Meskipun Pahit Obama Belajar Dari Nostalgia
                                         
Kehidupan sebagai umat Islam sangat pahit, mencurigai sesama, mengkafirkan 
sesama, mencari akal mencelakakan sesama, menuduh kafir sesama terutama bila 
tidak ada kambing hitam bukan sesama.  Isteri ibarat budak suami, anak 
perempuan diperlakukan bukan sebagai anaknya tetapi sebagai bencana cobaan dari 
Allah, bahkan pembantu diperlakukan sebagai budak.  Namun tradisi bangsa ini 
banyak mencegah dan menahan segala pengaruh buruk Islam ini yang oleh Obama 
kemudian dianggapnya sebagai model "Islam Moderat".


> Wal Suparmo <wal.supa...@...> wrote:
> Obama sama sekali tidak ingin
> bernostalia di Indoneia, karena
> masa hidupnya di Indonesia adalah
> yang paling PAHIT.Boleh dikatakan
> ia  diterlantarkan ibunya yang
> lebih banyak berada di  Yogya untuk
> uruan reseach dan studi, dengan ayah
> tiri yang kurang perhatian sehingga
> ia terpaksa minta makan kepada tetangga.


Betul, Obama merasakan pahitnya hidup hanya sewaktu berada di Indonesia.  Bukan 
karena sengaja ibu beliau melakukannya tapi memang lingkungan Islamiah 
begitulah yang biasa menekan kaum wanita termasuk isteri.  Tetapi secara 
batiniah dan nuraniah, Obama tidak membenci ibunya, dan juga ibunya selalu 
mengasihi dan mengenang anak2nya dan hal ini terbukti akhirnya dia menceraikan 
sang suami yang tidak konsekuen karena tekanan dari lingkungannya sehingga 
isterinya yang keturunan asing harus menderita akibat ketidak tegasan sang 
suami.

Obama mulanya sekolah di sekolah Katolik selama 4 tahun, tapi akibat tekanan 
lingkungan Islamiah dia terpaksa dipindahkan ke sekolah yang Islami di Menteng, 
dan disinilah Obama mempelajari berbagai keburukan dan kejahatan2 ajaran Islam 
sehingga dia terpaksa meminta ibunya mengirim dia balik ke Hawai dimana 
kemudian careernya meroket.

Belajar dari pahit tetap menjadi Nostalgia, karena semua nostalgia hanyalah 
kenangan baik itu manis maupun itu pahit.  Tapi memang hal2 yang pahit lebih 
mendorong seseorang untuk lebih maju berpikirnya dan hal itulah yang kemudian 
Obama kemudian lebih aktif di kelompok1 Kristen yang cuma mengabdikan kepada 
kesejahteraan umat manusia tanpa membedakan agamanya seperti yang dialaminya di 
Indonesia.

Kalo saja Obama bisa mempengaruhi pemerintah untuk memberi kesejahteraan kepada 
rakyatnya tanpa membedakan agamanya, tentu lebih berfaedah bagi bangsa ini, 
tapi kalo cuma mengundang beliau untuk menekankan agar dia membela kejahatan2 
Islam di Gaza dan memusuhi Israel, maka jawabannya sudah direalese ke media 
Internasional bahwa "Israel tetap Sekutu terdekat Amerika".

Jadi sadar atau tidak sadar, pernyataan resmi Amerika tentang "Israel Sekutu 
Amerika" sebenarnya juga ditujukan kepada niat Indonesia untuk memaksa tekanan 
kepada Israel tanpa alasan yang bisa diperdebatkan selain hanya keimanan Islam 
saja.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke