta kita. Sekalipun hanya dengan cara sederhana tak ubahnya seperti...Tanjidor." Dengan kulit-muka yang dilengkapi ilustrasi gambar hasil gores-garis pelukis Basuki Resoboso: Tanjidor. Seperti tanjidor, Kreasi hadir tanpa paksa dan tanpa memaksa. Sukarela. Hadir secara merdeka penyambutnya pun demikian pula. Tuntutan boleh tinggi boleh aneka ragam. Tapi hendaknya jangan hanya sepihak. Tahu diri dong! Tanjidor tidak bisa dituntut seperti orkestra simfoni! Syarat-syarat yang kita miliki kini beda sekali dengan tempo doeloe. Selain itu kita tak punya Big Brother -- selain tak sudi memang bukan zamannya lagi! Adalah suatu kenyataan gamblang bahwa sejak seperempat abad kaum perompak bersenjata masih terus menduduki Pintu Besar Utara, Pintu Air Dua, Cidurian Sembilanbelas dan banyak lagi tempat pusaka kita. Sedangkan pembantaian yang mereka lakukan atas nama perikemanusiaan akibatnya masih sangat terasa hingga kini. Merajalelanya duka nestapa dan ketakutan. Itulah hasil penting politik kaum pembajak, perompak atau perampok bersenjata di mana pun juga. Tak peduli bendera apa yang mereka kibarkan. Apakah dosa para korban keganasan algojo-algojo yang haus darah dan tamak akan kekayaan harta benda itu? Dosa Apa? Keteledoran! dan kekalahan! Tak perlu ditangisi. Perlunya dipahami. Sebagai putera-puteri Agustus kita punya sikap: "realita betapa pahit harus jantan kita hadapi". Karena Kita adalah elang "yang menggugat gugus awan / yang mengejar halilintar!" JUSTRU dalam keadaan terbajak dan terus berkuasanya kaum pembajak, kita mesti tahu diri: "jangan mengerjakan yang tak mungkin". Itulah makanya, di samping terus memelihara semangat elang, mengayomi cita-cita mulia, kita mesti benar-benar berdiri di atas kaki sendiri di kolong langit ini. Sampai saat ini, sekalipun kemajuan teknis telah melangit, ternyata kita masih perlu memelihara ketrampilan kerajinan-tangan. Sekalipun hidup di zaman elektronika kita masih harus ngamen tanjidor? Ah, apa salahnya. Orang boleh senyum sinis, senyum paranoia. "Masa'bodo!" Nyatanya kita punya dan bisa ngamen tandjidor: secara merdeka kita pesta. Yang suka sama-sama kita yang tak suka tak dipaksa. Bagaimanapun juga boleh dipastikan bahwa kita tidak tersendiri. Dan tanjidor bukan cuma fenomena zaman doeloe di negeri kita, melainkan juga masa kini tetap hidup di berbagai peloksok dunia. Dalam pesta. Di alam bebas kreativitas tak terbatas. (Erobar, awal 1990: DT). * Temu Sastra di Amsterdam KREASI Nomor 4 Nomor Tanjidor melanjut-gemakan semangat yang disemboyankan oleh Stichting Budaya dengan bagian penerbitannya yang saya kelola: "Menyambut menghargai menyebarluaskan kreasi". Untuk turut membina dan membela kebudayaan demokratis dan hak-hak azasi manusia. Usaha non-profit yang direalisasi oleh pekerja, kreator dan penyumbang sukarela. Atas dasar kerja dan kreasi kongkrit, semangat berdikari dan setiakawan. Demikian antara lain penegasan sekalian penjelasan tersajikannya kreasi puisi dan prosa -- terutama cerpen, esai dan kreasi opini lainnya dalam rubrik "Catatan & Berita Budaya". Ada tersajikan 3 naskah esai yang cukup penting dalam nomor ini. Masing-masing berjudul "Sastra dan Politik" oleh I. Sartika alias Aziz Akbar; "Bukan Kejahatan dan Tidaklah Nista Menjadi Anggota Lekra" oleh Magusig O Bungai; "B. Resobowo dan Buah Renungan" oleh Alan Hogeland alias Kamaludin Rangkuti. Ketiga-tiganya akan dibubuhi catatan-memoar paruh kedua, yang dilengkapi dengan sajian sajak-sajak: Magusig O Bungai, Z. Afif, Asahan Aidit, HR Bandaharo, Hussein alias PH Muid, Nusantari dan Suprijadi Tomodihardjo. Sajak "Tembok Berlin" melengkapi paruh pertama catatan-memoar mengenai terbitan Kreasi nomor Tanjidor ini. Sedangkan cerpen "Pertemuan" Alan Hogeland dan "Sang Praktis" A. Kohar Ibrahim, masing-masing akan digemakan kemudian pula, pada saat dan tempat yang lebih tepat. Akan halnya "Catatan & Berita Budaya", kiranya layak digaris-bawahi makna Temu Sastra di Amsterdam yang untuk pertama kalinya berlangsusng pada tanggal 28 Oktober 1989. Dalam mana hadir belasan penyair dan pengarang Indonesia yang berada di Eropa Barat. Masing-masing berkesempatan membacakan kreasinya berupa puisi ataupun prosa selain bertukar-pikiran mengenai beberapa masalah yang berkaitan dengan kreativitas seni. Suatu Temu sastra pertama yang diharapkan bukan yang terakhir itu memang ada faedahnya bagi kiprah aktivitas-kreativitas di kemudian hari. Dalam ragam bentuk maupun variasi isinya selaras situasi obyektif apa adanya. * Er Gab Mir Gedichte Und Kurzgeschichten Putu Oka Sukanta BUKU Ke-6 Putu Oka Sukanta dalam bahasa Jerman terjemahan Brigitte Schneebeli dan Thomas Rieger diterbitkan oleh Goethe Institut 1989 berjudul ER GAB MIR sampai ke meja Penyaji awal Januari 1990. Dalam kesempatan memenuhi undangan Goethe Institut untuk belajar bahasa di Berlin selama Oktober-Desember 1989, Putu Oka telah pula menghasilkan kumpulan puisi "Tembok dan Matahari Berlin". Kumpulan ini sedang dalam persiapan untuk diterbitkan oleh Goethe Institut. Bukunya yang Ke-7 ini merupakan goresan bersejarah baik bagi diri pribadi Putu sendiri maupun kota Berlin, dalam periode mana telah terjadi peristiwa penting -- dijebolnya Tembok Berlin. Tiga sajak daripadanya dapat kita nikmati dalam nomor ini. * Si Nandang Emha SI NANDANG adalah salah sebuah dari sekian banyak cerita rakyat (folklor) dalam lingkungan Nusantara yang tunggal namun aneka-ragam adanya. Cerita rakyat Asahan ini digali dan selesai disusun dalam bentuk drama bersanjak pada tahun 1960 oleh Emha. Sebagaimana seniman rakyat lainnya, Emha dalam penggaliannya itu melaksanakan metode kerja turba (turun ke bawah). Artinya melakukan riset ke daerah nelayan dimana kisah itu terjadi, turut memukat ikan ke laut dan hidup bersama nelayan selama beberapa bulan. Dengan sikap yang tepat, pengenalan materi yang baik dan daya imajinasi serta ketrampilannya, Emha telah menghasilkan suatu kreasi yang dapat menggugah pembaca maupun penonton Si Nandang. Kerna esensi kisah yang ditampilkan secara menarik itu adalah berupa aspirasi manusia akan keadidlan dan perlawanan terhadap kelaliman penguasa. Kecintaan Emha pada rakyat merupakan sebab utama dari antusiasmenya untuk mengambil bagian dalam pelaksanaan keputusan menteri P.P.K. pada tahun 1959 akan penyelenggaraan sebuah festival folklor daerah seluruh Indonesia di Jakarta akhir tahun 1960. Untuk dua daerah kabupaten, yaitu Asahan dan Labuhan Batu, Gubsu menyerahkan tugas untuk partisipasi festival itu pada Emha (Kepala Inspeksi Kebudayaan Kabupaten Asahan dan Kabupaten Labuhan Batu). Olehnya telah disiapkan 1 drama dan 2 lagu (gubang dan silalauke). Festival itu ditunda sampai tahun 1965. * Brando Vs Apartheid SEJARAH mencatat salah seorang seniman sekaligus dermawan bagi perjuangan: anti-apartheid Afrika Selatan. Yaitu salah seorang aktor terbesar internasional Marlon Brando. Setelah berperan dalam film-film terkenal seperti Pemberontak Kapal Bounty, Godfather, La Dernier Tanggo à Paris dan Apocalypse Now -- untuk beberapa tahun lamanya dia tak tampil di layar putih, dalam tahun 1989 beredar film terbarunya yang menggemparkan berjudul Musim Kering Bagi Kulitputih dalam mana Brando memegang peran sebagai pengacara. Yang menggemparkan bukan semata-mata soal sumbangan seluruh pendapatannya dari film itu untuk satu organisasi anti-apartheid, juga bukan soal sambutan publik, melainkan soal ketidak-jujuran produsernya. Baik dalam hal pengguntingan adegan-adegan film maupun soal keuangan. Jika segala-galanya berjalan lancar, keseluruhan sumbangan Brando itu lebih dari 13 juta dollar Amerika. * Pelukis Belgia Floris Jesper DARI tanggal 25 Nopember 1989 hingga 21 Januari 1990 di Koninklijk Museum voor Schone Kunsten Antwerpen diselenggarakan pameran retrospektip Floris Jespers dalam rangka merayakan ultahnya yang ke-100. Seratus tahun kelahiran atau wafatnya seorang personalita kondang kerap kali dijadikan alasan untuk memberi penghargaan atasnya dengan berbagai cara. Terutama sekali pada budayawan terkemuka atau kreator. Kerap kali pula mereka yang semasa hidupnya kurang mendapat perhatian atau bahkan dikecam. Kenyataannya memang perjuangan di lapangan kebudayaan, khususnya sastra dan seni, tidaklah sederhana dan selalu indah, melainkan rumit, penuh krikil, rintangan dan bahaya. Tak ubahnya dalam rimba dengan segala tingkah ulah penghuni serta hukum-nya. Maka dalam keadaan demikian tiap kreator diuji bukan saja dalam krativitas seninya, tapi juga dalam keberanian mengatasi berbagai tembok. Tembok dalam masyarakat, tembok kekuasaan uang atau kekuasaan politik. Tak seorang kreatorpun bebas dari perjuangan menghadapi problimatik yang timbul di sepanjang kehidupannya itu. Kebebasannya yang paling hakiki terletak dalam proses berkreasi. Dan apakah kreasi itu lahir dalam situasi kehidupan yang sengsara ataukah dalam suka-ria dan makmur itu adalah suatu manifestasi pesta. Lebih dari 200 karya visual yang dipamerkan dari seluruh kreasi Floris Jespers yang berjumlah hampir 6.000 buah itu merupakan bukti kongkrit bahwa dia adalah salah seorang pelukis besar Belgia kontemporer. Seorang kreator yang memiliki daya kreativitas luarbiasa dalam segala teknik dan segala gaya. Bukti dari vitalitas, kapasitas dan kebebasannya. Pestanya. Suatu pesta besar. Pelukis kelahiran Borgerhout, Antwerpen, pada tahun 1889 (wafat 1965) ini oleh sementara orang dijuluki Picasso Flandria tapi pengejeknyapun cukup sengit. Tapi apapun ocehan orang, aktivitas dan kreativitas seninya yang monumental itu tegar sekali -- bukan hanya bagi Flandria atau Belgia, tapi juga Dunia. Seperti halnya Van Eyck, Rubens, Wouters, Ensor, Magritte, Delvaux dan banyak lagi dalam deretan pelukis besar dari negeri kecil yang berkaliber internasional. * Tahun Boris Pasternak dan Anna Akhmatova BEBASKAN ! "Bebaskan artikel Lenin Organisasi Partai Dan Literatur Partai dari penginterpretasian ala Jdanov, dengan secara lebih umum ambil bagian di dalam usaha yang rumit, sulit, namun tak boleh tidak untuk melikwidasi penyelewengan dogmatis dari Marxisme-Leninisme", kata Jean Thibeaudeau dalam salah sebuah diskusi pada tahun 1972. Lebih dari sedasawarsa sebelum zaman glasnost. Perdebatan-perdebatan itu kerap kali diselenggarakan di forum internasional. Sebagai usaha untuk memecahkan problimatik yang muncul dalam sejarah perkembangan kreativitas seni Marxis. Salah satu diantaranya mengenai peranan kekangan Jdanovisme. Bukan sekedar pengekangan atas kreativitas, tapi juga penindasan terhadap para kreatornya. Terhadap mereka yang setia membela eksistensinya dan tugas keintelektualannya. Membela dan menyatakan kebenaran secara bebas. Di Uni Soviet, dari sekian banyak korban garis hitam Jdanovis adalah penyair Anna Akhmatova dan penyair-pengarang Boris Pasternak. Di tanahairnya sendiri nama mereka dihitamkan, tapi di arena internasional cemerlang. Berkat aktivitas dan kreativitas yang luarbiasa itu UNESCO telah mengambil keputusan untuk menjadikan tahun 1989 Tahun Akhmatova dan 1990 Tahun Pasternak. Anna Andreivna Akhmatova (1889-1966) diakui sebagai penyair besar Rusia. Kumpulan sajaknya antara lain "Malam", "Rosaria", "Layangan Putih", "Anno Domini". Boris Pasternak (1890-1960) adalah salah seorang sobat penyair besar Rusia lainnya, Maiakovski. Kumpulan sajaknya antara lain "Saudariku Kehidupan", "Tema dan Variasi", "Tahun 1905" dan "Letnan Schmid". Diapun terkenal sebagai prosais dengan salah sebuah romannya yang dianugerahi Hadiah Nobel berjudul "Dokter Jivago". * Tahun 1990 Tahun Van Gogh DI pertengahan bulan Januari 1990 tersiar berita dari Amsterdam yang cepat menjalar ke seluruh dunia: Holland sedang mempersiapkan perayaan "Tahun Van Gogh"? Dengan ini hendak diusahakan suatu visi yang lebih lengkap mengenai pelukis yang pada tahun 1890 wafat dalam keadaan melarat tapi kini kreasinya adalah yang termahal. Bunga Iris nya dijual seharga 100 juta gulden lebih. Mulai 30 Maret terselenggarakan 2 pameran besar lukisan dan gambarnya di Amsterdam dan Otterlo, hingga tanggal 29 Juli. Pengunjung diperkirakan sebanyak 1,4 juta orang. Musium Van Gogh Amsterdam menampilkan 133 lukisan. Sedangkan di Otterlo dipamerkan sejumlah 250 gambar. Selain itu terselenggarakan pula pameran-pameran pelengkap, berbagai acara televisi, pergelaran balet, pementasan drama opera dan sebagainya yang berkaitan dengan Van Gogh dan kreasinya. Pengorganisasian salah sebuah manifestasi budaya yang besar dalam abad Ke-20 ini dilakukan oleh Stichting Van Gogh 1990 dengan budget sebesar 22 juta gulden. Apa artinya semua itu? Lama setelah sang kreator mengakhiri hidupnya dalam kemelaratan, kekuatan uang kemudian mencuatkan namanya ke puncak kemasyhuran. Akan tetapi semakin banyakkah orang memahami seni Van Gogh? Berbagai pertanyaan boleh timbul... Sewajarnya. * Notes Bahasa: Tembok TEMBOK bisa berarti dinding dari batu, bisa pula bendungan alias tambak. Diawali kata muka -- muka tembok -- berarti orang yang tak kenal malu. Jika ditambah kata kering -- tembok kering -- berarti orang yang kikir. Arti kongkrit dan praktis tembok adalah sebagai perantara, pemisah, penghalang, pembendung, pelindung dari berbagai macam soal yang bersangkutan dengan pengaruh, bahaya dan keamanan manusia. Dibuktikan dengan adanya berbagai macam tembok tempat kediaman, tempat kerja, kebun, kota dan bahkan negeri. Yang paling masyhur adalah Tembok Besar Tiongkok yang ditegakkan pada abad ke-IV SM, panjangnya 3.000 Km. Sedangkan di zaman kita yang paling terkenal adalah Tembok Berlin yang ditegakkan pada tahun 1961 dan dijebol pada tanggal 9-10 Desember 1989. Ketika Tembok Berlin Jebol, berita secepat kilat tersiar ke seluruh dunia menggambarkan antusiasme pesta "kebebasan" penduduk Berlin serta gema dari pelosok dunia pula. Diantaranya ada kesan seolah-olah itu adalah simbol kegagalan sosialisme dan keunggulan kapitalisme. Padahal, sesungguhnya adalah suatu simbol keruntuhan embel-embel keduanya. Sedangkan fondasinya tetap utuh. Tembok Berlin yang masyhur telah runtuh. Tapi tembok-tembok lainnya di Berlin itu sendiri masih tetap utuh. Buktinya antara lain berupa sektor-sektor dilengkapi dengan para serdadu asing yang menduduki empat bagian Berlin. Berupa keberbedaan antara orang perorangan, grup atau partai-partai, suku bangsa dan bangsa-bangsa. Dalam perihal-perihal itulah masih tetap adanya tembok-tembok yang abstrak tapi sungguh-sungguh tegak dan tegar. Dan dalam hal ini, sekalipun orang berbahasa sama tapi belum tentu bisa saling mengerti. Dan itu bukan hanya di Berlin ...*** (Astra alias DT alias AKI). * Kreasi Puisi: Tembok Berlin Oleh Putu Oka Sukanta Tembok Berlin Oleh: Putu Oka Sukanta I matahari autumn meniti tembok berlin takut takut di balik kabut mengintip kecamuk dalam dadaku ada sungai indah tapi sering berdarah ada persaingan berdampingan sering menuntut kematian tembok berlin telah menyediakan dirinya untuk diamuk lihat corat coret dan karangan bunga hitam itu kepalaku tertunduk, dimanakah kebebasan peluru telah melukai kemanusiaan tuhan meniupkan angin di setiap paru paru dan setapak bumi buat berpijak sama tapi tembok berlin bukan hanya pembelah bumi tapi tembok berlin bukan hanya pemisah ideologi tapi tembok berlin tapi tembok berlin tapi tembok tapi berlin itu aku jatuh dari langit, di sini dari sebuah kemustahilan, impian panjang yang tertembus di depanku tembok berlin kotor di bus ada nia gadis italia di sampingku ada tapio, finlandia antonio spanyola di depanku tembok berlin, di depan mereka bisu dalam semadi pada ruang langit, di atas tembok berlin hasrat hidup sama bergandengan dengan matahari. Berlin 4 nop.89 II bah melanda tembok berlin, dengar bah melanda tembok berlin malam musim rontok, bulan lonjong di langit jalan riuh dan padat, betis tak terasa penat aku hadir dan luluh bagai sebuah detik dalam rentang sejarah tembok berlin dipanjat tmbok berlin dibetel pinggir tajamnya moncong bedil dilipat di saku celana oleh luapan amuk bertahun dalam kekangan di atas tembok berlin rakyat menyanyi dan menari sinar temaram bulan menembus kabut siapapun engkau, aku menyatu dalam gemuruhmu enam hari yang lalu aku di sini menatap orang bisu bersamadi menyimpan kebisuannya, memendam dendam yang sunyi dan aku datang dalam bah malam ini tembok berlin telah terkuak meregang batu batu pasirnya memberi lewat kemanusiaan pohon pohon ligir mimpikan musim semi bulanpun tak cemburu selagi tak seorang peduli Berlin 10 nop.89 III hujan akhir tahun, berlin 1989 hujan akhir bulan, berlin desember hujan akhir minggu, berlin jumat hujan hari ini, berlin dua dua hujan pagi pagi, berlin merangsang curah aku mengigil di depan brandenburg tor kini tampak tiang tiang raksasa pada tembus lapang cakrawala membiarkan lewat harkat manusia Berlin 22 des.89 * Demikian catatan-memoar mengenai hasil terbitan Kreasi N° 4 Nomor Tanjidor paruh pertama. Paruh keduanya berkenaan dengan 3 naskah esai tentang "Sastra dan Politik" -- sekedar jawaban dari I. Sartika atas tulisan Goenawan Mohamad sekitar "Peristiwa Manikebu"; esai Magusig O Bungai tentang Lekra dan Alan Hogeland tentang B. Resobowo Dan Buah Renungannya, akan disajikan dengen beberapa kreasi puisi HR Bandaharo, Sobron Aidit, Nusantari, Asahan Aidit, Hussein dan Suprijadi Tomodihardjo. (AKI) *** (12.04.2008) (A.Kohar Ibrahim Editor Majalah Sastra & Seni KREASI 1989-1999, Penerbit Stichting Budaya, Amsterdam) Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/ http://sastrapembebasan.wordpress.com/
