Tuhan Yang Enggak Bisa Dipersepsi Disebut "Tidak Ada"
                                                
Persepsi bisa bias, oleh karena itulah diciptakan banyak metode agar persepsi 
itu tidak bias.  Salah satu cara yang paling umum adalah membuang pengaruh 
kepercayaan yang bisa menipu persepsi.  Metode2 lainnya bersifat analitis, 
kritis, rasional dan logis.  Untuk lebih mengoreksi persepsi ini, bisa ditambah 
dengan bantuan alat2 teknologi.  Seperti contohnya gelombang radio enggak bisa 
kita persepsi, maka agar bisa mempersepsinya kita gunakan alat bantu yang 
disebut Oscilloscope.

Fakta itu adalah realitas, kepercayaan itu subjectivitas karena asalnya dari 
angan2, jadi jangan dipelintir sekedar untuk membenarkan hal2 yang tidak benar.

Mau pelintir main paksa bener sendiri dengan memelintir arti kata tak akan 
membuat anda jadi benar.  Memang kelihatannya berhasil menipu mereka yang 
rendah kemampuan analisisnya dan rendah daya berpikir kritisnya.

Tapi apalah artinya kalo orang2 yang kelas rendah kemampuan berpikir kritisnya 
ini bisa anda pengaruhi untuk berpihak, karena mereka sampai kapan pun tidak 
akan mampu menjadi orang atau pejabat yang berpengaruh.

Contohnya, Amerika itu sekarang negara superpower karena rakyat dan pejabatnya 
memang betul2 dilatih berpikir kritis tidak akan bisa dipengaruhi kebohongan 
akal2an agar bisa berpihak kepada apa yang anda percaya itu.  Hasilnya, kubu 
"war on terror" dan korban bejatuhan tidak terkira jumlahnya.  Amerika tidak 
perlu memeranginya sendiri, sesama muslim itu lah saling membunuh karena 
mayoritas muslim didunia, mayoritas muslim yang berpendidikan, dan mayoritas 
muslim yang kaya semuanya berpihak kepada Amerika bukan kepada ulama2 yang 
rajin membohongi umatnya.  Lihatlah, apa hasil kelompok tukang pelintir ini 
dalam mempengaruhi UN ???  Nol ya....  Israel tetap superior karena memang 
enggak bisa dibohongi.


> Kesayangan Allah <kesayangan.al...@...> wrote:
> "Tuhan ada maupun Tuhan tidak ada,
> keduanya sama subjektifnya dan sama-sama
> juga bukan realitas."
> 

Enggak begitu artinya subjectif dan realitas.
Kalo realitas itu adalah persepsi yang bebas dari pengaruh kepercayaan dan 
subjectivitas, artinya kalo anda lihat kapal terbang, maka yang lainpun juga 
bisa lihat kapal terbang yang sama..

Lain lagi kalo subjectif, anda percaya ada Tuhan tapi enggak ada orang lain 
yang bisa mempersepsinya, maka hal itulah yang dinamakan subjectivitas.  Orang 
yang bisa mempersepsi Tuhan itu hanyalah orang yang percaya sedangkan yang 
tidak percaya tidak bisa mempersepsinya.

Kalo realitas itu, anda percaya atau tidak percaya, persepsinya tetap sama 
tidak berobah.

Jadi kalo anda bilang ada Tuhan...  itu bukan realitas tapi subjectivitas 
karena anda percaya.

Kalo anda bilang enggak ada Tuhan, maka itu realitas karena memang enggak bisa 
dipersepsi secara netral bebas dari kepercayaan.

Inilah yang selalu diplesetkan oleh umumnya ulama2 Islam agar kelihatannya 
se-olah2 mereka benar padahal mereka sebenarnya menipu, mem-bolak balik.  Hal2 
kayak begini hanya ampuh dilakukan kepada mereka yang rendah rasionalitas 
logikanya dan tidak bisa mengakali mereka yang tinggi tingkatan nalarnya.

Ny. Muslim binti Muskitawati.





Kirim email ke