Refleksi : Kenaikan angka penduduk miskin di negara kleptokratik adalah gejala 
yang tidak dapat dihindarkan. Pemberian uang tunai hanya oleh-oleh untuk waktu 
singkat. Hal ini banyak dilakukan, teristimewa menjelang masa kampanye pemilu 
untuk memperharum nama caleg, caper etc, tetapi bukan  sebagai obat mujarab 
untuk  membasmi kemiskinan dan akar-akarnya.

http://www.antaranews.com/berita/1268547583/anak-terlantar-ri-capai-5-4-juta


Anak Terlantar RI Capai 5,4 Juta
Minggu, 14 Maret 2010 13:19 WIB | Peristiwa | Umum | 
Mataram (ANTARA News) - Menteri Sosial, Salim Segaf Al Jufri, menyatakan bahwa 
anak terlantar di Indonesia yang usianya dibawah 18 tahun terus bertambah dan 
kini jumlahnya telah mencapai 5,4 juta orang.

"Tingkat pertumbuhan anak-anak terlantar itu jelas tidak sehat karena tidak di 
rumah, dan kurang mendapat perlindungan seperti akses belajar, kesehatan dan 
lain-lain," kata Salim Segaf dalam pertemuan silaturahmi di Pondok Pesantren 
Nurul Hakim, Kediri, Kabupaten Lombok Barat, Minggu. 

Ia mengatakan, dari 5,4 juta anak terlantar itu, sebanyak 232 ribu diantaranya 
merupakan anak jalanan yang terbagi atas tiga kelompok yakni kelompok anak-anak 
yang seluruh hidupnya di jalan, kelompok anak yang 4-5 jam di jalanan, dan 
kelompok anak yang mendekati jalanan.

"Khusus di Jakarta, jumlah anak jalanan telah mencapai 12 ribu orang, sesuai 
hasil pendataan dinas sosial setempat, kalau di daerah lain seperti NTB juga 
cukup banyak tapi saya tidak ingat datanya," ujarnya.

Mensos Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II itu juga mengungkapkan jumlah 
penyandang cacat di Indonesia yang telah mencapai 1,6 juta orang, termasuk 
penyandang cacat berat (kesulitan bergerak) mencapai 163 ribu orang.

Dari 163 ribu penyandang cacat berat itu, baru 17 ribu orang yang mendapat 
santunan dari pemerintah berupa uang tunai sebesar Rp300 ribu/bulan yang 
diterima melalui PT Posindo.

Selain itu, jumlah lansia terlantar usia 60-80 tahun di Indonesia saat ini 
telah mencapai 1,7 juta jiwa, dan baru sekitar 10 ribu orang diantaranya yang 
mendapat santuan sebesar Rp300 ribu/bulan, juga melalui PT Posindo.

"Jadi, belum banyak yang kita berikan santuan terkait keterbatasan anggaran 
namun akan terus diupayakan untuk meningkatkannya," ujarnya.

Pendiri Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu juga menyebut jumlah penduduk 
Indonesia yang belum memiliki rumah layak huni masih mencapai 2,3 juta keluarga.

"Penduduk yang belum memiliki rumah layak huni itu, termasuk yang tinggal 
diatas pohon seperti di Irian Jaya (Papua), dan beberapa provinsi yang pernah 
saya kunjungi," ujarnya.

Demikian pula, jumlah Komunitas Atas Terpencil (KAT) di berbagai daerah di 
Indonesia yang jumlahnya mencapai 225 ribu keluarga, termasuk yang ada di 
wilayah NTB.

Menurut Salim Segaf, secara keseluruhan, pemberdayaan KAT di Indonesia baru 
sekitar 31,2 persen sehingga masih sekitar 68,8 persen yang belum diberdayakan. 

"Semuanya itu jumlahnya cukup signifikan, termasuk wanita yang mempunyai 
permasalahan ekonomi, sosial, juga cukup banyak, jumlahnya jutaan orang," 
ujarnya.

Untuk menyelesaikan berbagai permasalahan sosial itu, menurut Salim Segaf, 
harus ada keterpaduan antara pemerintah dengan lembaga kemasyarakatan serta 
kesadaran berbagai komponen masyarakat.

"Kalau setiap orang membantu seorang saja untuk keluar dari permasalahan sosial 
itu, maka masalahnya akan selesai, itu yang diharapkan pemerintah demi 
peningkatan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
(T. ANT/P003)

Kirim email ke