Refleksi : Aparat tidak berkewajiban mempunyai moral baik, sebab selain hal ini tidak dididik dan juga para petinggi aparat negara tidak memberikan contoh baik dan berguna kepada bawahan selain pandai korupsi. Jadi masalahnya seperti pepatah Melayu kuno mengatakan : Guru kencing berdiri, murid kencing berlari".
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/02/17/47321/PT-KA-Keluhkan-Aparat-yang-Tidak-Membayar-Karcis 17 Februari 2010 | 22:32 wib | Daerah PT KA Keluhkan Aparat yang Tidak Membayar Karcis Semarang, CyberNews. PT Kereta Api Daop IV Semarang mengeluhkan para aparat yang tidak mau membayar saat naik kereta api. Padahal PT KA telah memberikan dispensasi harga tiket pada aparat sebesar 50 persen yang menunjukkan Kartu Tanda Anggota (KTA). Namun faktanya sebagian besar dari mereka enggan membayar sepeserpun, dan memilih jadi penumpang gelap. "Kalau penumpang liar dari warga sipil kami masih bisa mengatasi. Tapi kalau dari aparat atau non sipil kami kesulitan," kata Deputy Vice President PT KA Daop IV Semarang, Maqsud Amroh. Menurut Maqsud, para aparat tersebut sering menggunakan jurus diam bila ditanyai oleh petugas soal tiket, dan justru mengajak petugas bertengkar. Padahal para petugas kereta api tak dibekali kemampuan bela diri yang memadai saat bertugas, tidak seperti aparat yang sudah terlatih. "Karena tidak bisa menghadapi, akhirnya kondektur bosan, dan didiamkan saja," ujarnya. Diakui, selama ini pengontrolan karcis memang hanya bertumpu pada kondektur seorang. Sehingga sulit bagi kondektur untuk menghadapi para penumpang liar, terutama dari aparat. Belum lagi dengan keterbatasan tenaga, sehingga pihaknya tidak bisa melakukan pemeriksaan serentak (PS) setiap hari. Jumlah tenaga PS sekali kontrol pun hanya 2-3 orang. "Ini semua bersumber dari ketidakmampuan kami menghadapi gerusan masyarakat," jelasnya. Mereka yang naik kereta tanpa karcis, lanjutnya, ingin mengorbankan PT KA dengan uang yang tidak seberapa. Sementara dampak yang ditimbulkan sangat terasa bagi PT KA yang saat ini sedang membenahi sarana dan prasarana. "Kami sudah memberikan sanksi bagi mereka yang terlibat kasus penumpang gelap," ujarnya. Manajer Operasi Daop IV Heru Kuswanto mengatakan, sebenarnya para penumpang liar bukan berasal dari kalangan tidak mampu. Mereka justru orang-orang dengan pekerjaan tetap yang memang sengaja tidak mau membayar. "Baru-baru ini kami berhasil mengenakan denda dua kali lipat dari harga tiket, untuk dua oknum polisi dari KA Argo Anggrek jurusan Surabaya- Jakarta. Ada juga 14 penumpang gelap KA Sindoro yang kami turunkan di Suradadi karena tak mau membayar," Pihaknya berharap agar pimpinan PT KA bisa berbicara dengan para pimpinan instansi terkait dimana para penumpang liar tersebut bekerja. "Sehingga yang dibawah itu tidak gontok-gontokan," imbuhnya. Para aparat ini kadang tidak langsung naik dari Stasiun Tawang. Tapi mereka naik KA Tawang jaya dari Stasiun Poncol. Lalu mereka turun di Pekalongan, dan tahu-tahu sudah berada di kereta eksekutif. Jumlahnya para aparat ini sekali naik kadang bisa mencapai 100 orang. Padahal jumlah tim PS paling banyak 4-5 orang. "Pernah seorang portir tergeletak karena dipukuli oleh aparat. Jujur kami tidka mampu mengatasi aparat," akunya. Heru mengakui, dilema para kondektur inilah yang akhirnya membuat mereka membiarkan para penumpang liar begitu saja. Di satu sisi mereka ingin menertibkan penumpang, tapi di satu sisi mereka tidak mampu menghadapi para aparat yang lenih mengandalkan kekuatan otot. "Akhirnya ada yang mensiasati berapapun hasil tawar menawar mereka dengan penumpang dimasukkan dalam suplisi dan disetorkan semuanya pada stasiun. Tapi ada juga yang mengambil keuntungan dengan tidak menyetorkan semuanya," papar dia.
<<4_17_8.gif>>
sig.jsp?pc=ZSzeb098&pp=GRfox000
Description: Binary data
