System Pendidikan RI Menghancurkan Masa Depan Anak2
Ada tiga hal yang fatal dalam pendidikan di Indonesia yang harusnya segera
dikoreksi oleh pemerintah:
1. menghapuskan system ujian negara
2. menghapuskan jurusan IPA, Sosbud, dan Eksakta di SMA
3. menghapuskan pendidikan agama
Ketiga hal ini merupakan pokok yang paling utama yang membedakan antara
pendidikan dinegara maju dari negara2 terkebelakang terutama negara2 Islam.
Study mengenai cara2 mendidik yang baik sudah dilakukan oleh berbagai pusat
research dunia lebih dari seratus tahun terakhir ini, yang meskipun dilakukan
disejumlah negara yang ber-beda2 tetapi hasilnya tetap sama.
Anak didik sejak umur 5 tahun hingga 18 tahun masih mengalami masa pertumbuhan
yang sangat pesat baik jasmani maupun psikologis-nya. Ternyata perkembangan
psikologisnya lebih lambat dari perkembangan fisiknya, dan yang mengesankan
adalah bahwa wanita mengalami perkembangan fisik dan psikologis yang rata2nya
lebih cepat dari laki2, tetapi perbedaan gender ini memang tidak mutlak.
Atas dasar hasil observasi berbagai pusat study pendidikan diatas, maka sejak
lebih dari seratus tahun terakhir ini telah dilakukan study perbandingan antara
anak2 dari klassifikasi berbagai umur yang dicekoki atau dipaksakan porsi
pendidikan tiga mata pelajaran yaitu matematika, fisika, dan bahasa.
Hasil study perbandingan ini sangat mengejutkan, lebih dari 75% pendidikan yang
dipaksakan kepada anak2 menyebabkan apatis, hilang kreativitasnya, dan yang
paling mengejutkan adalah bahwa anak2 ini kehilangan dorongan ingin tahunya
seumur hidupnya.
Dari ketiga macam mata pelajaran itu, ternyata matematika yang paling dahsyat
dalam menghancurkan kepribadian anak didiknya, disusul mata pelajaran bahasa,
sedangkan fisika menduduki tempat terakhir.
Atas dasar hal inilah, kemudian diseluruh dunia mengubah kurikulum
pendidikannya dimana selama masa perkembangan fisik-psikologis anak tidak boleh
dipaksakan untuk harus lulus mata pelajaran ini dan itu, semua pendidikan
diselenggarakan dengan cara rilex, lebih banyak persuasif komunikasi personal
antara guru dan murid dikembangkan dimasa ini katimbang mencekoki jenis2
pengetahuan tertentu. Sekolah dimasa perkembangan ini hanyalah institusi untuk
mengembangkan kepribadian anak melalui komunikasi dunia luarnya. Memaksakan
mata pelajaran tertentu akan menjadi beban psikologis yang justru menutup anak
terhadap perubahan dunia luarnya, bahkan tidak sedikit anak menjadi autisme.
Itulah sebabnya, dinegara maju sejak anak2 berumur 5-18 tahun, tidak ada beban
ujian, tidak ada nilai raport merah, anak2 lebih banyak bertukar pikiran
dikelasnya dibawah bimbingan guru yang tidak mengarahkan, tidak memaksakan
tetapi memperkenalkan pilihan yang ber-beda2 untuk setiap anak muridnya. Semua
bentuk pendidikan dasar dimasukkan secara komunikatif melalui permainan
misalnya permainan yang berhadiah. Bahkan 90% sekolah2 setingkat SD, SMP,
memberi hadiah $10 kepada setiap murid yang tidak membolos dalam 3 bulan
periode. Ditingkat SMA, guru atau kepala sekolahnya sangat royal memberikan
berbagai penghargaan (awards) kepada murid2nya. Awards (penghargaan2) inilah
nantinya dicantumkan si murid didalam curriculum vitaenya ataupun dalam
resume-nya dalam mengisi prestasi anak sewaktu mau bekerja atau mau meneruskan
kuliahnya ketingkat pendidikan yang lebih tinggi.
Highschool diploma didapatkan murid sebagai persyaratan telah menyelesaikan
pendidikan dasarnya melalui ujian yang dilakukan masing2 state masing2, dalam
hal ini di Indonesia kira2 selevel dengan tingkat masing2 propinsi. Highschool
diploma dihargai terutama untuk melamar kerjaan bukan untuk melanjutkan kuliah
!!!
Untuk melanjutkan kuliah tidak ada persyaratan highscool diploma, bahkan setiap
murid meskipun masih di smp boleh mendaftar dan ikut kuliah di college atau
universitas tanpa dibedakan apakah memiliki highschool diploma atau tidak.
Tidak pernah ada universitas yang mempersyaratkan murid untuk mempertunjukkan
highschool diploma-nya ataupun melampirkan fotocopy highschool diplomanya dalam
pendaftaran. Inilah yang paling konyol selalu menghantui murid2 di Indonesia.
Ijazah SMA di Indonesia malah sebaliknya, tidak bisa untuk cari kerja tapi
keharusan memilikinya untuk melanjutkan sekolah.
Yang lebih parah dari kesemuanya ini adalah adanya peng-kotak2an di SMA dimana
murid2 di-bagi2 dalam jurusan IPA, sosbud, dan Pasti. Hal ini menyebabkan
jurusan Sosbud menjadi jurusan sampah, dan merupakan tempat penampungan
terbanyak dari murid2 yang tidak bisa lagi melanjutkan pendidikannya ke
perguruan tinggi. Jurusan IPA dan jurusan ilmu Pasti membuka kesempatan bagi
murid untuk memilih semua jurusan manapun diperguruan tinggi, sebaliknya
jurusan Sosbud hanya membolehkan murid2 untuk memilih jurusan Sastra,
Administrasi Management, maupun jurusan agama.
Ada seorang dokter brillian teman saya yang waktu SMA-nya dipaksa masuk jurusan
Sosbud, karena setelah lulus SMA tidak bisa diterima di jurusan Fakultas
Kedokteran, maka teman saya itu terpaksa kembali mengulang SMA-nya dari kelas
satu lagi disekolah swasta terkenal, dan sejak ini nilai2 kelasnya selalu nomor
satu dan lulus SMA untuk kemudian berhasil diterima di FKUI dengan terlambat 3
tahun dari umumnya murid2. Tidak terbayangkan berapa puluh juta putera2
Indonesia sudah dirusak mimpinya untuk menjadi engineer atau dokter dengan
pembagian jurusan yang dilakukan pemerintah RI ini.
Satu hal yang sangat fatal adalah pendidikan Agama terutama agama Islam
diseluruh sekolah2 di Indonesia, hal ini selain menambah beban dan biaya bagi
orang tua murid, juga menambah beban biaya bagi pemerintah ditambah lagi dengan
lubang2 korupsi yang juga menyertainya.
Pendidikan agama disekolah menghasilkan murid2 yang berkepribadian paranoid,
kepribadian maniko-depressive, maupun kepribadian schizophrenic dan ada kalanya
kepribadian megalomania. Kepribadian murid tidak bisa berkembang secara
alamiah akibat inkonsistensi dimana terlalu banyak opini2 berbeda dari setiap
guru agama meskipun dari aliran agama yang sama. Mau diakui atau tidak,
kenyataannya Indonesia adalah negara yang pluralistik, akibat dari pendidikan
agama menyebabkan si murid hilang kemampuannya untuk beradaptasi sehingga lebih
banyak menimbulkan konflik kepribadian akibat dari ketidak mampuannya untuk
beradaptasi sehingga sikap anak didik menjadi sangat tertutup dari dunia
luarnya.
Dan satu hal lagi yang tidak saya sebutkan diatas yang seharusnya juga
merupakan faktor penting tetapi tak saya masukan sebagai faktor penting diatas
yaitu faktor pembayaran uang sekolah dan pungutan uang sumbangan bagi murid2,
sebenarnya juga merupakan faktor penting yang mendasar yang harusnya bisa
diatasi pemerintah yaitu menghapus pembayaran sekolah dari SD hingga SMA tanpa
kecuali apakah dari orang tua miskin atau dari orang tua yang kaya raya. Kalo
Indonesia itu negara miskin masih bisa saya mengerti, tetapi kenyataannya
Indonesia adalah negara kaya, dari hasil penjualan minyaknya saja sudah
berlebihan apabila sebagian kecil digunakan untuk membebaskan pembayaran
sekolah pada masa anak2 ini.
Ny. Muslim binti Muskitawati.