http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=12537
2009-12-17 Pengusaha Tionghoa Dorong Lapangan Kerja SP/Luther Ulag Dari kiri ke kanan, Ketua Umum Perhimpunan Pengusaha Indonesia Tionghoa (Perpit) yang baru masa bakti 2009-2012 DR. Tahir MBA, Pendiri Lippo Group Mochtar Ryadi, Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI George Toisutta, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara EE. Mangindaan berbincang pada acara malam pengukuhan dan pelantikan Perpit 2009 di Jakarta, Rabu (16/12) malam. [JAKARTA] Peluang Indonesia untuk mengembangkan industri dalam negeri masih besar. Kondisi itu mendorong Perhimpunan Pengusaha Indonesia Tionghoa (Perpit) untuk menciptakan lapangan pekerjaan guna menyerap tenaga kerja yang lebih banyak. Ketua Umum Perpit Tahir, mengakui kondisi saat ini masih ada hambatan untuk menumbuhkan sektor riil. Namun, perlahan membaik, sehingga bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja. Untuk itu, diperlukan peningkatan kapasitas tenaga kerja dengan skill tinggi. "Untuk itu, perlu kerja sama dengan departemen teknis dalam meningkatkan keahlian tenaga kerja, sehingga bisa mengejar produksi yang lebih baik," ujar Tahir dalam acara pelantikan pengurus Perpit di Jakarta, Rabu (16/12) malam. Acara itu dihadiri sekitar 1.000 pengusaha Tionghoa, pejabat negara, dan tokoh masyarakat. Beberapa pengusaha keturunan Tionghoa seperti pendiri Lippo Group Mochtar Ryadi, pendiri PT Bank Panin Tbk Mukmin Ali Gunawan, Halim alias Yang Khe Lim, dan Ted Siong, serta Jos Soetomo. Selain itu, Komisaris Panasonic Rachmat Gobel, CEO Jawa Pos Dahlan Iskan, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Properti dan Kawasan Industri yang juga Chairman Lippo Group James Ryadi, dan Tan Kian turut hadir. Hadir pula pejabat pemerintah, antara lain Menteri Pendayagunaan Aparat Pemerintah EE Mangindaan, Menko Kesra Agung Laksono, Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Letjen TNI George Toisutta, dan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Komarudin Hidayat. Tahir juga mengungkapkan, keinginan untuk meningkatkan investasi dalam negeri, khususnya dari Tiongkok, khususnya perusahaan skala menengah dan padat karya. "Beberapa contoh yang bisa menyerap tenaga kerja banyak, seperti tekstil dan perusahaan kontraktor. Itu yang perlu digalakkan dalam negeri," kata Tahir. Salah satu upaya yang akan dilakukan Perpit, sambung Tahir, adalah mendatangkan turis lebih banyak, salah satunya dari Tiongkok, ke Indonesia. Demikian juga dengan meningkatkan nilai tambah sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan. Dalam kesempatan itu, Tahir meluruskan bahwa keberadaan Perpit diharapkan menjadi contoh bagi organisasi atau pengusaha Tionghoa di dalam negeri. Setiap keputusan yang diambil tidak lepas pada bangsa dan masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Bersatu "Kami bisa bersatu dan melakukan hal konkret yang membawa benefit bagi negara dan masyarakat," tutur Tahir. Saat ini, jumlah anggota Persit mencapai 1.000 pengusaha dan diprediksi akan meningkat tajam setiap tahun. Pengusaha nasional James T Ryadi mengemukakan, masyarakat Tionghoa di Indonesia tercatat sekitar 15 juta orang. Sebagian besar memiliki talenta berwiraswasta, tapi kehidupan yang dijalani masih sederhana. "Harapannya agar Perpit bisa membuka lebih banyak peluang dan kesempatan untuk memberdayakan potensi tersebut. Itu demi memperkaya bangsa dengan semangat berusaha sehingga bisa go international," ujar James. Hal senada juga disampaikan pendiri Lippo Group Mochtar Ryadi dan Menneg PAN EE Mangindaan bahwa Perpit bisa menjadi perkumpulan yang dapat mensejahterakan rakyat dan menjembatani investor untuk masuk ke Indonesia. Perpit juga sangat penting sebagai jembatan menyatukan kekuatan di segala unsur agar dapat membangun Indonesia lebih maju. [LOV/D-12]
