Beda Kualitasnya Jangan Disebut "Diskriminasi"
                                                  
Janganlah mengartikan "diskriminasi" sebagai mem-bedakan kualitas seseorang, 
karena perdefinisi yang dimaksudkan "diskriminasi" adalah mem-beda2kan 
seseorang dari aspek hukum bukan aspek fisik, predisposisi, ras, maupun aspek 
agama atau kepercayaan seseorang.

Dimata hukum, setiap orang sama hak dan kewajibannya.  Tidak bisa seseorang 
pencuri kafir dihukum 3 bulan penjara, sedangkan pencuri beragama Islam dihukum 
potong tangan, tetapi kalo sipencuri beragama Islam mencuri barang orang kafir 
maka sipencuri malah bebas hukumannya, hal ini barulah dinamakan "diskriminasi" 
yang melanggar HAM karena mem-beda2kan manusia atas dasar agamanya.

Juga hukum yang meletakkan seorang muslim sebagai manusia yang tinggi derajat 
kemanusiaannya sedangkan mereka yang kafir dianggap rendah derajatnya lebih 
rendah daripada binatang yang dihalalkan untuk ditumpahkan darahnya, juga 
merupakan hukum yang "diskriminasi" yang melanggar HAM yang dikutuk diseluruh 
dunia.

Dizaman sekarang sudah sama2 sepakat bahwa sikap membedakan orang atau disebut 
sebagai "diskriminasi" adalah tidak adil, tidak manusiawi, merupakan 
pelanggaran etika moral dan juga dianggap melanggar HAM.

Tapi dilain pihak waktu kita melamar kerjaan, ternyata para pelamar itu 
di-beda2kan, yang lulusan SMA gajinya lebih kecil dari yang bertitel sarjana, 
seorang ahli dibidang tertentu bergaji lebih besar dari mereka yang bukan ahli. 
 Dan banyak lagi cara2 mem-beda2kan manusia atas berbagai dasar kepentingan 
masing2nya.

Jadi diskriminasi yang dianggap melanggar HAM bukanlah tindakan atau sikap yang 
mem-beda2kan manusia atas dasar gendernya, ras-nya ataupun atas dasar agamanya. 
 Karena mem-beda2kan manusia atas dasar predisposisinya yang terkait dalam 
gender, ras ataupun agama inilah yang dianggap sebagai pelanggaran HAM yang 
tidak boleh secara hukum dipraktekkan.

Dalam kehidupan itu sendiri, memang setiap manusia ber-beda2 dalam kualitasnya 
itu sendiri dimana kualitas manusia satu bisa dimanfaatkan oleh manusia lainnya 
dalam kaitannya meningkatkan kualitas kehidupan secara keseluruhan itu sendiri.

Itulah sebabnya, mem-beda2kan manusia atas dasar gender, ras atau agamanya sama 
sekali tidak memperbaiki kualitas kehidupan melainkan justru merusak kehidupan 
itu sendiri.

Misalnya, pekerjaan kuli itu lebih banyak digunakan laki2 daripada perempuan 
karena perempuan umumnya lebih lembah dari laki2, oleh karena itu kalo yang 
diterima jadi kuli itu kebanyakan laki2 bukanlah karena adanya diskriminasi 
gender melainkan dari test masuk lamaran kerja itu sendiri dimana wanita banyak 
yang menolak melamar kerjaan jadi kuli dan laki2 lebih banyak mendominasi 
lamaran jadi kuli.  Tapi kalo ada wanita yang memang melamar mau jadi kuli, 
maka salah kalo dia ditolak karena wanita, dia harus ditest dulu kalo memang 
kuat kenapa harus ditolak???  Bahkan dalam banyak contoh wanita2 secara fisik 
ada yang lebih kuat daripada laki2.

Kaitan dengan kualitas tentunya berhubungan dengan pendidikan, latihan, 
pengalaman, dan juga berhubungan dengan bakat2 alamnya. Oleh karena itu wajar 
kalo dibandingkan dengan zaman purba dulu, maka rata2 manusia sekarang yang 
semuanya lulus SMA ditambah dengan lingkungan yang penuh dengan berbagai 
informasi seperti koran, majalah, TV, dan internet, maka tidak bisa disangkal 
kalo kualitas manusia sekarang jauh lebih baik ribuan kali lipat dengan manusia 
dizaman purba seperti dizaman kehidupan nabi Muhammad.

Jadi, secara kualitas, tidak mungkin nabi Muhammad bisa dianggap sama atau 
lebih baik kualitasnya daripada manusia dizaman sekarang.  Bahkan kalopun 
mendadak nabi Muhammad hidup lagi, bisa dipastikan dia cuma jadi pengangguran 
karena tidak punya keahlian apapun yang bisa dipertimbangkan siapapun untuk 
memberinya kerja dan gaji.

> peni agustini <peni_agust...@...> wrote:
> tuh kan keliatan gobloknya nih orang
> kok mbedain dia ama Muhammad. jelas-
> jelas gak ada bedanya gitu loh! sama-
> sama manusia. terbukti to yang GOBLOK
> itu yang bilang manusia dibumi ini beda
> dengan Muhammad, wong sama manusianya
> kok. persamaan secara mendasar aja gak
> diakui, yakni manusia. apa dilahirkan
> dari titisan batu yang muncrat dari
> kawah gunung?? hahahahahahahaha
> 

Demikian juga meskipun Muhammad itu nabi, sama sekali tidak punya kualitas 
untuk bisa disamakan dengan manusia sekarang yang jauh lebih baik kualitasnya 
dari Muhammad dizaman dulu.

Nabi Muhammad tidak punya ijazah SMA, tidak pernah sekolah, bahkan buta huruf 
tidak bisa membaca.  Boleh jadi, nabi Muhammad juga buta warna, berpenyakit 
kencing manis, juga allergi terhadap makanan tertentu, bahkan mungkin dia 
seorang schizophrenic dimana kesemua gangguan ini hanya bisa diperiksa oleh 
dokter ahli dengan bantuan alat2 kedokteran yang canggih dan tidak berpengaruh 
untuk dianggap sebagai nabi meskipun dengan segala kekurangan2 fisiknya.  Nabi 
Muhammad itu berkulit hitam karena sepanjang hari dari kecilnya hidup dibawah 
sinar matahari yang tajam, dia juga berbadan pendek berhidung pesek.  
Diperkirakan tinggi badan nabi Muhammad hanya 149 cm, termasuk orang pendek 
dikampungnya sendiri dan dibawah rata2 tinggi orang Arab diwaktu itu.  Biasanya 
orang yang berbadan pendek badannya lincah, pandai bawa diri, akalnya banyak, 
terkenal licik dan tidak pernah berterang mengutarakan apa yang ada dalam 
pikirannya.

Jadi, Nabi itu bukanlah keahlian, bukanlah kelebihan, ada kalanya bisa jadi 
merupakan kekurangan, dan bagi yang mempercayainya bisa saja menjadi kelebihan, 
namun kelebihan2nya itu hanyalah merupakan khayalan atau angan2 mereka yang 
percaya yang tidak mungkin bisa dibuktikannya dengan uji coba secara realistis 
dengan fakta2.

Ny. Muslim binti Muskitawati.


Kirim email ke