Refleksi: Menang terlalu tinggi untuk pajak dibicarakan oleh presiden, 
sekalipun pajak adalah salah  satu sumber pendapatan kas negara, sebab kalau 
dibicarakan bisa menyinggung persaan sobat-sobat yang manipulasi pajak untuk 
tidak dibayar. Bukankah menyinggung perasaan adalah hal yang  tidak pantas 
dilakukan.

http://nasional.kompas.com/read/2010/02/13/15440183/Ikrar.:.Terlalu.Tinggi.Seorang.Presiden.Bicara.Pajak


Ikrar : Terlalu Tinggi Seorang Presiden Bicara Pajak

Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary
Sabtu, 13 Februari 2010 | 15:44 WIB

RUMGAPRES/ABROR RIZKI
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 

JAKARTA, KOMPAS.com - Pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengenai 
persoalan tunggakan pajak oleh pengusaha dinilai sebagai pernyataan yang 
bermuatan politis. Secara tak langsung, pernyataan itu dianggap sebagai 
"ancaman" kepada bos Partai Golkar, Aburizal Bakrie, yang perusahaannya 
tersangkut masalah pajak. 

Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI), Ikrar Nusa Bakti, mengatakan, 
persoalan pajak adalah persoalan yang terlalu remeh untuk dibicarakan oleh 
seorang Presiden. 

"Janganlah persoalan negara dicampurkan dengan politik. Kalau ada yang 
ngemplang memang harus ditindak. Tapi pertanyaan saya, lima tahun kemarin pas 
jadi Presiden, kerjaannya ngapain aja? Kalau ada masalah pajak, kenapa enggak 
ribut dari dulu? Kenapa baru sekarang diungkit?," kata Ikrar, Sabtu (13/2/2010) 
kepada Kompas.com. 

Menurut Ikrar, pernyataan tersebut tak lebih hanya ingin memberikan peringatan 
"halus" kepada Golkar. Demokrat dianggap memperlihatkan keresahan terhadap 
gerak-gerik mitra koalisinya, terutama di Pansus Angket Kasus Bank Century. 

"Teralu tinggi seorang Presiden bicara pajak. Untuk level Menteri Keuangan juga 
masih ketinggian. Buat apa Dirjen Pajak? Kalau tidak terkait dengan politik, 
enggak perlu Presiden ngomong soal itu (pajak). Buat saya, itu politik 
kekanak-kanakan," ujar Ikrar. 

Teknik ancam-mengancam seperti halnya wacana reshuffle terhadap para menteri 
mitra koalisi, dinilai Ikrar sebagai wujud tidak dewasanya politisi-politisi 
Partai Demokrat. 

"Walaupun Presidennya SBY dan Partai Demokrat adalah partai terbesar di 
parlemen, tapi partai ini masih partai-partaian. Tidak pandai dalam 
bernegosiasi dan masih tergantung dengan partai koalisi," ungkap Ikrar.

TERKAIT:
  a.. Dirjen Pajak: Kasus Pajak Bakrie Sebelum Century 
  b.. Ical: Perintah Presiden Tidak Diarahkan kepada Saya 
  c.. Ical: Tak Ada Hubungan Pajak dengan Partai 
  d.. Dirjen Pajak Kalahkan "Bakrie" 
  e.. Presiden Minta Polri Tindak Pengemplang Pajak 






<<4_17_8.gif>>

<<1807164p.jpg>>

Attachment: sig.jsp?pc=ZSzeb096&pp=GRfox000
Description: Binary data

Kirim email ke