http://www.tribun-timur.com/read/artikel/63086


Edukasi Seks Revolusioner Ala Dr LoveLaporan: Kompas.com


Selasa, 15 Desember 2009 | 16:42 WITA
JAKARTA, TRIBUN - Bagi Anda pembaca setia rubrik kesehatan Kompas.com, 
mendengar Dr.Love mungkin sudah tidak asing lagi. Kolom tanya jawab singkat 
seputar masalah seks dan hubungan personal itu hadir telah sejak dua tahun lalu 
dan kerap mengundang perhatian lewat pembahasannya yang ringan namun 
menggelitik.

Meski jawaban-jawaban Dr. Love sudah akrab bagi pembaca, mungkin tak banyak 
orang tahu siapa sebenarnya sosok Dr Love. Dilihat dari sisi penampilan, pria 
bernama asli Wei Siang Yu (40) itu mungkin lebih pas disebut artis atau DJ 
(disk jokey). Tampil berbusana kasual dengan kaca mata bingkai tebal yang kerap 
"nangkring" di dahinya yang lebar membuatnya tampak jauh dari sosok seorang 
dokter.

Tetapi di balik penampilannya yang unik, pria asal Singapura ini punya visi 
luas tentang pendidikan seks. Ia juga menggagas konvergensi teknologi informasi 
dalam peranannya menciptakan model pendidikan kesehatan seksual yang nyaman 
terutama bagi kalangan generasi muda.

Ditemui Kompas.com  di sela-sela pelatihan telemedis, informatika medis dan 
keperawatan online di Jakarta, Sabtu pekan lalu,  Dr. Wei dengan santai 
memaparkan betapa pendidikan seks di Indoensia saat ini memerlukan suatu 
terobosan besar.

Hadirnya teknologi informasi telah mendobrak sekat antara jarak, ruang dan 
waktu dan membuat pemahaman tentang kesehatan seksual yang benar terutama di 
kalangan remaja menjadi sangat penting. 

Menurut jebolan Monash Medical School Australia 1995 ini, di beberapa negara 
Asia termasuk Indonesia, problem seks masih menjadi hal yang tabu.  Banyak 
remaja tak memperoleh akses infomasi yang cukup dan benar tentang kesehatan 
seksual, baik dari orang tua atau sekolah, sehingga mereka mencari sendiri 
melalui media seperti internet. 

"Mereka malu untuk datang ke klinik dan bertanya. Mereka lebih nyaman untuk 
bertanya lewat media virtual seperti sms, chatting atau ikut forum di internet, 
karena dengan begitu identitas mereka tersamarkan ," ujarnya.

Perilaku ini mendorong Dr. Wei membuat suatu "revolusi" pendidikan seks dengan 
cara menyediakan layanan terpadu bersifat interaktif dengan dukungan teknologi 
multimedia. 

"Ini adalah solusi terbaik. Jadi bukan hanya sekedar menyampaikan apa yang 
boleh atau tidak, tetapi lebih pada menciptakan sebuah forum besar dalam wadah 
multi-media. Dengan begitu, kita dapat memperoleh jawaban yang real.  Dengan 
kata lain, pendidikan seks ini dibuat oleh masyarakat untuk masyarakat ," papar 
pria penemu bidang bio-communication dan menjadi nominator termuda dalam CNN 
People Choice Award pada tahun 2003 ini. 

Sejak beberapa tahun lalu, Dr. Wei mewujudkan gagasannya dengan mendirikan 
layanan hotline SMS Dr Love. Ia juga mendirikan portal pendidikan seks 
Sexxie.tv, di mana di dalamnya terdapat pelbagai layanan interaktif seputar 
kesehatan seksual. Situs jejaring sosial seperti Twitter pun tak luput dari  
ekspansinya, sehingga pendidikan seks dapat diakses siapa saja, kapan saja, di 
mana saja.

Respon terhadap apa yang dirintisnya selama ini, diakui Dr.Wei diakui sangat 
positif.  Ribuan remaja dan dewasa mengirimkan sms lewat hotline, dan dari 
situlah ia dapat mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. 

"Memberi kesempatan  kepada siapa pun untuk bertanya tanpa diketahui 
identitasnya akan membantu kita mengetahui apa sebenarnya yang mereka 
inginkan," kata pria lajang yang juga penggagas pusat pariwisata medis pertama 
di dunia, www.flyfreeforhealth.com ini.

Ke depan, Dr. Wei berharap konvergensi antara tenaga kesehatan dan layanan 
multi-media bakal terwujud.  Dalam waktu dekat, portal Sexxie.tv yang 
dikembangkannya bakal menyediakan klinik virtual khusus PMS (penyakit menular 
seksual). Klini ini akan memudahkan orang untuk memeriksakan kondisinya 
terutama mereka yang malu berkunjung ke klinik.

Dibantu para ahli kesehatan, klinik virtual ini nantinya membolehkan siapa pun 
tanpa harus menyebut identitas lengkap mengirimkan gambar lewat ponsel kamera 
untuk memeriksakan luka atau lesi yang dicurigai sebagai PMS.

"Hal ini tidak untuk dimaksudkan untuk menggantikan konsultasi tatap muka di 
klinik dengan dokter, tetapi akan lebih indikatif ketimbang mencari gambar lesi 
kulit di internet," ujarnya.

Dalam benak Dr. Wei, sebenarnya masih banyak ambisi dan cita-cita yang belum 
direalisasikannya. Termasuk sebagai seorang pria, Dr. Wei berharap suatu hari 
nanti akan menemukan pasangan sejatinya.

Dengan kesibukannya sebagai "dokter cinta", mungkin tak mudah baginya menemukan 
seseorang yang tepat. "Di sela-sela kesibukan, saya juga masih menyempatkan 
diri untuk berkencan. Tapi kita harus realistis karena sebuah hubungan itu 
butuh waktu dan energi," ungkapnya.(*)
Tribun Timur, Selalu yang Pertama 

Ada peristiwa menarik?
SMS www.tribun-timur.com di 081.625.2233
email: [email protected] 

Hotline SMS untuk berlangganan koran Tribun

Kirim email ke