http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=showpage&kat=7

Rabu, 07 April 2010 ] 

Kaderisasi di PDIP Mandek 

Oleh Ardi Winangun


KRITIK pers terhadap nepotisme dan perebutan jabatan dalam keluarga Soekarno di 
tubuh PDIP membuat Ketua Umum PDIP Megawati merasa jengkel. Kejengkelan 
Megawati terhadap pers akhirnya memuncak dan mengatakan bahwa media kadang 
terlalu resek.

Pers memaparkan, menjelang Kongres III PDIP di Bali, 6-9 April 2010, anak 
Megawati, Prananda Prabowo dan Puan Maharani, saling berebut posisi penting 
untuk kepengurusan PDIP 2010-2015. Akibatnya, disebut ada perpecahan di 
keluarga Soekarno. Berita seperti itulah yang tidak disukai Mega.

Karena tidak mau disebut nepotisme, Mega pun menyatakan anak dan keluarga 
politikus senior PDIP seperti Mangara Siahaan, Jacob Nuwawea, Panda Nababan, 
Sabam Sirait, dan Adang Ruchiatna juga banyak aktif di partai berlambang 
banteng moncong putih itu.

Kritik pers terhadap PDIP dan Megawati tersebut benar adanya. Karena adanya 
nepotisme, kaderisasi di tubuh PDIP menjadi mandek dan bergerak hanya pada trah 
Soekarno. Mandeknya kaderisasi itulah yang membuat Megawati menjadi ketua umum 
''seumur hidup''.

Pada kongres III, Megawati merupakan satu-satunya calon ketua umum. Hal itu 
berdasar pernyataan Ketua Panitia Kongres III PDIP Puan Maharani yang 
menyatakan, dari 33 DPD PDIP seluruh Indonesia, semua mengerucut akan kembali 
memilih Megawati sebagai ketua umum. Sementara itu, suara Guruh Soekarnoputra 
yang disebut akan maju sebagai calon ketua umum tidak cukup berarti. Dia hanya 
didukung empat DPC di antara 495 DPC. Jadi, kongres ''sudah selesai'' sebelum 
dibuka. 

Apa hebatnya Mega, sehingga dijadikan ketua umum ''seumur hidup''? Dia hebat, 
yang jelas, karena anak kandung Presiden Soekarno. Kemudian, semasa Orde Baru, 
Megawati merupakan simbol kelompok tertindas dan perlawanan. Peristiwa 27 Juli 
1996 semakin meningkatkan popularitas Mega. 

Popularitas Mega itulah yang mendongkrak PDIP dalam Pemilu 1999. Karena itu, 
dalam pemilu yang pertama pasca-Orde Baru tersebut, PDIP menjadi partai yang 
memperoleh suara paling banyak di antara 48 peserta pemilu. 

Meski hebat, sebenarnya Mega tidak pernah dipilih rakyat menjadi presiden. Dia 
menjadi presiden hanya karena perubahan dukungan DPR dan MPR dari Presiden 
Abdurrahman Wahid kepada Mega. Dalam Sidang Umum MPR 1999, meski PDIP menjadi 
partai pemenang, UUD 1945 masih mengamanatkan presiden dipilih oleh MPR. Karena 
itu, kemenangan PDIP saat itu bukan jaminan bahwa Mega secara otomatis menjadi 
presiden. 

Dalam Sidang Umum MPR 1999, Abdurrahman Wahid memenangi pemilihan tersebut. 
Pria yang akrab dipanggil Gus Dur itu memperoleh 373 suara, sedangkan Megawati 
hanya 313 suara. MPR yang saat itu merupakan representasi rakyat menunjukkan 
bahwa rakyat tidak memilih Megawati. 

Dirasa tidak adil, UUD 1945 pun diamandemen. Salah satu hasil amandemen itu 
menyatakan adanya pemilihan presiden (pilpres). Meski presiden dipilih secara 
langsung, Mega belum pernah membuktikan bahwa dirinya adalah pilihan rakyat. 
Buktinya, pada Pilpres 2004, dia kalah oleh pasangan Susilo Bambang 
Yudhoyono-Jusuf kalla. 

Pun demikian, dalam Pilpres 2009, Megawati yang berpasangan dengan Prabowo 
Subianto mengalami nasib serupa seperti pada Pilpres 2004. Yakni, kalah oleh 
Susilo Bambang Yudhoyono yang berpasangan dengan Boediono. Berdasar laporan KPU 
pada 25 April 2009, Megawati-Prabowo memperoleh 32.548.105 suara (26,79 
persen), sedangkan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono mampu meraih 73.874.562 
suara (60,80 persen). 

Dalam Pilpres 2009, yang perlu dicatat, suara Megawati semakin menurun dan 
suara Susilo Bambang Yudhoyono semakin naik daripada Pilpres 2004. Selain dari 
perolehan suara, hal tersebut juga terukur dari putaran pilpres. Pada Pilpres 
2004 yang berlangsung dua putaran, Mega-Hasyim Muzadi berhak bersaing kembali 
dengan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Pilpres 2009 hanya terjadi sekali 
putaran yang langsung memenangkan SBY-Boediono. 

Tidak hanya dalam pilpres Mega selalu kalah, dalam pemilu legislatif pun 
demikian. Peringkat PDIP dari pemilu ke pemilu semakin menurun. Pada Pemilu 
1999 berada di top ranking, pada Pemilu 2004 di bawah Partai Golkar, dan pada 
Pemilu 2009 di bawah Partai Demokrat serta Partai Golkar. 

Data dan fakta tersebut seharusnya bisa dijadikan catatan dan mendinamisasi 
tubuh PDIP. Sosok Mega yang ternyata tidak mampu mengantarkan PDIP sebagai 
partai penguasa seharusnya dipertimbangkan seluruh anggota PDIP dalam kongres 
III ini. Seiring perjalanan waktu, pasti popularitas Megawati akan semakin 
menurun. Dengan semakin hilangnya ingatan Peristiwa 27 Juli dan meningkatnya 
pemilih dari kalangan muda, tentu sosok Megawati akan semakin dipertanyakan. 

Masih mayoritasnya desakan untuk mencalonkan Megawati menjadi ketua umum untuk 
periode mendatang ini menunjukkan minimnya demokratisasi di tubuh PDIP. 
Buktinya, ketika Guruh Soekarnoputra hendak mencalonkan diri, berbagai upaya 
dilakukan agar keinginan putra Soekarno itu terpotong. Semua baliho Guruh di 
arena kongres diturunkan. 

Dominasi di PDIP adalah kultus individu Megawati. Munculnya kultus individu 
Megawati bisa jadi karena masih kuatnya karisma Soekarno. Kultus individu 
itulah yang mengakibatkan apa yang dikatakan Megawati harus dilaksanakan. Meski 
banyak elite politik di PDIP seperti Taufik Kiemas, Tjahjo Kumolo, dan Pramono 
Anung yang menginginkan berkoalisi, kalau Megawati menginginkan tetap 
beroposisi, arah PDIP pasti akan menurut kata Megawati. Kultus individu itu 
muncul biasanya pada partai-partai yang bersifat feodal dan tradisional. Mereka 
hidup dan mati hanya bergantung pada karisma seseorang. 

Dari paparan tersebut, rasanya tidak salah bila disimpulkan ada nepotisme di 
tubuh PDIP. (*) 

*). Ardi Winangun, pengamat politik dan pengurus Presidium Nasional Masika ICMI 

Kirim email ke