Gus Dur dengan Forum Demokrasi menjadi Inspirasi bagi Pergerakan dan
Perjuangan Fitra Jaya Calon Independent Untuk Surabaya ONE
Gus
Dur
dengan Forum Demokrasinya menjadi Inspirasi bagi Pergerakan dan
Perjuangan Fitra Jaya Purnama, Berawal dari Aktifis Pro Demokrasi Era
'90-an,
menjadikan Fitra seorang Gus DURian, lewat jalur INDEPENDENT untuk
memenangkan Rakyat Surabaya
dalam Pemilihan Walikota Surabaya, Fitra Jaya Purnama berani menerima
Tantangan dari Komunitas KAS (Konsolidasi Arek Suroboyo) untuk di Calonkan
menjadi Walikota Surabaya berdampingan dengan Naen.Gus Dur bagi Fitra Jaya
adalah
sebagai sosok seorang Guru sekaligus Kawan Dialog. Banyak Pemikiran-Pemikiran
serta
Gagasan-Gagasan Gus Dur tentang Negara, tentang Bangsa, tentang
Masyarakat, tentang Agama, oleh Fitra Jaya diJadikan Nafas dan Roh
dalam Pergerakan dan Perjuangan untuk Bangsa, untuk Negara, untuk
Masyarakat
Untuk diketahui pada Tahun 1990, Gus Dur bersama sejumlah tokoh prodemokrasi
seperti
Marsillam Simanjuntak dan Bondan Gunawan mendirikan Forum Demokrasi
yang didukung oleh sejumlah nama beken. Ada cendekiawan muslim, ada
pastor, ada pakar hukum, ada wartawan, ada ilmuwan, ada aktivis politik
penanda tangan Petisi 50, dan bahkan ada juga pegawai negerinya, Fordem
kemudian memainkan peran penting sebagai pusat alternatif saluran
politik rakyat di samping partai politik. Fordem juga berperan
signifikan sebagai representasi kaum intelektual prodemokrasi yang
menolak upaya penguatan sektarianisme agama dan golongan. Saat itu, Gus
Dur yang menjadi tumpuan gerakan prodemokrasi, menjadi ancaman serius
bagi pihak penguasa (pemerintah).
Lolosnya
Fitrajaya dan Naen sebagai Calon Tetap Walikota Surabaya, membuat Fitra
Jaya dijadikan tumpuan harapan bagi aktivis Pro Demokrasi, aktivis
Forum Demokrasi, kelompok2x Gus DURian, untuk memenangkan Rakyat
Surabaya, memenangkan Demokrasi, memenangkan Keadilan dalam Pemilihan
Walikota Surabaya, ini terbukti dengan banyaknya aktivis Pro Demokrasi,
aktivis ForDem yang mulai berdatangan untuk mendukung Fitra Jaya dari
mulai Fadjrulrachman, WARDAH HAFIDZ pendiri Urban Poor Consortium
(UPC), Bondan Gunawan dan banyak lainnya yang dengan Ikhlas dan
Sukarela mendatangi sekretariat Sekretariat Bersama Konsolidasi
Demokrasi di Jalan Menanggal I Komplek Peni No. 46 Surabaya, dan bahkan
ada dari mereka yg menyediakan diri untuk tinggal di surabaya sampai
Pilkada Kota Surabaya usai.
Sebagai seorang Aktivis Pro Dem dan
seorang Gus DURian, Fitra Jaya juga berusaha menapak perjuangan Para
Pejuang dan Pahlawan Kota Surabaya terutama dalam perang 10 November
1945, bagi Fitra Jaya Peran Para Kyai Ndoresmo seperti Sayyid Ali Akbar, dan
putranya Sayyid Ali Ashghor cukuplah signifikan dikala itu, dan terutama Rois
Akbar NU Hadrotus Syekh KH.
Hasyim Asy’ary mendeklarasikanlah perang kemerdekaan sebagai perang suci
alias jihad. Belakangan deklarasi ini populer dengan istilah Resolusi
Jihad (dalam pidatonya, Mbah Hasyim Asy’ari kembali menggelorakan semangat
jihad di hadapan para peserta muktamar. untuk disebarkan kepada seluruh
warga pesantren dan umat Islam. Syariat Islam menurut Mbah Hasyim tidak
akan bisa dijalankan di negeri yang terjajah. ”…tidak akan tercapai
kemuliaan Islam dan kebangkitan syariatnya di dalam
negeri-negeri jajahan.” Kaum penjajah datang kembali dengan membawa
persenjataan dan tipu muslihat yang lebih canggih lagi. Umat Islam
harus menjadi pemberani. Apakah ada dari kita orang yang suka ketinggalan,
tidak turut
berjuang pada waktu-waktu ini, dan kemudian ia mengalami keadaan
sebagaimana yang disebutkan Allah ketika memberi sifat kepada kaum
munafik yang tidak suka ikut berjuang bersama rasulullah……Demikianlah, maka
sesungguhnya pendirian umat adalah bulat untuk
mempertahankan kemerdekaan dan membela kedaulatannya dengan segala
kekuatan dan kesanggupan yang ada pada mereka, tidak akan surut seujung
rambut pun.
Barang siapa memihak kepada kaum penjajah dan condong kepada mereka,
maka berarti memecah kebulatan umat dan mengacau barisannya….. maka barang
siapa yang memecah pendirian umat yang sudah bulat,
pancunglah leher mereka dengan pedang siapa pun orangnya itu…..), begitu juga
peran dari ulama kharismatik asal Buntet Pesantren, Kabupaten Cirebon, yakni
almarhum KH Abbas Abdul Jamil,KH Munasir Ali, KH Yusuf Hasyim, KH Baidowi, KH
Mukhlas Rowi, dan KH Sulanam Samsun. dan lain-lain. Penapakan ini penting
sekali bagi Fitra Jaya sebagai upaya mendapat bekal ilmu untuk memenangkan
Rakyat Surabaya dalam menghadapi jaman.
Pemikir Strategis, Pejuang Kerakyatan
Namanya
sudah cukup dikenal dikalangan aktivis kampus. Dia memang ikon
pergerakan tahun 1998. Pemikir strategis aksi yang berhasil mengakhiri
kekuasaan 32 tahun Orde Baru. Kepiawaiannya sebagai pemikir strategis
yang mendorong orang melakukan sesuatu, selalu muncul dari tuturan
kata-kata gaya khas Jawa Timuran. Setiap kali berbicara menunjukkan
etos perjuangan yang luar biasa. Sikap ini sudah muncul sejak dia belum
dewasa dan masih duduk dibangku sekolah.
Fitradjaja Purnama, begitulah nama pria kelahiran 39 tahun silam
ini. Saat ini, secara konstitusi dituntut rakyat untuk maju dalam
pencalonan Walikota Surabaya masa periode 2010 – 2015. Melalui wadah
bernama Konsolidasi Arek Suroboyo (KAS), nama Fitradjaja Purnama
menyingkirkan bakal calon lainnya. Bola salju pencalonan pun bergulir.
Fitra benar-benar calon Walikota Surabaya dari non partai atau istilah
lain independen. Sebagaimana dilansir media-media di Jawa Timur, KAS
berhasil mengumpulkan 90.030 Kartu Tanda Penduduk (KTP). Merupakan
kerja luar bisa.
Padahal minimal terkumpul dukungan 88.090 KTP atau 3 persen, dari
penduduk Kota Surabaya yang mencapai 2,936 juta jiwa tidaklah mudah.
Ternyata semua itu bisa dibuktikan. Sebelumnya banyak yang menduga,
Fitra bakal gagal mencalonkan. Mengingat tidak sedikit biaya yang harus
dikeluarkan dan dia sendiri tidak mampu membiayai cost perjalanan
politik ini. Namun hanya bermodalkan Rp 400 juta, Fitra dan kawan-kawan
KAS mampu membuat sejarah babak baru pemilihan Walikota Surabaya.
Alumnus Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) ini, harus
kembali melakukan perlawanan. Hanya saja perlawanan yang dia lakukan
kali ini, beda dengan melakukan perlawanan terhadap rezim Orde Baru
tempo dulu. Dulu Fitra melawan sistem otoriter yang ada. Sekarang
perlawanan itu secara head to head, melawan figur yang ingin berkuasa.
Sementara Fitra ingin menguasakan rakyat pada posisi formil.
“Saat ini, kita, orang-orang yang mengharapkan keadaan yang lebih
baik, sedang berada pada situasi krusial. Kita berada pada momentum
perubahan! Anak-anak muda, garda depan perubahan Indonesia, telah
mencapai hasil nyata, berada di tengah kancah pergulatan politik
nasional yang menentukan. Merebut Indonesia kembali ke tangan kita atau
tuntas lepas ke tangan asing, “kata pendiri Senat Mahasiswa ITS ini.
Tentang Kota Surabaya
Bicara tentang Kota Surabaya, Fitra memimpikan tak lagi terbebani
pertambahan penduduk. Pertambahan penduduk dengan angka tingggi, akan
membebani perluasan kawasan hunian. Menurutnya, kawasan hunian dan
produktivitas lebih baik keluar ke kawasan kabupaten satelit. Seperti
ke Gersik, Bangkalan, Mojokerto, Lamongan dan Sidoarjo.
Sehingga penataan kota sebagai kawasan dalam akan lebih mudah.
Kebutuhan pokok warga akan terpenuhi dan bisa hidup layak. “Tanpa harus
ada diskriminasi. Kebutuhan sembako, pelayanan publik, fasilitas umum,
ruang terbuka dapat dinikmati bersama-sama. Dimana posisi strategis
pelabuhan Surabaya dikawan timur Indonesia. bisa difungsikan secara
maksimal, “urainya.
Untuk melakukan langkah tersebut, Fitra mempunyai konsep lingkungan
papan atas tak boleh kumuh, sanitasi terkelola detil dan modern.
Sekalipun itu dikampung-kampung. Kaki lima ditata dan diberi fasilitas
serta kesempatan. Karena mereka sumber kuatnya perekonomian kota.
“Terutama pasar-pasar tradisional harus dipercantik, supaya dapat
bersaing dan menjadi obyek pariwisata, “tandas Komisaris di Guci Media
ini. “Ditambah sektor produksi tak boleh mati. Mereka harus
dibangkitkan lagi”katanya menambahkan.
Fitra yakin semua itu bisa dilakukan. Karena Kota Surabaya mempunyai
potensi-potensi dari sisi pendidikan. Perguruan tinggi di Kota Surabaya
ini juga banyak yang berkualitas. “Maka yang paling penting perguruan
tinggi harus digenjot secara radikal. Sehingga melahirkan
sarjana-sarjana progresif yang pro rakyat, melawan kapitalistik. Nah,
dari sinilah peradaban Indonesia baru benar-benar terbukti. Tentu
dengan perubahan itu dimulai dari kampung-kampung, “harapnya.
Kedepan Fitra tentu mempunyai harapan kepada warga Kota Surabaya.
Dia meminta warga kota harus mempunyai kepercayaan diri, untuk sejajar
dengan warga kota dunia. Berpikir lebih terbuka, maju dan berkembang.
Warga kota perlu dibangun berbagai demensi politik, ekonomi, sosial dan
budaya. “Sisa-sisa feodalisme dan kolonialisme yang membelenggu harus
dihilangkan. Sifat hidup yang cenderung konsumeris dan tidak mengekor
harus dikembalikan menjadi jati diri warga Kota Surabaya, “pinta
aktivis Front Aksi Mahasiswa Indonesia ini.
Rekam Jejak
Fitradjaja Purnama, lahir di Banyuwangi-Jawa Timur, 26 Nopember
1970. Pendidikan ditempuh baik formal maupun non formal. Terakhir di
Fakultas Teknik Mesin, Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya.
Dikampus waktunya banyak dihabiskan pada kegiatan-kegiatan ekstra
kampus yang sifatnya pada pembelaan kaum tertindas.
Bapak dua anak ini yang membidani beberapa organisasi kampus di ITS.
Sehingga ITS dikenal sebagai kampus “sangar” oleh masyarakat pada waktu
itu. Karena sebelumnya ITS terkenal sebagai kampus yang hanya berkutat
pada disiplin ilmu. Tahun 1993, pendiri Senat Mahasiswa ITS, Aktivis
Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya (FKMS), 1993-1997. Waktunya juga
dihabiskan pada Aktivis Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI),
1993-1995.
Diluar kampus sebagai Organizer Pendiri Arek Suroboyo Pro Reformasi
(ASPR), 1998 dan Ketua Dewan Pendiri Yayasan Cakrawala Timur,
2000-2002. Selain itu juga, Ketua Dewan Pendiri Yayasan Blimbing, 2003
sampai sekarang dan Ketua Sekretaris Bersama Konsolidasi Demokrasi,
2003 sampai sekarang.
Dalam pekerjaan pekerjaan, selama ini dia sebagai Komisaris di Guci
Media (Grup Penerbitan dan Periklanan) dan President Associate di
Presisi (Management Consultant).
Perspektif Kepemimpinan
Sejak kecil saya menyukai etos perjuangan dan mengagumi
perlawanan terhadap ketidakadilan.
Nilai-nilai yang mendasarinya tertanam di benak saya dan keluar sebagai
sikap hidup yang saya jalani baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Rangkaian protes menjadi bagian dari perjalanan hidup saya terhadap
hal-hal yang tidak seharusnya. Saya melakukannya sendiri maupun
mengajak teman-teman terdekat dan terus berupaya mempengaruhi
orang-orang yang saya temui. Saya menyadari ada yang tidak beres pada
negara yang saya cintai dan saya selalu menyampaikannya kepada orang
lain. Saat lulus sekolah, saya berniat kuliah juga dengan alasan
memperluas kesempatan mengajak orang untuk (berbuat) bersama-sama
merubah keadaan.
Saat mahasiswa saya menyadari bahwa politik adalah jalan yang harus
saya tempuh untuk mencapai maksud-maksud saya secara umum, dalam rangka
mengubah keadaan. Saya menjalaninya secara ilmiah dengan terus
mempertahankan subyektivitas yang saya yakini. Saya menghimpun, menata
dan merangkai kekuatan-kekuatan positif yang tentunya sesuai dengan
subyektivitas saya, dan saya terus berupaya memperbesarnya. Saya
melakukannya di setiap tingkat dan lapisan, di setiap ruang perjuangan
yang saya temui. Saya percaya bahwa problem yang saya hadapi sangat
mendasar dan harus diselesaikan secara mendasar pula. Skalanya
nasional.
Besertaan dengan pandangan dan sikap politik saya, saya mendapati
bahwa saya tidak sendiri, ada banyak sejawat yang melakukan hal
serupa.Karenanya, dalam upaya menghimpun, menata dan merangkai saya
banyak memperoleh kemudahan. Saya terlibat dan menjadi bagian dari
kebersamaan orang-orang yang berpengharapan dan diharapkan dalam
perubahan. Kami bergerak dan membangun bersama untuk mencapai
Perubahan Indonesia.
Saat ini, kita, orang-orang yang mengharapkan keadaan yang lebih
baik, sedang berada pada situasi krusial. Kita berada pada momentum
perubahan! Anak-anak muda, garda depan Perubahan Indonesia, telah
mencapai hasil nyata, berada di tengah kancah pergulatan politik
nasional yang menentukan: merebut Indonesia kembali ke tangan kita atau
tuntas lepas ke tangan asing!
Kancah pergulatan itu tentu tak timbul dalam bilangan waktu sesaat,
melainkan akan terus berlangsung sampai matang. Tapi, saat matangnya
sudah ada di depan mata, dan kita akan memetik hasil. Saya
hampir selalu berada paling depan dalam momentum perlawanan, juga dalam
upaya penggalangan kekuatan, termasuk pada skala nasional. Posisi
politik kaum muda yang sekarang ini bagus secara riil, sudah saatnya
diwujudkan dalam rupa formil. Rekan-rekan sekitar tahu bahwa saya
adalah orang yang memosisikan diri untuk memformilkan kekuatan riil
yang kita miliki, baik organisasi, partai politik maupun bentuk-bentuk
kekuasaan lainnya.
Secara nasional kita kalah pada posisi formil ini, tapi memiliki
peluang sangat bagus untuk merebut di daerah-daerah. Saya mendorong
rekan-rekan seluruh Indonesia untuk merealisasikannya di daerah-daerah
yang memungkinkan, karena tahapan ini pun musti dilakukan secara
serentak.
Saya memiliki tempat yang signifikan pada konstelasi politik di
Surabaya, dan akan mengambil peran sebagai walikota disini. Jalurnya,
independen. Dimana, saya, beserta beberapa kawan juga berada di garis
depan memperjuangkan diperbolehkannya independen ikut serta dalam
pemilihan kepala daerah di Indonesia, setelah saya tuntas mendampingi
partai-partai politik yang bebas lahir di era reformasi sesuai
cita-cita demokrasi saya.
(Bersama rekan-rekan Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya dan
Forum Komunikasi Mahasiswa Malang tahun 1993-1998) melakukan
pendampingan kepada Warga Desa Wedoroanom, Driyorejo, Gersik dalam hal
advokasi kasus tanah warga dan dalam hal pengorganisasian perlawanannya
terhadap Kodam V Brawijaya sebagai menyebab kasus.(2002 – sekarang)
melanjutkan pendampingan di atas dalam hal pengembangan ekonominya.(1995 –
1997) membangun sentra industri konfeksi di Benteng Dalam
Gg. I, Semampir, Surabaya. Sampai sekarang sentra tersebut masih
berjalan.(2002 – 2003) membangun sentra sablon di Nyamplungan Balokan,
Semampir, Surabaya. Sampai sekarang sentra tersebut masih berjalan dan
berkembang-berlanjut dengan industri konfeksi.(2002 – sekarang) melakukan
pendampingan pemuda Warga
Kelurahan Made, Sambikerep Surabaya, dalam hal pengorganisasian
masyarakat dan manajemen pengembangan masyarakat dan penguatan
ekonominya. Sejak 2003 berwujud yayasan dan pengembangan masyarakatnya
meluas ke sektor tenaga kerja, pertanian, koperasi dan wirausaha. Pada
yayasan ini saya selaku Ketua Dewan Pembina.(2004 – sekarang) melakukan
pendampingan kepada Warga
Jatirejo, Porong, Sidoarjo dalam hal advokasi dan pengorganisasian
perlawanan terhadap Lapindo Brantas Inc. selaku penyebab kasus. Tahun
2006 kasus meluas ke seluruh Porong, bahkan seluruh Sidoarjo Selatan
dan menjadi isu internasional karena menimbulkan seburan lumpur panas
yang menghebohkan. Saat ini warga dampingan yang bertahan bersisa 59
KK dan sedang melakukan upaya ekonomi.Melakukan banyak pendampingan
masyarakat baik advokasi,
pengorganisasian maupun pengembangan masyarakat di banyak tempat di
Jawa Timur.Terus melakukan kaderisasi aktivis sosial yang pada
kelanjutannya melakukan kerja-kerja sosial baik di Surabaya, Jawa
Timur, maupun berbagai daerah di tanah air.
Saya mengimpikan Surabaya tidak lagi dibebani pertambahan penduduk
dalam angka yang terlalu tinggi, kawasan huniannya dan produktivitasnya
meluas lebih cepat keluar, ke wilayah-wilayah kabupaten satelitnya.
Sehingga, penataan Surabaya sebagai ”kawasan dalam” akan lebih mudah.
Di Kawasan Dalam – Surabaya ini, penduduk/warganya dapat hidup lebih
layak dengan enam kebutuhan pokok (pangan, sandang, papan, kesehatan,
pendidikan, dan masa depan) yang tercukupi, lingkungan hidupnya sehat
dan nyaman, fasilitas umumnya menjangkau.
Lingkungan papan tak boleh kumuh, sanitasinya terkelola detil dan
modern, sekalipun itu di kampung-kampung. Kemacetan jangan bertambah
lagi, kalau perlu dihindari. Pengaturan jumlah kendaraan harus
dijalankan, demikian juga usia pakainya. Sebagai gantinya,
transportasi massal yang nyaman harus ada, juga transportasi umum di
kampung-kampung. Hijau tumbuhan harus dikembangkan, sehingga orang tak
jengah di jalan dan nyaman berkendaraan umum. Sungai utama bisa
dimanfaatkan sebagai sarana transportasi, lingkar luar jalan kota
direalisasi.
Jangan gampang-gampang membangun mal, salah arsiteksi menyebabkan
kemacetan, dan merugikan kelas bawah secara ekonomi. Pasar-pasar
tradisional harus mempercantik diri dan manajemenya rapi, supaya bisa
bersaing dan jadi pariwisata di satu sisi. Kaki lima diberi kesempatan
berdiri, dan difasilitasi berotasi tempat dengan jumlah dan hari yang
terawasi. Karena, mereka justru bikin kuat secara ekonomi.
Fasilitas umum, ruang terbuka, ruang publik harus bisa dinikmati
secara luas dan difungsikan tanpa diskriminasi. Demikian pula
pelayanan publiknya, dapat diakses semua golongan tanpa terkecuali.
Kebanggaan masyarakat sebagai warga kota harus terus timbul dengan
prestasi-prestasi dan karya nyatanya. Seni, sastra, olahraga, dan
berbagai bentuk kreasi dan pertunjukan harus tereksplorasi dan
terfasilitasi perkembangannya. Mental bersikap dan harga diri harus
tampak, keguyuban dan solidaritas terus tumbuh, kepemimpinan dan
karakter kerakyatan serta semangat kepahlawanan yang menjadi merk harus
terus tercermin. Dengan begitu masyarakat Surabaya yang berbudaya akan
benar-benar dapat dirasakan di dalam dan dapat dilihat dari luar.
Sehingga, niatan memelopori bangunan peradaban baru Indonesia dapat
benar-benar diwujudkan.
Sektor produksi atau industri tak boleh dibiarkan mati. Sekalipun
ini tak lepas dari kebijakan pemerintah di tingkat nasional, tapi di
tingkat kota harus jadi orientasi. Produksi dan industri harus jaya
kembali, bahkan meluas keluar, dengan Surabaya menjadi garda depan
perniagaannya.
Perdagangan dan industri harus menoleh jauh ke luar Surabaya, ke
arah timur. Posisi strategis pelabuhan Surabaya di kawasan timur harus
betul-betul berfungsi secara ekonomi sampai pada seluruh lapisan
masyarakat. Dengan begitu, ke barat kita bisa jadi kuat. Surabaya,
sebagai basis utama ekonomi Jawa, akan memimpin perdagangan Indonesia
keluar dengan memperkuat dua pintu masuk Indonesia di utara, Malaka dan
Maluku. Masyarakat ekonomi di Surabaya bisa membangun
kerjasama-kerjasama dengan Aceh di Pulau We atau Banda Aceh dan Batam,
juga dengan Tarakan, Nunukan dan Manado atau Ternate.
Semua itu memungkinkan karena kita memiliki potensi-potensi dari
sisi pendidikan dan perguruan tinggi yang berkualitas. Karenanya,
perguruan tinggi harus digenjot secara radikal, progresif, berorientasi
tidak kapitalistik, tapi sebaliknya pro rakyat. Masyarakat Surabaya
juga harus meningkatkan kepercayaan dirinya untuk berdiri sejajar
dengan masyarakat kota dunia. Berpikir lebih terbuka lagi, maju dan
berkembang. Tidak konsumeris, tidak mengekor, tapi produkfif dan
berada di depan.
Mewujudkan mimpi tersebut tak mungkin cukup dalam satu periode
jabatan walikota. Sebagai walikota periode 2010 – 2015, saya hanya
akan meletakkan dasar-dasar mental birokrasi dan sistem pemerintahnnya,
serta dasar-dasar mental masyarakat untuk lebih produktif. Fasenya,
sampai dasar-dasar tersebut secara manajerial bergulir. Manajemen
regular berjalan dan menggairahkan siapapun untuk terus menggunakan,
melanjutkan, dan mengembangkannya.
Bioadata Fitra Jaya Purnama:
* Alamat : Jl. Menanggal I, Komplek Peni No. 46,
Surabaya
* Tanggal Lahir : 26 Nopember 1970
* Kewarganegaraan : Indonesia
* Agama
: Islam
* Pendidikan Terakhir : Teknik Mesin ITS, Surabaya
* Organisasi :
1. Pendiri Senat Mahasiswa ITS, Surabaya, 1993;
2. Aktivis Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya
(FKMS), 1993 – 1997;
3. Aktivis Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI),
1993 – 1995;
4. Organizer Pendirian Arek Suroboyo Pro Reformasi
(ASPR), 1998;
5. Ketua Dewan Pendiri Yayasan Cakrawala Timur,
2000 – 2002;
6. Ketua Dewan Pendiri Yayasan Belimbing, 2003 –
sekarang;
7. Ketua Sekretariat Bersama Konsolidasi Demokrasi,
2003 – sekarang.
* Pekerjaan :
1. Komisaris di Guci Media (Grup Penerbitan dan
Periklanan).
2. President Associate di Presisi (Management
Consultant).
http://walikotarakyat.com